Connect with us
alterntif text

Kolom

Kolom ; Upah Minimum Penyambung Hidup di Tengah Pandemi

Published

on

Ilustrasi (gambar : Tribunnews)
alterntif text

 

Oleh : Liskia Parrona Hutasoit

Saat ini, pandemi COVID-19 menjadi isu global yang hangat dibicarakan dimana- mana. Di Indonesia sendiri, COVID-19 muncul krang lebih satu setengah tahun yang membawa dampak besar bagi masyarakat dan negara. Kesulitan demi kesulitan hidup dirasakan oleh masyarakat. Angka kemiskinan, pengangguran, pencurian, dan kematian meningkat pesat sebagai dampak dari pandemi COVID-19. Pembatasan-pembatasan pergerakan yang dilakukan pemerintah dalam upaya menekan angka penyebaran COVID-19 turut menjadi penghambat perekonomian masyarakat. Kehilangan mata pencaharian akibat PHK besar-besaran, kurang maksimalnya pendapatan menjadi kesulitan hidup di tengah pandemi yang sedang diperangi oleh masyarakat, terutama yang tinggal di kota-kota besar.
Upah Minimum menjadi penolong kesulitan hidup sebagian masyarakat yang masih diberi kepercayaan untuk tetap bekerja di tengah pandemi. Menurut Peraturan MenteriTenaga Kerja dan Transmigrasi (Permenakertrans) No.7 Tahun 2013 tentang UpahMinimum , dikatakan bahwa upah minimum merupakan upah bulanan terendah yang terdiri atas upah pokok termasuk tunjangan tetap yang ditetapkan oleh gubernur sebagai jaring pengaman.
Tujuan dari Upah Minimum adalah memberikan perlindungan bagi pekerja dari upah yang terlalu rendah. Upah minimum mendorong terwujudnya keadilan bagi pekerja- pengusaha dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari seperti kebutuhan sandang dan pangan. Upah ini wajib dijadikan acuan oleh pengusaha dan pelaku industri sebagai standar minimum dalam memberi upah pekerjanya.
Di Indonesia, Upah Minium setiap daerah berbeda-beda besaran jumlahnya sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 89 UU NO.13 Tahun 2003 dikatakan bahwa setiap wilayah diberikan hak untuk menetapkan kebijakan Upah Minimum mereka sendiri baik di tingkat Provinsi maupaun tingkat Kabupaten/Kotamadya. Di Indonesia, Upah Minimum tertinggi adalah Rp 4.416.186 di Provinsi DKI Jakarta. Dan tahun 2021 di masa pandemi Upah Minimum tidak mengalami kenaikan, dengan pertimbangan kondisi perusahaan yang

juga turut terpuruk akibat pandemi COVID-19. Hal ini memanglah menjadi dilema bagi pemerintah, melihat kondisi masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi. Namun, bagaimanapun pemerintah harus mempertimbangkan dari sisi pengusaha dan dari sisi pekerja sebelum membuat keputusan.
Dengan Upah Minimum, memang membantu masyarakat dalam mencukupi kebutuhan sehari-harinya di tengah pandemi. Namun, dengan menggantungkan hidup pada Upah Minimum saja, apalagi tinggal di kota besar seperti Jakarta, tidaklah cukup. Biaya hidup yang tinggi, apalagi di tengah pandemi di mana semua serba online di mana gadget dan kuota internet harus terpenuhi. Diperlukan kreativitas dari masyarakat, bagaimana menggunakan Upah Minimum dengan efektif dan bahkan bisa bertambah. Kreativitas yang dimaksud adalah kemampuan atau ide untuk menggunakan Upah Minimum, dan mengembangkannya menjadi lebih besar.
Upah Minimum dapat menjadi penyambung hidup bagi masyarakat di tengah pandemi jika dipergunakan dengan baik, diantaranya:
Berkonsumsi secukupnya. Jika sebelum pandemi adalah seorang yang konsumtif, maka di masa pandemi harus bisa membuat pilihan dalam berkonsumsi. Jika suatu barang konsumsi tidak benar-benar diperlukan, maka lebih baik tidak dibeli. Dengan demikian, dapat meminimalisir pengeluaran yang harusditanggung.
Mencari Barang Pengganti. Di tengah pandemi ini, harus benar-benar bisa mengelola Upah Minimum dengan baik. Mencari barang pengganti menjadi salah satu solusi bertahan hidup dengan Upah Minimum. Jika benar-benar ada kebutuhan yang tidak terelakkan, namun harganya terbilang mahal, lebih baik mencari barang pengganti dengan nilai guna yang sama, namun dari segi harga lebih murah. Misalnya ketika ingin membuat kue diperlukan mentega. Mentega dapat digantikan dengan margarin karena keduanya memiliki manfaat yang sama, tetapi berbeda dari segi harga, di mana mentega lebih mahal daripadamargarin.
Tetap Menabung. Dengan meminimalisir pengeluaran, sisa uang dari Upah Minimum yang ada dapat ditabung (saving) sebagai jaga-jaga ketika ada kepeluan yang mendesak. Selain itu, tabungan yang dimiliki bisa menjadi jaga-jaga untuk hari esok, karena kita tidak tahu kapan pandemi berakhir dan kita tidak tahu apakah kita masih bisa tetap dipekerjakan diperusahaan.

Membuat Usaha Sampingan. Upah Minimum yang ditabung sebagai saving dapat juga menjadi modal usaha sampingan di tengah pandemi. Tidak harus membuka outlet yang besar atau membeli gerobak dorong tempat usaha, hanya dengannmemanfaatkan kemudahan teknologi, yaitu melalui Social Media atau Marketplace kita dapat menjalankan usaha kita. Bermodalkan gadget, kuota internet, dan foto kita dapat menarikpelanggan.

Setiap orang berbeda dalam mengembangkan kreativitasnya menggunakan Upah Minimum yang didapatkannya. Upah Minimum dapat menjadi penyambung hidup bagi kita di tengah pandemi COVID-19, jika kita menggunakannya dengan baik, mengembangkannya menjadi lebih besar dengan usaha kita, ibarat sebuah bakat yang dikembangkan, maka akan semakin matang bakat yang dimiliki dan bisa menjad modal untuk masa depan. Demikan juga dengan Upah Minimum, jika dimanfaatkan sebaik mungkin, maka kita dapat tetap bertahan meskipun sedang berada di tengah pandemi sampai pada saat di mana pandemi akan berakhir dan ekonomi bisa pulihkembali.

DAFTAR PUSTAKA

Apakah yang Dimaksud dengan Upah Minimum?

https://ejournal.kemsos.go.id/index.php/Sosioinforma/article/download/1732/993

https://amp.kompas.com/money/read/2021/01/11/090516126/10-provinsi-di-indonesia-dengan-upah-minimum-tertinggi-2021

https://sdip.dpr.go.id/search/detail/category/info%20Singkat/id/1124

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler