Redaksi Tegas

Ringkas. Jelas. Tegas.

Gaya Bahasa Opini di Koran Cetak Daerah: Kenapa Masih Formal dan Apakah Itu Masalah?

Gaya Bahasa Opini di Koran Cetak Daerah: Kenapa Masih Formal dan Apakah Itu Masalah?

Kalau kamu pernah membaca kolom opini di koran cetak lokal — katakanlah Fajar di Makassar, Tribun Timur, atau Radar Malang — kamu mungkin merasakan perbedaan tekstur yang mencolok dibanding opini di media digital nasional. Kalimatnya lebih panjang. Paragrafnya lebih padat. Rujukannya lebih sering ke teori akademik atau tokoh filsafat. Dan hampir tidak ada yang menulis dengan kata "gue" atau memulai kalimat dengan "Jadi,".

Warisan Redaksi yang Lahir dari Tradisi Surat Kabar Cetak

Formalitas ini bukan kebetulan. Sebagian besar koran daerah yang masih bertahan punya sejarah panjang — banyak yang lahir di era Orde Baru ketika gaya penulisan "berwibawa" adalah syarat tidak tertulis untuk bisa terbit. Redaktur senior yang membentuk standar gaya di koran-koran ini belajar dari era di mana koran adalah satu-satunya medium opini publik yang dianggap serius. Warisan itu menetap.

Ada juga faktor pembaca. Penelitian kecil-kecilan yang pernah dilakukan komunitas jurnalis di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa pembaca kolom opini koran cetak di daerah cenderung lebih tua dan berlatar belakang pendidikan formal yang kuat — guru, PNS, pensiunan dosen. Mereka bukan hanya terbiasa dengan bahasa formal, mereka secara aktif menghargainya sebagai penanda kredibilitas. Penulis yang menggunakan bahasa terlalu kasual dianggap tidak serius.

Baca juga: Retorika "Rakyat" dalam Pidato Populis Indonesia: Siapa Sebenarnya yang Sedang Diajak Bicara?

Formal Bukan Berarti Kaku — Tapi Sering Memang Kaku

Masalah muncul ketika formalitas bukan lagi pilihan sadar tapi kebiasaan yang tidak diperiksa. Opini yang baik — formal atau kasual — harus bisa menyampaikan argumen dengan jelas dan meyakinkan. Tapi banyak kolom opini koran daerah yang saya baca terjebak pada ritual formalitas: membuka dengan definisi dari KBBI, menyitir dua atau tiga nama akademisi tanpa benar-benar mendiskusikan gagasan mereka, lalu menutup dengan kalimat normatif seperti "semua pihak diharapkan dapat bersinergi".

Ini bukan masalah gaya — ini masalah substansi yang bersembunyi di balik gaya. Formalitas menjadi tameng: selama kalimatnya terdengar ilmiah, tidak ada yang berani mengatakan argumennya lemah. Padahal pembaca yang kritis akan melihat bahwa banyak kolom opini daerah tidak punya satu pun klaim falsifiable — tidak ada yang bisa diuji, dibantah, atau dikonfirmasi.

Apakah Ini Perlu Diubah?

Pertanyaan yang lebih adil bukan "apakah gaya formal itu salah?" tapi "untuk siapa dan untuk tujuan apa opini itu ditulis?" Jika tujuannya adalah membangun diskursus intelektual di komunitas lokal yang memang menghargai bahasa akademik, maka tidak ada yang perlu diubah secara mendasar. Yang perlu dibenahi adalah keberanian substantif: berani membuat klaim yang tajam, berani mengkritik kebijakan pemda secara spesifik, berani tidak setuju dengan tokoh lokal yang populer.

Beberapa penulis opini muda di koran daerah mulai melakukan eksperimen menarik — mempertahankan struktur formal tapi menyuntikkan contoh konkret dari kehidupan sehari-hari, dari pasar tradisional, dari obrolan warung kopi. Hasilnya terasa lebih hidup tanpa kehilangan otoritas. Mungkin di situlah titik tengah yang sedang dicari-cari.

Artikel lainnya