Ringkas. Jelas. Tegas.

Siaran pers dari pemerintah daerah adalah genre teks yang paling sering diabaikan dalam diskusi literasi media. Padahal justru di sinilah bahasa eufemisme bekerja paling subur — jauh dari sorotan debat nasional, dalam jangkauan pembaca lokal yang tidak selalu punya akses ke versi lain dari cerita yang sama.
Ambil contoh konkret. Ketika sebuah proyek infrastruktur molor satu tahun dari jadwal, siaran pers dari Dinas Pekerjaan Umum kabupaten tertentu mungkin akan berbunyi: "Progres pekerjaan terus mengalami optimalisasi sesuai dinamika lapangan." Kalimat itu terdengar teknis dan profesional. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa tentang kenapa proyeknya terlambat, berapa biaya pembengkakan yang terjadi, atau siapa yang bertanggung jawab.
Setelah membaca ratusan siaran pers pemerintah daerah dari berbagai provinsi — sebagian besar dipublikasikan ulang tanpa penyuntingan oleh media lokal — ada beberapa pola frasa yang muncul dengan frekuensi mengkhawatirkan:
Masing-masing frasa ini tidak berbohong secara teknis. Tapi kolektif, mereka menciptakan kabut yang sangat efektif menutupi akuntabilitas.
Masalah bertambah rumit karena banyak media lokal — portal berita kabupaten, tabloid mingguan daerah, bahkan akun Instagram resmi pemda — menerbitkan ulang siaran pers ini nyaris tanpa perubahan. Ini bukan sepenuhnya salah mereka: di banyak daerah, wartawan lokal bekerja dengan gaji minim, akses narasumber terbatas, dan tekanan untuk menjaga hubungan baik dengan pemerintah daerah yang kadang juga merupakan sumber iklan utama mereka.
Hasilnya adalah siklus yang tertutup: pemda mengeluarkan narasi, media lokal menyiarkannya, pembaca menerimanya sebagai fakta. Tidak ada ruang untuk pertanyaan seperti "tunggu, maksud 'optimalisasi' ini konkretnya apa?"
Ada cara sederhana yang bisa dipraktikkan siapa pun — bukan hanya jurnalis — ketika membaca siaran pers pemerintah: cari apa yang tidak ada. Angka konkret tidak disebutkan? Tanyakan kenapa. Tenggat waktu tidak dicantumkan? Itu bukan kebetulan. Tidak ada nama pejabat yang bertanggung jawab atas suatu keputusan? Itu pilihan retoris, bukan kelalaian.
Bahasa eufemisme di siaran pers bukan selalu produk dari niat buruk yang terencana. Kadang ia lahir dari kebiasaan birokratis yang sudah mengakar — cara menulis yang terasa "aman" karena tidak menyebut siapapun secara spesifik dan tidak berjanji apapun secara konkret. Tapi niat di baliknya tidak mengubah efeknya pada pembaca: informasi yang terasa lengkap padahal berlubang di mana-mana.
Literasi media yang sesungguhnya bukan hanya soal mengenali berita palsu yang mencolok. Ia juga soal membaca teks resmi yang tampak kredibel dengan tingkat skeptisisme yang sama — dan menyadari bahwa kalimat yang paling halus kadang menyembunyikan yang paling banyak.