Connect with us
alterntif text

Kolom

Kolom ; Peran Suami dalam Pembagian Tugas Rumah Tangga

Published

on

Ilustrasi suami istri (gambar : popbela)
alterntif text
Peran Suami dalam Pembagian Tugas Rumah Tangga

Penulis: Melinda Putri Setia Sari (Mahasiswa Studi Kejepangan, UNAIR)

Ketika menjalani sebuah ikatan pernikahan, maka tidak bisa menghindari yang namanya keterlibatan diri dalam rumah tangga, termasuk tugas dan peran yang harus diemban baik suami maupun istri. Karena dalam berumah tangga, tugas rumah tangga tidak bisa dibebankan hanya pada salah satu pihak.

Pada umumnya, konsep pembagian tugas di dalam rumah tangga dibagi menjadi dua ranah. Dimana suami berperan di ranah publik (bukan dalam rumah)  yang bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga. Sedangkan istri diposisikan menjadi penanggung jawab terbesar dalam tugas domestik (dalam rumah). Dari luar pembagian kerja ini terlihat adil bagi sebagian orang, namun kenyataannya bisa menjadi sebuah momok bagi sang istri.

Istilah “tugas domestik” sendiri muncul karena adanya pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin (sexual division of labour). Sejak dahulu laki-laki diposisikan sebagi sosok yang superior dan lebih tinggi kekuasannya daripada perempuan. Laki-laki juga dianggap memiliki posisi yang paling penting dalam rumah tangga. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari adanya sistem patriarki yang masih melekat dalam perspektif masyarakat tradisional.

Selain itu, faktor hukum yang berlaku juga mempengaruhi perbedaan posisi suami dan istri yang menjadi acuan dasar sebagian masyarakat hingga saat ini. Dalam Undang-Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 31 ayat (3) ditegaskan bahwa suami sebagai kepala keluarga dan istri sebagai ibu rumah tangga. Meskipun yang disebutkan itu benar adanya, namun jika ditelaah dengan pandangan modern ada unsur bias gender antara laki-laki dan perempuan.

Masih ada banyak anggapan jika laki-laki turut terlibat dalam tugas domestik termasuk suami yang lemah dan terlalu tunduk pada istri atau biasa disebut ‘Suami-Suami Takut Istri’. Tugas domestik terlalu sering diidentikan dengan tugas perempuan sehingga suami yang bersedia mengerjakan tugas domestik dipandang rendah dalam masyarakat. Begitu juga dengan istri yang terkadang dilabeli sebagai istri yang durhaka karena membiarkan laki-laki melakukan tugas domestik. Perspektif inilah yang membuat sebagian besar suami enggan atau malu untuk melakukan tugas rumah tangga dan istri yang tidak berani untuk menyuruh suami melakukan tugas rumah secara bersama-sama.

Kalau dilihat dari sudut pandang kajian gender, sebenarnya pembagian kerja semacam itu bukan didasarkan pada ‘kodrat’, melainkan peran gender yang terlibat. Pekerjaan yang melibatkan kodrat manusia bukan terbatas pada apa yang cocok untuk mereka, melainkan apa yang memang ditakdirkan atau sesuatu yang tidak dapat digantikan seperti mengandung, melahirkan, dan menyusui. Pekerjaan rumah tangga atau tugas domestik bukanlah tugas yang harus dibebankan secara menyeluruh kepada istri karena tugas domestik dapat dikerjakan oleh siapa saja. Menurut Claffey & Mickelson, pasangan yang tidak membagi pekerjaan rumah secara seimbang maka dapat menimbulkan stress pada salah satu pihak. Dari sinilah suami seharusnya dapat mengambil peran agar istri mendapat sedikit keringanan dalam mengerjakan tugas domestik.

Realitanya, ketika seorang istri hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, hampir semua tugas domestik dikerjakan secara penuh olehnya. Seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan merawat anak. Istri dipercaya sebagai sosok yang ahli dalam hal multitasking. Bagaimana tidak? Dalam satu waktu istri dapat mengerjakan 2 atau lebih tugas domestik yang semuanya memungkinkan untuk dikerjakan bersamaan. Seperti memasak sambil mencuci piring dan mengawasi anak. Semua hal itu dikerjakan secara bersama agar memiliki efisiensi waktu kerja dan bisa melanjutkan tugas yang lain. Tugas tersebut juga tidak bisa ditunda karena bersifat mendesak. Misalnya saja, istri tidak memasak dan ditunda selama dua jam, alhasil perut akan keroncongan dan berimbas pada pengerjaan tugas lainnya. Kerja otak menjadi lambat dan tubuh akan terasa lemas. Sama halnya dengan tugas membersihkan rumah. Ketika secara sengaja menunda pekerjaan itu, maka rumah akan terlihat tidak rapi, kotor, dan tidak nyaman untuk ditempati. Ujung-ujungnya istri yang akan mendapat cibiran karena dianggap tidak ‘becus’ dalam mengurusi rumah.

Lalu apa tugas domestik yang bisa dikerjakan suami? Jika membagi pekerjaan rumah secara adil, sebenarnya banyak tugas domestik yang bisa dikerjakan secara bergantian. Pada pagi hari sebelum suami berangkat kerja, istri tentu sibuk pada hal-hal yang sangat inti seperti memasak, mengurus anak dan juga melayani suami. Sambil menunggu istri menyiapkan sarapan, suami bisa mengambil alih tugas mengurus anak. Jika dalam keluarga tersebut tidak ada seorang anak, suami bisa membantu dengan menyapu rumah atau membereskan hal-hal kecil yang menyebabkan rumah terlihat tidak rapi. Pembagian tugas domestik ini tidak mustahil dilakukan jika suami dan istri bekerja sama dengan baik, termasuk pada jam bangun tidur yang ditetapkan bersama.

Pada akhir pekan pun, suami bisa berperan lebih banyak dalam pembagian tugas domestik. Membersihkan rumah dan pekarangan, mencabut rumput, menjaga anak, mencuci piring, dan tugas-tugas lainnya. Sekalipun suami tidak mengerjakan tugas domestik yang bisa di-handle seorang diri oleh istri, suami dapat mengambil penuh tugas mengurus anak. Sebagai ayah tentu bertanggung jawab untuk membuat anak bahagia baik dengan lahir dan batin, misalnya, ayah mengajak anak bermain, jalan-jalan, dan membelikan barang kesukaan. Selain dianggap sebagai hal yang menyenangkan, kegiatan semacam itu dapat mempererat hubungan batin antara ayah dan anak.

Untuk menghindari adanya perselisihan dalam pembagian tugas, istri dan suami harus mendiskusikan tentang pandangan, ekspetasi dan perasaan mengenai pembagian peran dan tugas dalam rumah tangga yang diinginkan. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa pembagian tugas yang ditetapkan nanti tidak memberatkan batin salah satu pihak. Menghargai usaha pasangan dalam pekerjaan dan tugas domestik dapat dilakukan dengan memberikan apresiasi baik dalam bentuk verbal dan non-verbal. Hal ini mampu menjaga keintiman dari hubungan suami-istri disela-sela tanggung jawabnya.

Dalam pola pembagian tugas memang harus dibutuhkan keluwesan untuk melakukan pertukaran peran atau berbagi tugas dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga maupun mencari nafkah. Meskipun suami tidak bisa membantu dengan keterlibatannya secara penuh untuk tugas domestik, namun setidaknya ada keseimbangan pembagian tugas yang dirasakan, terutama dari sang istri. Jika dalam pembagian tugas dan menjalankan kewajiban peran masing-masing dilakukan dengan seimbang dan dilakukan atas kesepakatan bersama, maka pasti akan tercipta kehidupan pernikahan yang harmonis dan bisa menjadi salah satu indikator dari keberhasilan penyesuaian pernikahan.

Sumber referensi

Claffey, S. T., & Mickelson, K. D. (2009). Division of Household Labor and Distress: The Role of Perceived Fairness for Employed Mothers. Sex Role, 819-831.

Putri, D. P. K., & Lestari, S. (2015). Pembagian Peran dalam Rumah Tangga pada Pasangan Suami Istri Jawa. Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 16, No. 1, Februari 2015: 72-85

Intan, S. (2014). Kedudukan Perempuan dalam Domestik dan Publik Perspektif Jender. Jurnal Politik Profetik, Vol. 3, No. 1

(UAS Kajian Gender dan Perempuan Jepang – Studi Kejepangan FIB UNAIR)

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler