Connect with us
alterntif text

Kolom

Kolom ; Peran Mahasiswa dalam Citizen Journalism dan Pengaruhnya Terhadap Iklim Sosial-Politik Indonesia

Published

on

Gambar : Kompasiana
alterntif text

“Peran Mahasiswa dalam Citizen Journalism dan Pengaruhnya Terhadap Iklim Sosial-Politik Indonesia’

Dion Faruk Alqurniawan

Mahasiswa adalah kalangan muda terpelajar yang tidak hanya memiliki tugas untuk sukses dalam perkuliahan saja, namun mereka juga memiliki fungsi sosial yang luas utamanya bagi masyarakat, bangsa dan negara. Sebagai seorang pemuda yang biasanya masih memiliki idealisme yang kuat serta tingkat intelektualitas yang tinggi tentu saja tugas mahasiswa bukan sekadar melaksanakan kegiatan perkuliahan, sibuk mengerjakan tugas, atau bahkan sibuk memburu gelar saja, mereka sangat dibutuhkan untuk kemajuan dalam masyarakat, bangsa dan negara. Sejarah Indonesia telah mencatat peran penting mahasiswa terhadap kemajuan bangsa dan negara, mulai dari sebelum Indonesia merdeka, masa Orde Lama, Orde Baru, hingga reformasi dan tentunya sampai titik ini. Namun tentu perjuangan mahasiswa pada setiap masa berbeda dan memiliki tantangannya masing-masing.

Pada abad ke-21 ini, teknologi informasi dan komunikasi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Internet of things muncul dan sekaligus menjadi salah satu motor utama dari perkembangan peradaban masa kini. Selanjutnya, berangkat dari hal tersebut muncul juga yang kini banyak kita kenal dengan sebutan media sosial dan media mainstream. Tak ayal, munculnya media sosial dan media mainstream menjadi konsumsi masyarakat begitu saja. Saat ini, bisa dikatakan hampir semua masyarakat kita dapat mengakses informasi dari sumber mana saja termasuk media sosial dan media mainstream melalui ponsel canggih. Dari situ informasi yang memiliki validasi dan atau kebohongan sukar dibedakan. Itulah yang disebut sebagai era disrupsi media yang tengah terjadi pada kehidupan masyarakat dunia saat ini. Lebih jauh lagi, pada era disrupsi yang tengah terjadi muncul sebuah fenomena pada tatanan masyarakat yang dikenal dengan citizen journalism atau jurnalisme warga.

Fenomena citizen journalism seolah bisa menjadikan siapa saja adalah seorang jurnalis. Bagaimana tidak, di sini masyarakat ditempatkan sebagai objek sekaligus subjek informasi, maka setiap orang dapat melakukan analisa, menulis dan menyebarkan berita, bahkan hingga melakukan pelaporan. Hal ini tentu menjadikan citizen journalism bak pisau bermata dua, di satu sisi memiliki dampak positif dan di sisi lain memiliki dampak negatif. Hal ini lah yang menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat dan utamanya mahasiswa sebagai kaum terpelajar.

Munculnya fenomena citizen journalism atau jurnalisme warga tentu mempengaruhi berbagai aspek di Indonesia, termasuk salah satunya adalah aspek sosial-politik. Dalam menghadapi era disrupsi terutama pada fenomena citizen journalism, Indonesia sebagai negara demokrasi memiliki lembaga sosial yang banyak kita kenal sebagai pilar demokrasi ke-4 yaitu Pers. Di tingkat civitas akademik pun masing-masing kampus memiliki lembaga persnya sendiri yang diisi dan didominasi oleh mahasiswa. Meski begitu, peran mahasiswa dalam menghadapi disrupsi media tak melulu harus tergabung dalam lembaga pers kampus namun juga bisa secara individual yang tentunya wajib memperhatikan kaidah-kaidah yang tidak menyimpang.

Pada era disrupsi media ini, fenomena citizen journalism menjadikan Iklim sosial-politik di Indonesia semakin dinamis. Seperti yang saya tulis di atas bahwa fenomena jurnalisme warga bak pisau bermata dua yang memiliki dampak positif dan negatif. Beberapa contoh dampak positifnya misalkan dengan berbagai media sosial yang bisa diakses siapa saja, atau lewat media mainstream kita bisa langsung mengirimkan aspirasi kita kepada pemangku kebijakan, atau kita juga bisa mengikuti jalannya sebuah kasus atau perkara. Hal tersebut tentu akan menjadikan demokratisasi di negara kita tetap berjalan. Selanjutnya, beberapa dampak negatifnya ialah bila apa yang kita sampaikan justru semakin memperkeruh keadaan, seperti menyebarkan missleading information, dan hingga mengandung ujaran kebencian, bahkan sampai masuk unsur Rasis dan SARA.

Lalu bagaimana peran mahasiswa sendiri?

Bagi saya, terlalu naif bila sebagai mahasiswa kita mengambil posisi netral. Hal tersebut malah akan menjadikan kita sebagai individu yang kurang berpendirian. Maka hemat saya, sebagai seorang muda yang terpelajar dan memilik intelektualitas tinggi, kita mesti berpihak kepada keadilan, berpihak kepada mereka yang paling banyak dirugikan, mereka yang diperlakukan tidak adil, yang dicurangi, ditindas dan seterusnya.

Kemudian, apa respon kita sebagai mahasiswa terhadap mereka yang semakin memperkeruh keadaan?

Adalah sebuah paradoks jika kita membalas tindakan buruk dengan tindakan buruk pula. Begini, tentu tidak mungkin sebuah ujaran kebencian dibalas dengan tindakan serupa. Rasisme dibalas dengan rasisme, atau tindakan sara dibalas dengan sara pula. Karena jika kita balas dengan tindakan serupa maka hal buruk itu tak akan ada habisnya, dan secara tidak langsung akan menumbuhsuburkan tindakan buruk tersebut. Maka dari itu, jauh lebih bijak jika kita respon dengan sebuah nasihat, fakta atau data yang memiliki validasi.

Pada akhirnya, Iklim sosial-politik di Indonesia tidak akan pernah mandek, dan semakin hari akan banyak lagi hal-hal yang terjadi. Apalagi disrupsi media sudah mengakar di tatanan kehidupan bermasyarakat yang sudah lumrah dengan internet of things. Munculnya fenomena citizen journalism di satu sisi menjadi nafas segar bagi kehidupan kita pada aspek sosial-politik, namun tidak bisa dipungkiri bahwa mampu memberikan pengaruh yang buruk pula. Sebagai seorang mahasiswa, adanya fenomena citizen journalism menjadikan kita lebih bijak dalam memilah dan memilih informasi. Selain itu, kita pun harus mampu memanfaatkan hal tersebut semaksimal mungkin. Informasi menyesatkan yang dibuat oleh oknum-oknum tertentu mesti kita lawan dengan informasi yang berbasis data dan terjamin validasinya. Selain itu, dari pada meladeni oknum-oknum yang suka memperkeruh keadaan jauh lebih baik jika kita berkontribusi ke arah pencerdasan kehidupan bangsa, dengan terus memberikan tulisan-tulisan yang bersifat edukatif.

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:

Terpopuler