Connect with us
alterntif text

Kolom

Kolom ; Muhammadiyah, dan Hal-Hal yang Mungkin Perlu Diperbincangkan

Published

on

alterntif text

Muhammadiyah, Dan Hal-Hal Yang Mungkin Perlu Diperbincangkan.
(Turut merayakan milad Persyarikatan)

2010 Muhammadiyah melangsungkan Muktamar ke 46 di Yogyakarta. Saya berangkat seorang diri, menyusul teman-teman yang telah berangkat lebih dahulu. Menumpang pesawat yang tiketnya dibayarkan teman saya. Ia kader Muhammadiyah, ia politisi, ia banyak bergaul lintas iman: Ilham Jaya Torada.

Di Muktamar abad kedua Muhammadiyah itu, manifesto Islam Berkemajuan dirumuskan: Zhawahir al-Afkar Al-Muhammadiyah Li al-Qarni Tsani. Bagi Muhammadiyah, sebagaimana disebutkan dalam manifesto tersebut, “Islam merupakan nilai utama…pondasi dan pusat inspirasi yang menyatu dalam seluruh denyut nadi gerakan”.

Islam Berkemajuan menghadirkan dua arah pencerahan. Pertama, pencerahan teologis. Di bagian ini, menifesto abad kedua Muhammadiyah mengintrodusir eksplanasi Kuntowijoyo terhadap Alquran surah 3 ayat 104 dan 110. Pesan dalam ayat tersebut, menurut Kuntowijoyo, sebaiknya dipahami dalam terma keilmuan yang baru. Kuntowijoyo kemudian mengajukan terma yang membawa muatan epistemik: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Terma yang diajukan Kuntowijoyo itulah yang digunakan oleh Muhammadiyah dalam manifesto abad kedua itu.

Kedua, pencerahan ideologis. Pada arah ini, menggunakan teks dalam manifesto, Islam berkemajuan menjadi bentuk transformasi Al-Maun, surah dalam Alquran yang dipindai oleh Ahmad Dahlan menjadi aktivisme sosial. Dengan kata lain, Al-maun akan diusung dalam bentuk baru, bukan saja pada resepsi teks melainkan juga akan ditransformasikan dari bentuk aktivisme sosial era Ahmad Dahlan, ke dalam wajah Al-Maun yang berkemajuan.

Dua arah pencerahan itu, sebagaimana teks yang termaktub dalam manifesto, dimaksudkan untuk “memperteguh dan memperluas pandangan keagamaan yang bersumber pada Alquran dan Sunnah dengan mengembangkan ijtihad di tengah kehidupan modern abad 21 yang sangat kompleks,” dan “menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, keutamaan hidup secara dinamis”.

Manifesto adalah narasi normatif, ideal, utuh. Ketika dicelupkan ke arena sosial yang nyata, manifesto seringkali harus menerima tegangan, persilangan, dan paradoks.

Satu dekade kini berlalu sejak manifesto Islam berkemajuan dicanangkan.

Peradaban umat manusia melaju cepat, dan orang-orang berkata bahwa: the future is coming sooner than you think.

**
Begitulah, satu dekade berlalu dan kini frase ‘memperluas pandangan keagamaan dan mengembangkan ijtihad,’ berjumpa dengan konteks zaman yang sungguh tak sederhana resepsinya.

Kini orang bicara tentang terraforming. Melalui sains yang tumbuh kian cemerlang, manusia merancang kemungkinan hidup selain di planet Bumi ini. Sains — atau banyak saintis — memandang teraforma sebagai visi kelanjutan hidup umat manusia sesudah hidup di Bumi. Mungkin tidak dalam waktu yang segera, mungkin butuh satu atau dua generasi lagi, teraforma baru akan terwujud. Bagi saintis — atau banyak saintis — teraforma hanya soal waktu, bukan ketakmungkinan.

Jika teraforma akhirnya wujud, rumusan keagamaan dalam bidang fikih Islam akan diguncang pertanyaan serius. Tentu ini disebabkan oleh fakta bahwa, segenap rumusan keagamaan selama ini berbasis kehidupan [di] Bumi.

Ketika sholat, ke arah Kabah umat Islam menghadapkan wajah. Ketika Haji, ke Kabah umat Islam datang untuk tawaf. Di Mekah Kabah berada, di Bumi.

Lalu teraforma wujud, Kita tak lagi di Bumi, tempat Kabah berada. Apa skenario-konseptual-fikih yang akan diajukan Islam berkemajuan Muhammadiyah? Bagaimana operasionalisasi a.k.a fungsionalisasi dari konsep “memperteguh dan memperluas pandangan keagamaan yang bersumber pada Alquran dan Sunnah dengan mengembangkan ijtihad di tengah kehidupan”?

Ketika saya ajukan skenario teraforma kepada teman saya, ia dengan segera berkata: ya nanti dipikirkan rumusannya jika teraforma-mu itu telah terwujud.

Baiklah, saya mafhum, ia — teman saya itu — nampaknya menganggap skenario teraforma sebagai bualan kaum tak bertuhan. Jadi, ya tak perlu dipikirkan, barangkali begitu itu ia — teman saya itu — mendongkol tak terucap. Jadi, saya mafhum. Saya mafhum.

**
Satu dekade kini berlalu sejak manifesto Islam berkemajuan dicanangkan//Peradaban umat manusia melaju cepat//Orang-orang berkata bahwa: the future is coming sooner than you think.

Kini perbincangan tentang rahim buatan, ectogenesis, sudah memasuki imajinasi kultural orang awam. Setelah berhasil diujicobakan pada janin domba yang lahir prematur, ectogenesis akan segera melintas ke percobaan pada janin manusia.

Mungkin dekade mendatang, saintis akan memancing perbincangan tentang kelahiran bayi melalui kantung rahim buatan. Ketika itu terjadi, glorifikasi posisi dan makna ibu akan mengalami gugatan yang tidak mudah. Teks-teks keagamaan tentang rahim-ibu menjadi kehilangan relevansi sakralitas.

Ketika saya ajukan skenario ectogenesis kepada teman saya, ia dengan segera berkata: ya nanti dipikirkan rumusannya jika ectogenesis-mu itu telah terwujud.

Atas jawaban teman itu saya dapat mafhum, toh itu belum terjadi. Ya, saya mafhum. Saya mafhum.

Oleh karena itu, saya tak mengajukan lagi capaian-capaian sains yang kini kelanjutan pengembangannya hanya tertahan oleh kegalauan etik di kalangan saintis sendiri. Kini daging sapi dapat diperoleh tanpa memotong sapi, ia dipanen di laboratorium. Kini teknologi Crispr-Cas9 memungkinkan lahirnya janin dari embrio yang sudah diedit. Dan lain-lain perihal sains-teknologi yang terus merangsek ke eksistensi terdalam manusia.

**
Sesungguhnya, ketika saya menulis ini, saya sedang bertanya-tanya tentang frase “memperteguh dan memperluas pandangan keagamaan yang bersumber pada Alquran dan Sunnah dengan mengembangkan ijtihad di tengah kehidupan”.

Apakah majelis tarjih di Muhammadiyah telah menemukan postulat-rumusan-formula epistemik metode adekuat tentang ijtihad berkemajuan? Saya sungguh-sungguh belum tahu, sehingga jika ada yang memiliki informasi tentang itu kiranya dapat membaginya. Saya telah cukup lama berada di pinggiran diskursus-diskursus yang berlangsung di persyarikatan.

Satu dekade kini berlalu sejak manifesto Islam berkemajuan dicanangkan//Peradaban umat manusia melaju cepat//The future is coming sooner than you think.

Robot humanoid akan segera menjadi bagian dari kehidupan manusia. Pada beberapa tahun ke depan, robot humanoid tersebut akan dapat bekerja dan melakukan tugas berulang, menggantikan manusia.

Saat itu terjadi, manusia akan surplus waktu senggang. Manusia tak digegas lagi oleh rutinitas yang banal. Maka teman-teman di Persyarikatan, akhirnya dapat dengan santai berbincang tentang sains, membangun filsafat-pasca-filsafat, dan bercinta semampunya.

Deng Fanshuri
18/11-2021, Kutai Timur.
No. KTAM: 2316 7807 1018955

Peringatan:
Jaga baik-baik agar robot humanoid tak memakan buah terlarang, khuldi.

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler