Connect with us
alterntif text

Kolom

Kolom Nur Syamsi El Zakaria ; Pahlawan Itu Adalah Para Nakes

Published

on

Tenaga kesehatan (gambar : Ekonomi Bisnis)
alterntif text

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIIA KE 76 / 2021
(Pahlawan itu adalah para NAKES)

By. Nur Syamsi EL Zakariyya, S.Ag.,MH / Pai Non PNS Kab. Enrekang

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 76, HUT yang ke 76 suatu angka yang sudah sepuh jika di takar dari usia rata-rata orang Indonesia. Jika hari ini masih ada yang hidup yang kebetulan lahir pada tahun 1945, berarti pun ia sudah sepuh. Kesepuhan seseorang bukan hanya di lihat dari sisi fisik, karena manusia itu tidak hanya sisi lahiriyah, tetapi nilai kemanusiaannya adalah ada pada jiwanya atau ruhiyahnya. Maka jika Indonesia yang merdeka tahun 1945 yang sekarang telah berumur 76 tahun praktis ruh kebangsaan Indonesia telah matang, mapan, tangguh, dan maju pula.

Bangunlah jiwa, bangunlah raga, perlambang bahwa Indonesia yang dibangun adalah bukan hanya fisik tetapi yang utama adalah ruh kebangsaannya. Beranjak dari latar belakang Indonesia yang terdiri dari 17 ribu pulau dan kepulauan, yang mana pulau-pulau yang tersebar tersebut terfragmentasi dalam berbagai macam suku, ras. Dari keragaman suku, ras melahirkan keragaman adat, budaya, bahasa, kuliner, agama, dan ciri khas lainnya. Maka dengan latar belakang tersebut memastikan suatu komitmen untuk saling menghargai, menghormati atas segala keanekaragamannya.

Berdasarkan hal di atas dengan usia Indonesia yang ke 76 dan melihat latar belakangnya maka tingkat kemapanan dapat di ukur dari kematangan dalam berbeda, berdemokrasi, dan berbangsa yang satu. Semua anak negeri merasa nyaman di dalam rumah yang bernama Indonesia, apapun latar belakangnya, dan semua warga merasa memiliki kebangsaan Indonesia dan kewarganegaraan Indonesia, pun juga seluruh rakyat mendapat tempat yang sama untuk maju, berkarya, dan mendapatkan perlindungan hak-hak konstitusi yang sama. Di samping kematangan yang lain adalah kemajuan bangsa pada sisi tingkat pendidikan, kesehatan, ekonomi, peluang kerja, sosial politik, dan lain-lain. Hal ini di lihat bahwa tingkat kemajuan suatu bangsa adalah terukur dari sejauhmana IPM (Indeks Prestasi Manusia) nya.

Indonesia kini masih berbenah, di bawah presiden Jokowi Indonesia bangkit dan menapaki tangga menuju kemajuan, dengan pranata infrastruktur yang telah terbangun, sosial politik pun cukup merangsek ke demokrasi rakyat dengan adanya pilkada langsung, antusiasme masyarakat semarak dalam setiap pesta demokrasi. Walaupun masih terdapat banyak hal yang belum tergapai, jika terbangun pranata kenegaraan yang sistemik bahwa ini hanyalah persoalan waktu untuk sampai di atas tangga kejayaan bangsa dan negara.

Tak lepas dari itu ada banyak hal tantangan di era ini, tak dapat dipungkiri tantangan dan hambatan, bahkan rongrongan dari kelompok yang tidak puas dengan kinerja jokowi, inipun memiliki karakteristik antara lain ; kelompok yang anti statusqua nuansa orba, kelompok radikal atau intoleran, kelompok yang ingin mengubah negara kesatuan RI, kelompok barisan sakit hati, kelompok pendukung jokowi yang kecewa, dan lain-lain. Saya berfikir bahwa kelompok-kelompok yang berseberangan dengan pemerintahan saat ini adalah hal niscaya, karena setiap demokrasi tidak semua dapat satu dalam warna, mengkritisi pemerintah adalah hal yang lumrah, tidak setuju dengan kebijakan-kebijakan pun adalah hal yang biasa-biasa saja dan bahkan dibutuhkan. Sepanjang kebesebrangan tersebut tidak menganggu stabilitas kebangsaan, tidak menafikan kesatuan negara Republik Indonesia, dan di sampaikan secara santun, elegan, penuh etika, taat aturan, dan tidak menggunakan kalimat cacian, hinaan, kebencian. Apatahlagi jika sampai menproduksi hoax-hoax terus menerus , sebab membuat hoax laksana pedang di balik layar, dan pedang beracun yang menunjukkan ketidaksatriaan.

Mari kita tetap terus berbenah, merekatkan kebangsaan Indonesia, kita masih punya harapan karena masing-masing masih punya semangat untuk membangun Indonesia satu nusa satu bangsa. Bangsa ini memiliki modal sejarah , modal ruhaniyah, intekektual, dan dianugerahi kemerdekaan yang luar biasa, dikaruniai kekayaan alam dan keanekaragaman juga adalah pernak pernik yang berkilau. Titik sejarah yang paling krusial di mana bangsa ini diberi khazanah oleh pendiri bangsa tentang makna pengorbanan. Misalnya ketika delapan tokoh Islam pada akhirnya mencoret tujuh kata, dan kunci terakhir ada pada sosok Ki Bagus Hadikusumo sebagai tokoh sentra Muhammadiyah saat itu. Bung Karno sebagai penggagas jalan tengah pun menangis terharu, tetapi demi untuk memproklamirkan kemerdekaan maka semuanya harus berkorban untuk Indonesia.

Ditengah degradasi tentang kebangsaan kira dewasa ini, ada gejolak yang berpotensi untuk bisa saja retak. Ini merupakan masalah besar jika tidak dapat diantisipasi, namun tidak mungkin ada bangsa besar tanpa masalah besar, apatahlagi bangsa Indonesia yang sangat heterogen. Masih ada harapan sepanjang kita punya niat dan usaha untuk meretas jalan kesatuan. Ada 3 hal yang perlu direnungkan agar bangsa ini tetap utuh dan dapat direkatkan lebih erat antara lain ;
(1) Perkuat komitmen kebangsaan, khususnya di kalangan elit, bangun penguatan kepribadian kepemimpinan adihulung, dan penguatan civil society, agar terjadi kemapanan sosial dan kultur yang tidak korup.
(2) Perkuat sistem yakni sistem pemerintahan yang goodgovernance, sistem demokrasi yang transparan, sistem ekonomi yang elegan, sistem politik yang mencerahkan, sistem hukum yang adil, pendidikan dan kesehatan yang mumpuni, pelayan prima kepada rakyat sebagai basis pengabdian.
(3) Nilai-nilai (value) kita berbangsa dan bernegara perlu selalu dihayati, didalami, di aplikasikan secara nyata, bukan sekedar di hafal dan tidak menjadi value.

Dari tantangan-tantangan bangat saat ini yang cenderung rapuh, di mana kita masih punya harapan dan optimis karena sesungguhnya arus besar yang mengalir bahwa kita masih memiliki semangat untuk bersama. Bung Karno mengatakan bahwa; “Indonesia akan tetap tegak ketika masih ada gotong royong”. Bung Hatta mengatakan bahwa; “Ketika kolektivitas menjadi nafas gerakan maka kita akan selalu dalam kemajuan”. Dari mutiara para pendiri bangsa tersebut telah mewariskan nilai-nilai luhur bagi generasi penerus bangsa. Namun maukah kita semua untuk menyerap nilai itu dalam kata, bukan hanya dalam retorika.

Kekuatan-ketauan agama seperti organisasi keagamaan NU-Muhammadiyah, dan lain-lain punya semangat yang sama. Kalaupun misalnya bangsa ini terdapat retak; itu adalah dinamika dan masih lumrah, ibarat rumpun bambu yang bergerak dan kadang saling bergesek, tetapi mari kita terus berdialog, mencari jalan solusi, namun kuncinya adalah keikhlasan masing-masing pihak.

Di samping itu, tantangan lainnya saat ini bangsa Indonesia dan seluruh bangsa mengalami pandemi global covid 19, tantangan ini merupakan terberat diabad ini, di mana kita seharusnya telah harus sampai di gerbang kemajuan, tapi akhirnya covid 19 terus mendera hingga kini. Telah banyak kebijakan pemerintah mengenai situasi covid, antara lain ada PSBB, PPKM, PROKES KETAT 5M, vaksinasi, dan lain-lain. Dan telah hampir 2 tahun kita berjibaku dengan covid menjadikan kondisi kehidupan kebangsaan sedikit stagnan, khususnya pada pelayanan publik, dan ekonomi pada umumnya masyarakat. Namun tak bisa dipungkiri juga bahwa covid pun memiliki berkah bagi yang lain, misalnya kebutuhan dimasa pandemi, dengan berkah pandemi covid para produsen konveksi memproduksi besar-besaran masker, makanan, minuman yang dibutuhkan untuk menjaga imunitas dan berkah lainnya, hal ini dapat menambah income bagi mereka yang mampu menangkap peluang. Pandemi covid merupakan tantangan, sekaligus peluang. Peluang lainnya di samping yang tertera di atas tadi adalah secara tiba-tiba terjadi musim bunga di masa covid ini, sehingga keadaan ini pun dapat memberikan ketahanan ekonomi.

Yang tak kalah pentingnya adalah peran para NAKES (Tenaga Kesehatan) yang bertugas merawat pasien covid, peran ini tentu memiliki resiko karena covid ibarat monster, sesiapa yang diterkamnya maka nyawa taruhannya. Di hari kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2021 ini, maka pahlawan kemerdekaan yang ke 76 adalah mereka yang berada di garda terdepan antara lain para nakes, satgas covid, keluarga dan pasien covid itu sendiri, yang bertarung melawan covid19. Pertarungan ini ibarat di medan jihad, karena menghadapi wabah semacam ini adalah musuh yang lihai, tak terlihat namun ada, tak terasa namun berefek, tak terjangkau namun dekat, dan covid tidak berjarak dengan kematian, maka pertarungan ini adalah jihad.

Maka dihari HUT RI ke 76 ini saya memberikan apresiasi kepada para nakes, para satgas covid yang telang berjuang di garda terdepan, merekalah pahlawan bangsa saat ini yang perlu mendapat apresiasi dari pemerintah, masyarakat, dan dari kita semua. Tak sedikit fitnah yang mendera mereka, terkadang cemoh yg melempar kepada mereka, tak sedikit yang apriori tentang covid, bahkan para nakes sendiri tak sedikit yang terpapar dan tak sedikit pula yang telah syahid, namun mereka terus mengabdi untuk masyarakat, bangsa dan negara.

Teruslah berjuang para nakes, mengabdi tanpa jedah, baktimu untuk negeri agar keluar dari wabah adalah bakti terbesar sepanjang masa. Teruslah mengepakkan sayap pengabdian tanpa mengharap pujian, baktimu menghadang covid adalah pahala terindah yang akan terukir dalam keabadian.

Di Pojok Kolong Rumah, saat menjalani ISOMAN (Isolasi Mandiri) karena terpapar coli19.
Selasa, 9 Muharram 1443 H / 17 Agustus 2021

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler