Ringkas. Jelas. Tegas.

Saya mulai serius memperhatikan cara media Indonesia berkomunikasi sejak sebuah berita bencana banjir di Kalimantan ditulis dengan kalimat "korban jiwa terus berjatuhan" — padahal angka resminya nol. Dari situ saya sadar: diksi bukan urusan sastrawan saja. Pilihan kata di headline sebuah portal berita bisa mengubah persepsi jutaan pembaca dalam hitungan detik, dan hampir tidak ada yang benar-benar mendebatnya di ruang publik. Redaksi Tegas lahir dari kegelisahan itu — keinginan untuk ngobrol jujur soal bagaimana opini dibentuk, disampaikan, dan ditelan mentah-mentah.
Di sini saya tidak menulis panduan baku atau daftar aturan. Saya lebih tertarik menelusuri detail kecil yang sering luput: kenapa kolom opini koran lokal Makassar punya karakter berbeda dari yang terbit di Jakarta, bagaimana retorika politisi daerah bergeser saat bicara di podcast versus di podium, atau kenapa pembaca Twitter Indonesia lebih mudah terprovokasi oleh framing angka daripada framing fakta. Kalau kamu juga penasaran dengan hal-hal semacam itu, kamu sudah di tempat yang pas.

Setiap kali seseorang mengeluh soal judul berita yang sensasional, reaksi paling umum adalah menyalahkan redaksi: malas, tidak etis, mengeja… Baca →

Kalau kamu pernah membaca kolom opini di koran cetak lokal — katakanlah Fajar di Makassar, Tribun Timur, atau Radar Malang — kamu mungkin me… Baca →

Hampir setiap politisi Indonesia yang ingin terlihat dekat dengan massa akan menyebut kata "rakyat" puluhan kali dalam satu pidato. "Untuk r… Baca →

Ada kalimat yang belakangan ini sering muncul di kolom opini, caption media sosial, hingga tajuk rencana portal berita: "Menurut data yang a… Baca →

Seorang jurnalis warga dari Toraja Utara pernah bercerita kepada saya betapa frustrasinya ia setelah tulisannya dimuat di sebuah portal beri… Baca →

Perhatikan baik-baik rekaman podcast politik Indonesia mana saja yang sedang populer. Bukan pada apa yang dikatakan, tapi pada siapa yang be… Baca →