Connect with us

Regional

Perkuat Literasi Iklim, AJI Mandar Akan Gelar Webinar Untuk Masyarakat dan Jurnalis

Published

on

Webinar yang akan dilaksanakan AJI Kota Mandar, Kamis (18/5/2022).
alterntif text

MAMUJU — Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Mandar bakal menggelar webinar bertema “Dampak krisis iklim di Sulawesi Barat, misinformasi dan peran media”, Kamis besok (19/5/2022).

Seminar dalam jaringan (daring) ini menyasar kalangan jurnalis dan masyarakat umum. Tema tersebut akan dikupas tiga narasumber, yakni Kepala Stasiun Metereologi Kelas II Majene BMKG Sulawesi Barat, Agus ST, akademisi sekaligus peneliti Rahmat Idrus serta jurnalis senior yang kini menjabat Direktur Harian Sulbar Ekpress, Muhammad Ilham.

Ketua AJI Kota Mandar, Rahmat menjelaskan, kegiatan ini merupakan agenda nasional AJI Indonesia untuk merespon kondisi dan literasi iklim saat ini.

Menurutnya, pemanasan global itu nyata, membuat bumi mendekati ambang batas untuk mendukung kehidupan manusia.

“Suhu sudah menjadi semakin panas, bencana banyak terjadi, permukaan laut terus meninggi, dan biaya untuk tetap tinggal menjadi terlalu mahal sehingga jika dibiarkan terus menerus bakal memicu migrasi besar-besaran,” ucap Rahmat, Rabu (18/5/2022).

Saat ini, lanjutnya, sebagian masyarakat belum sepenuhnya paham mengenai perubahan iklim. Bahkan secara umum di Indonesia saja menempati peringkat pertama yang menyangkal bahwa perubahan iklim disebabkan ulah manusia.

Ia membeberkan, data pemetaan Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (Ditjen PPI) KLHK menyebutkan sejumlah daerah di Sulawesi Barat sangat rentan terhadap perubahan iklim. Namun hingga saat ini aksi adaptasi dan atau mitigasi belum berjalan dengan efektif dan efisien.

“Padahal sangat jelas dalam setengah dekade terakhir ini sejumlah bencana sangat terasa dampaknya tersebar merata di semua wilayah, itu diakibatkan oleh situasi alam,” katanya.

Bencana alam yang terasa dampaknya, kata dia, seperti longsor dan banjir. Belum lagi curah hujan yang tinggi dan angin kencang yang semakin sulit diprediksi. Itu mengakibatkan nelayan sulit melaut, sejumlah wilayah terendam air dan abrasi, bahkan banjir bandang.

“Akibat sejumlah rumah warga, lahan pertanian dan fasilitas umum rusak parah serta menelan korban jiwa,” jelasnya.

Tidak hanya itu, sambung Rahmat, saat ini cuaca panas juga sulit diprediksi. Sehingga semakin menambah fenomena alam di Sulawesi Barat.

Semua itu tentu menjadi tantangan dan masalah dari lemahnya pemahaman masyarakat terkait perubahan iklim.

Hal ini juga menegaskan adanya masalah dalam literasi terkait perubahan iklim. Apalagi pada saat bersamaan, penyebaran hoax dan misinformasi juga meluas.

“Sehingga kegiatan ini penting kami lakukan,” ucapnya.

Sebagaimana dengan penanganan pandemi Covid-19, lanjutnya, media massa seharusnya bisa berperan dalam membangun literasi publik terkait perubahan iklim. Selain menangkal misinformasi, media juga bisa melakukan peliputan kritis guna mengawal berbagai upaya dalam mitigasi dan adaptasi terkait iklim.

Penanggungjawab kegiatan, Anhar menambahkan, webinar ini bertujuan meningkatkan literasi dan kesadaran tentang perubahan iklim. Sehingga memberikan inspirasi tentang langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi laju dan dampak perubahan iklim.

“Selain itu, kami berharap dapat meningkatkan peran serta media dalam menangkal misinformasi terkait perubahan iklim dan memetakan kendala-kendala jurnalis dan media lokal untuk melaporkan isu krisis iklim serta memetakan peredaran misinformasi tentang krisis iklim di daerah,” harapnya. (*)

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:

Terpopuler