Connect with us
alterntif text

Kolom

Kolom Nur Syamsi El Zakaria ; Allah Telah Mengukurnya dalam Madrasah Isoman

Published

on

Ilustrasi (gambar : ist)
alterntif text

(Refleksi Muharram dan Kemerdekaan)

By. Nur Syamsi EL Zakaria (Pai Non PNS Kab. Enrekang)

PRAKATA
Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi-Nya yang tiada sesuatupun menyamainya, tak berbilang karena Keesaan-Nya, yang awwal maupun yang akhir, Dialah Maha Kemahaan atas segala sesuatu, Dialah yang menciptakan segala yang ada, karena adanya keadaan-Nya menjadikan sesuatu itu ada.
Teriring shalawat kepada Baginda Nabi Saw yang dengan perjuangannya sampailah cahaya benderang itu di bumi tempat berpijak, dan dengan kerahmatannya kitapun menuai keberkahan sepanjang masa.

Di masa pandemi masih mendera sejagad, tak satupun dari penduduk bumi yang mampu mengelak darinya, yang berpandemi itu bernama Mr. Covid dan Miss. Corona. Suatu nama yang apabila disebut menjadikan hampir setiap orang apriori dengannya. Nama itu pula melahirkan efek bagi yang terkena sindromnya baik pribadi maupun sosial antara lain; terpapar, lockdown, menjaga ketat PROKES 5 M, PSBB, PPKM, atau Isolasi mandiri (ISOMAN), dan lain-lain. Tak luput dari itu covid mengalami eskalagi pada bidang pertumbuhan ekonomi, kemandirian, sosial, bahkan eskalasi politik.

Adanya pandemi global oleh karena covid19 suatu hal yang menarik, polemik, sekaligus refleksi, betapa tidak ! praktis seluruh perikehidupan mengalami perubahan drastis, dan menciptakan dampak yang dramatis. Menapaki covid laksana merenda kembali tatanan; baik tatanan kedirian, pribadional, maupun sosial kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara, maupun skala global.

Merefleksi pada kondisi ini adalah sebuah keniscayaan agar kita dapat menata kembali puing-puing harapan untuk masuk pada etape kondisi kehidupan yang di harapkan lebih baik, matang, dan tangguh. Ada banyak fenomena sekitaran pandemi tersebut, antara percaya dan tidak, antara illusi dan kenyataan, antara kebenaran dan kepentingan, antara provokasi dan paradoksi, dan lain-lain. Maka memetakan kondisi ini dibutuhkan ilmu, akurasi informasi dan kearifan, sehingga kita tidak terjebak dalam jaring-jaring yang tak jelas, se-misteri covid19 ini. Kita berupaya, berbuat, bertindak, berdoa, dan bertawakkal agar pandemi ini segera berlalu.

Di tengah masih pandemi akhirnya tetiba masa memasuki bulan Muharram, pusaran bulan ini adalah penanda tahun penggantian tahun Hijriyah (tahun baru Islam). Di mana bulan ini terjadi dua hijrah, hijrah dari Mekah ke Madinah,; hijrah menuju kehidupan mulia, dan hijrah dari Madinah ke Nainawa; hijrah menuju kematian mulia. Oleh karena itu setiap datang mulai muharram mengerjapkan jiwa akan tetamu bulan Muharram (1) perubahan (transformasi), dari kejumudan ke arah yg luhur, dari jahiliyah ke peradanan Ilahiyah dan (2) bulan pengorbanan, perlawanan dan kebangkitan, pembebasan, kesetiaan dan kasih sayang, bulan pembeda bersaing antara nilai religi dan nilai hedonistik.

Pemujaan pada nilai pragmatisme yang mana penganutnya mematok kenyamanan, keamanan, dan mencari aman, kesejahteraan materialistik sebagai pilihan utama dan satu-satunya pilihan untuk bangkit melawan hegemoni pada masa itu terhadap penguasa despotik, yang apabila dibiarkan di khawatirkan akan lenyapnya ajaran Islam yang dibawa oleh baginda Rasul Saw.

Bersamaan dengan itu dibulan ini pula kita kedatangan bulan agustus peristiwa heroik akan revolusi Indonesia dengan mengikrarkan kemerdekaan Republik Indonesia dengan darah dan air mata kita raih dari kaum penjajah atau penguasa kolonial saat itu. Hal ini memberikan makna akan kekuatan panji-panji iman untuk meraih kemerdekaan

Beberapa momen penting tersebut antara nilai hijrah, kebangkitan, dan kemerdekaan di tengah pandemi covid akan mengajari kita untuk merefleksi nilai-nilai transformasi, kemerdekaan sejati dari konstruksi perjuangan masa lalu yang memberikan sajian-sajian pertarungan heroik antara kebenaran dan kebatilan, kesetiaan dan penghianatan, antara religi dan materi, pengorbanan dan kezaliman, dan lain-lain. Refleksi ini semoga menjadikan jiwa kita tercerahkan, kembali ke titik nol kilometer untuk meniti jalan al haq, jalan yang penuh rahmah.

GAUNG PERUBAHAN

Pusaran waktu menjadi saksi atas segala laku kita, menorehkan langgam syahdu, menyanyikan tembang kenangan indah, kita perlu selalu bertanya, adakah waktu mengubah kita (fisik, fikir, dan finansial), tak ada yang stagnan, semua bergerak maju, namun bergeraknya itu apakah jalan biasa, cepat atau berlari. Jika waktu bisa mengubah ke arah yang lebih baik berarti masih ada harapan baik, namun jika waktu terbuang percuma maka adakah yang di harapkan lebih baik.

Kata perubahan adalah sebuah makna berubah dari suatu kondisi pada kondisi yang berbeda, tentu dengan mainstream ke arah yang lebih baik, sukses, dan maju. Tiada perubahan tanpa ada sesuatu yang bermakna di baliknya, dan perubahan menggunakan waktu untuk menggeret maju ke depan dan terdepan. Mengarah pada kebaikan atau kesuksesan tidaklah mudah, merupakan sunnatullah bahwa setiap kebaikan dan kesuksesan banyak rintangan, godaan, ujian. Tiada kepayahan kecuali setelahnya ada kesuksesan, bila ingin sukses dengan melewati jalan yang mulus; itu hanyalah mimpi yang tak pernah menjadi nyata. Karena surga penuh dengan hal yang tidak menyenangkan, agar di ketahui sesiapa di antara hambanya yang mampu menembus tantangan itu.

Perubahan dengan kata kerja “berubah” memang mudah mengucapkannya, namun tidak semudah melakukannya sesulit mencapai tujuan. Oleh karena itu perubahan adalah bergerak, maju ke depan dengan proses yang terus berjalan, dengan progres untuk mengetahui indikator kinerja meretas kesuksesan. Dalam perjalanan kita jumpai aneka dinamika, dan dinamika itu terpulang kepada pada posisi di mana kita bersikap. Perjalanan waktu mencatat sejarah kita, lalu kita berada pada jalan yang mana ; jalan kebatilan atau jalan keridhaan-Nya ?. Dan hidup adalah pilihan, lalu pada pilihan mana kaki berpijak ? Sebagaimana dalam surah Al Fatihah..
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ
Artinya; (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Intinya adalah perubahan dan kebaikan, tanpa disertai kebaikan bukan perubahan namanya, tapi hanyalah bergerak. Berlomba dalam kebaikan, mengarak perubahan menuju kebangkitan dengan melawan kezaliman adalah proses-proses mencapai kebaikan, karena agama mengajak kita kepada kebaikan.
Di sinilah makna hijrah hakiki bahwa sesuatu perubahan hidup menuju keridhaan-Nya melalui jalan kenabian yang merupakan puncak kesempurnaan agama.

Memaknai peringatan hijrah bukan semata rutinitas, prosesi peringatan tahun baru hijriyah, tapi juga mengambil hikmah dan mengais makna tahun baru hijriyah yang berada pada bulan Muharram, di mana Muharram sebagai tahun baru hijriah adalah merekonstruksi kembali beberapa peristiwa, salah satunya adalah saat terjadinya prosesi-prosesi perubahan dan kebangkitan meluruskan kembali ajaran Muhammadi yang telah dikangkangi dengan mengatasnamakan agama oleh kekuatan-kekuatan yang mengarah kepada sistem politik despotik saat itu yang bangun oleh umawi. Hijrah bukan semata berada pada ruang, tapi bagaimana kita menapaktilasi jejak-jejak masa lalu yang menyejarah untuk melakukan perubahan minsed, memahami secara menyeluruh peringatan hijrah dan kebangkitan, sehingga kita memahami ajaran Islam yang sempurna dan sikap keberagamaan yang proporsional.

Adapun hijrah yang lebih utama lagi dan berada pada tingkat kesempurnaan penyucian jiwa sebagaimana jalan para anbiya, para aimmah, para auliya, adalah upaya keras untuk memberikan hati semata kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Hal tersebut disampaikan oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam mengutip Surat An-Najm ayat 42:
لا ترحل من كون إلى كون فتكون كحمار الرحى يسير والمكان الذي ارتحل إليه هو الذي ارتحل منه ولكن ارحل من الأكوان إلى المكون (وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى

Artinya: “Janganlah kau berpindah dari alam ke alam karena kau akan seperti keledai pengilingan, di mana tujuan yang sedang ditempuhnya adalah titik mula ia berjalan. Tetapi berpindahlah dari alam kepada Penciptanya. Allah berfirman, ‘Hanya kepada Tuhanmu titik akhir tujuan,’ (Surat An-Najm ayat 42).”

Maka makna hijrah tidak hanya berpindah tempat dari Makkah ke Madinah. Hijrah juga dimaknai sebagai kekuatan batin dalam menyisihkan segala sesuatu selain Allah dari dalam hati. Maka gaung perubahan dan kebangkitan dalam hijrah adalah bagaimana kita menuju titik transenden sebagai finalisasi dari visi hidup yakni dengan memfanakan diri dari kepentingan dunia, sehingga jiwa dapat bangkit melawan kezaliman, ketertindasan ;demi berlanjutnya Risalah Kenabian yang penuh rahmah, sekalipun dalam keterasingan kepentingan penguasa despotik dan pragmatisme. Hijrah adalah pembebasan jiwa dari hegemonitas makhluk menuju titik sentris Sang Khaliq sepertimana jalan kenabian sekalipun itu harus ditempuh dengan meraih cawan syahadah.

Bersaingnya antara nilai-nilai religi dan hedonis pragmatis, nilai-nilai profan dan nilai-nilai keabadian menjadikan kita harus berjuang merubah minsed mulai dari diri sendiri, lingkungan keluarga, tetangga, maupun ruang yang lebih besar. Sebab pragmatisme atau kekuasaan despotik merupakan turunan ideologis materialisme yang dianut oleh warga bumi dan bibit-bibit itu mulai menyeruak di masa khalifah Utsman bin Affan, yang kini masih terus berlanjut, tindakan sebagian inilah arus besar yang ditolak dan dilawan al-Husain serta para kerabat sehati dan para sahabat sejatinya. Dan spirit / gaung perubahan / kebangkitan ini bukan milik ummat Islam saja, tapi milik semua revolusi dunia yang pernah ada. Maka panji-panji yang dibawa olehnya bukan berkadar sektarianis, pragmatis, dan lain-lain, tetapi pembebasan manusia dari kezaliman, dan mengembalikan ajaran Islam Muhammadi, bukan Islam Umawi yang despotik.

Perjuangan ini diraih oleh jiwa-jiwa yang merdeka dari hegemoni dunia, sebagaimana sebelumnya hijrahnya Rasulullah Saw meninggalkan kota Mekkah, kota yang penuh kesyirikan dan pragmatis. Rasulullah melakukan perubahan di Madinah, revolusi masyarakat dan ruhiyah sehingga membangun madani. Bangunan masyarakat inilah yang kemudian harus tetap di rawat, di pelihara, dari kepentingan-kepentingan dunia /kekuasaan saat itu yang sekiranya apabila tidak melakukan perubahan / perlawanan / kebangkitan, niscaya akan merusak ajaran Muhammad Saw.

Berhijrah adalah gaung perubahan, maka merubah dalam segala bentuk kehinaan untuk tetap memegang panji-panji kemuliaan. Dari kemerosotan moral kepada etika kenabian, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal.

PEMBEBASAN ITU NISCAYA

Bulan Muharram bulan di mana haram melakukan peperangan, apalagi kezaliman. Keharaman ini berlaku sejak zaman jahiliah di karenakan pada masa itu para suku mengadakan gencatan senjata untuk menghargai bulan ini. Hal ini dilakukan untuk sarana pengendalian diri, dan juga sebagai sarana untuk melakukan perdamaian.

Pada era Islam juga masih berlanjut bahwa salah satu bulan adalah bulan pengharaman untuk melakukan hal-hal keji adalah bulan Muharram, hal ini dimaksudkan sebagai sarana membangun edukasi untuk terus melaku8kan kebaikan sepanjang tahunnya. Dan bulan Muharram di sepakati sebagai bulan pertama dalam penanggalan hijriah yang di tetapkan pada masa khalifah kedua Umar bun Khattab atas usul Ali bin Abi Thalib.

Nabi Saw hijrah dari Mekah ke Madinah perlambang sebuah perubahan, pembebasan manusia dari penjajahan ego, hartanya dan kekuatan para pandir di Mekah. Maka di bulan Muharram gaung pembebasan sebagai wujud dari hijrah itu sendiri adalah sebuah keniscayaan, hijrah dari kehinaan menuju kemuliaan, dari keterpurukan menuju kepada keadaban. Di bulan Muharram ini pula dalam menyambut tahun baru hijriyah, saat ini kita dapati majelis-majelis muharram untuk memperingati dengan semangat hijrah, merefkeksi berbagai peristiwa-peristiwa heroik yang pernah terjadi pada bulan Muharram ini, semoga pikir tercerahkan dan mampu menyemai hikmah yang terjadi sebagai proses perubahan, transformasi diri dan masyarakat, transformasi fikir untuk memproduksi pemahaman keagamaan bahwa Islam adalah teologi pembebasan yang harus memberikan pembelaan pada mereka yang tertindas dan terpinggirkan secara sosial. Peristiwa hijrah di mulai dari bulan muharram ini adalah kekuatan gerakan menuju transformasi Ilahi, yang merupakan kemerdekaan sejati

“Setiap hari kita sedang dalam pertarungan dan setiap tempat adalah medan pertempuran”.

Hal di atas mendedahkan prinsip dari perlawanan demi tegaknya keadilan, penentangan pada kezaliman dan kembalinya ruh agama sebagai kekuatan etika dan progresif dalam membebaskan mereka yang tertindas atas kekuatan penguasa despotik saat itu. Peristiwa-peristiwa Muharram menyadarkan dan mengajarkan ummat manusia tentang menjaga kehormatan, menegakkan hak-hak manusia, pengampunan, kemurahan hati, perjuangan, menjaga hubungan keluarga, persahabatan, kesetiaan, pertobatan, dan kasih sayang. Maka dengan hikmah tersebut adalah prototype bagi kita agar selalu menghidupkan ruh, keberanian, kearifan berfikir dan keagungan bertindak untuk membawa kapada kebaikan dan kerahmatan.

Sebagaimana pada bulan Muharram ini bersamaan dengan bulan agustus tahun 2021 adalah bulan memperingati HUT RI ke 76. Spirit kemerdekaan ini adalah juga menanamkan teologi pembebasan dari ketertindasan, bahwa kemerdekaan adalah hak asasi setiap makhluk dan hak setiap bangsa. Tak dibenarkan hegemoni atas yg lain, tak ada superior atas inferior, .setiap manusia sama kedudukan di mata Tuhan.

Kemerdekaan Indonesia diraih dari revolusi-revolusi spirit dari revolusi muharram (hijrah) dari penjajahan, ketertindasan, monopoli, dan lain-lain menuju kepada keadilan, persamaan, dan kemerdekaan. Kemerdekaan dengan mengharamkan keterjajahan diri atas ego, keterjajahan politik dari imperialis, dengan semangat menjungjung tinggi kemanusiaan dan peradaban kita akan bersama maju dan makmur, maka pembebasan itu adalah niscaya.

Setiap orang jika memiliki teologi pembebasan, pasti akan selalu dalam bingkai gerakan perjuangan untuk membangun kehidupan yang layak, sejahtera lahiriyah dan batiniyah. Yang harus dibangun adalah kerangka pikir yang mapan (integralistik & menyeluruh) akan visi misi manusia di ciptakan untuk berkhidmat pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tentu dengan kaidah-kaidah yang fitrawi yang linear dengan dimensi Ketuhanan.
Beberapa hal yang perlu menjadi stressing dalam mengambil nilai hijrah / muharram untuk meraih kemerdekaan sebagai wujud dari upaya pembebasan dan sebagai manifestasi perikemanusiaan, menifestasi cinta.antara lain ;
(1) Mengambil dari nilai-nilai pengorbanan diri meninggalkan kampung halaman, meninggakkan harta dan mengerahkan jiwa untuk menjemput hidayah di tempat yang dituju.
(2) Membangun masyarakat yang berkeadaban dalam nilai-nilai luhur kemanusiaan di bawah panji-panji kenabian suci dalam bimbingan Ilahi.
(3) Hijrah pada masa setelah Rasul; adalah upaya besar untuk mengembalikan ummat kepada ajaran yang benar dan jalan yang lurus kepada agama Muhammad Saw yang suci, maka sejarah menuntut pengorbanan manusia agung , manusia luhur, dalam pengorbanan jiwa, keluarga dan harta demi kembalinya ruh Islam yang sebenarnya.
(4)Termasuk jika melihat kemungkaran dengan bangkit melakukan perlawanan terhadap kebohongan, penipuan, kezaliman, penindasan, perampasan, kekejaman, kebiadaban, dan kekuasaan anti-kemanusiaan, manipulasi, distorsi, kemunafikan, ketundukan terhadap kezaliman, sikap diam dan kebisuan dalam menghadapi kerusakan di hadapan mata.
(5) Hijrah di masa kini termasuk upaya untuk menanamkan cinta tanah air Indonesia dari upaya-upaya radikalisme, terorisme yang merusak kehidupan berbangsa, beragama dan merusak tatanan kemanusiaan sejati, mencermati informasi dalam kepentingan eskalasi baik nasional mauoun global, tidak memproduksi menyebar dan memercayai hoax-hoax yang marak terjadi.
(6) Membangun kebangsaan yang homogen dengan saling menghargai, menghormati, peduli, dan gotong royong sesama anak bangsa sebagai manifestasi cinta
(7) Spirit hijrah /Muharram dengan selalu membangun diri, spirit jiwa yang membuncah untuk berkhidmat dalam kemanusiaan sebagai manfestasi pengabdian kepada-Nya semata.

Dalam madrasah-madrasah kehidupan gaung pembebasan dan kemerdekaan selalu menderu syahdu, menggeliatkan qalbu nurani untuk selalu tegak lurus dalam jalan pengorbanan, muharram di mana hijrah adalah madrasah jiwa bagi para pecinta, mengobarkan pelita semangat pengorbanan para al qurba Muhammad alMusthofa, hidup mulia atau mati syahid menjadi pedoman jiwa. Semoga senantiasa dihadirkan hamba di setiap jamuan-Nya, dan Syafaat Nabi Saw dan keluarganya, pada hamba yang berharap uluran kasih sayangNya.

KEMBALI KE TITIK NOL KM

(1) Covid19 Adalah Jalan

Bersamaan dengan datangnya Muharram penanda pergantian tahun hijriah atau tahun baru Islam, dan Muharran di mana awal tahun baru ini merupakan bulan pembebasan, kebangkitan dan kemerdekaan jiwa-jiwa, bersamaan oula gebgan HUT RINke 76, dan seterusnya bersamaan dengan itu akupun harus ISOMAN karena terpapar covid19.

Selintas mungkin orang-orang apriori dengan kata “pasien covid”, ada asumsi yang terbangun seolah-olah pasien covid laksana barang rongsokan yang harus dibuang jauh-jauh. Tetapi mereka tak merasakan betapa dengan covid ini melengkapi “penderitaan” dan sekaligus memberikan khazanah hidup baru. Sebagai illustrasi bahwa apa yang kurasakan justru sebaliknya suatu kenikmatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya, ada tataran pendakian spiritual yang masygul, ada kenikmatan dalam setiap perjamuan jiwa kepada-Nya dalam dzikir, doa dan sholat.

Aku terpapar corona dalam kesendirian di pojok kolong rumah, tak ada saudara, tak ada sanak keluarga, namun aku selalu yakin bahwa kondisi itu telah ada penghitungan Allah dengan teliti. Maka rasa bangga bercampur haru betapa Allah sayang dalam kondisi ini, alhamdulillah beribu kali aku bergumam: aku tak sendirian, aku tak lemah, aku tak bersedih, aku tak sakit, Allahlah yang membersamaiku.

Kondisi ini mengharapkan akupun harus berkontemplasi akan makna hijrah sebagai perubahan, dan Muharram sebagai bulan permenungan. Akupun bermunajat bahwa tiada daya upaya dalam kesendirianku, di pojok lorong buntu ini aku letakkan hati, jiwa, dan diriku pada Sang Semesta, dalam keterasingan aku mengais hikmah akan sebuah peristiwa yang telah dilalui oleh pendekar panji-panji kebenaran dengan jalan keterasingan. Tiada yang membantu kecuali sedikit, tiada yang menggagas kecuali memang yang memiliki kepekaan nurani yang melahirkan keberanian. Tiada yang dapat menolongku kecuali harapan pada Allah melalui tangan-tangan hamba-Nya yang digerakkan oleh-Nya.

Namun demikian aku sangat menikmati keterasinganku, aku hanya memantapkan jalan keterasingan ini sebagaimana sebelumnya memang saya selalu terasing. Hari Senin tanggal 2 Agustus 2021 aku berinisiatif untuk di swab, hari Rabu dua hari kemudian keluar hasil swab saya ditelpon ibu dokter Muthmainnah bahwa saya positif covid, beliau akan memberikan obat dan akan menguruskan semuanya. Dan ketika itu hari kamis 5 Agustus 2021 aku pun masih ke pasar untuk membeli segala kebutuhan untuk persiapan ISOMAN, petugas covid pun tetiba di rumah untuk mencatatkan aku sebagai salah satu pasien covid, lalu salah satu di antara satgas bertanya ; ibu sendirian di sini, lalu siapa yang akan menemani, spontan saya bergumam bahwa “Allah telah mengukurnya”.

Maka dengan nilai-nilai Muharram di mana hijrah dan kemerdekaan satu papasan dalam wadah ISOMAN , ia laksana madrasah, di dalamnya aku merenungi bahwa hidup memang harus selalu dalam “pertempuran” mengerjapkan jiwa untuk merunduk totalitas atas ketidak berdayaan hamba. Merenungi akan perjuangan Nabi Saw beserta pengikutnya, pelanjutnya, merefleksi para heoik-heroik terdahulu yang telah mengorbankan jiwa raganya demi visi kesempurnaan agama yang telah dirusak oleh kepentingan pragmatis.

Setiap hari kita sedang dalam pertarungan dan setiap tempat adalah medan pertempuran”.
Dalam ISOMAN (Isolasi Mandiri) karena terpapar covid19, itu juga bagian dari madrasah pertarungan dan pertempuran untuk mengurai jiwa yang masih pekat dengan dimensi pragmatisme, paganisme, hedonisme. Proses pertarungan membutuhkan kekhusyukan jiwa yang kudapati melalui hari-harinya. Ku temui kemerdekaan jiwa walau tampak secara kasat selintas terpenjara (tidak bisa kemanapun), kugenggam nilai pembebasan jiwa dari ghairah altruisme para syuhada nainawa, kudendangkan narasi-narasi cinta nan agung yang pernah melintasi kawanan algojo padang pasir, kurengkuh jiwa dalam peraduan sujud malam nan sepiku sendiri, dengan jiwa yang merdeka kutemui keramahan kasih-Nya, ku asyik masygul bercengkrama dalam tali pengikat hidupku, dalam keterasingan siang; kujumpai kehangatan, dalam keheningan malam; kuketuk pintu taubat-Nya, dalam kesendirian aku temui keramaian kesyukuran atas segala nikmat yang tak terhingga terasa dalam batin yang tak terlukis dalam ISOMAN ini.

Dalam ISOMAN, aku pun dapat kesempatan menempa diri laksana tembaga yang ditempa untuk menjadi emas yang berkilau. Menempa diri menjamu Sang Maha Pencipta untuk menemukan arti sebuah pertarungan dan pertempuran, menempa jiwa untuk menjadi mataair kecemerlangsn, menempa qalb untuk mengusap segala kekotoran-kekotorannya, sehingga akupun menikmati ISOMAN ini dengan jiwa yang sumringah, sesabit senyum yang manis, seceria wajah yang merekah, serasa jiwa ini membumbung ke langit arasy, mengetuk pintu Rahmat-Nya yang luasnya tak terbatas, ku raih qalbu yang masyghul karena nikmat-Nya yang tak terhingga merasuk ke dalam sanubari.

Dalam ISOMAN, aku merenung untuk kembali ke 0 Km, bahwa manusia hanyalah setetes mani yang ditiupkan ruh oleh-Nya, manusia hanyalah serakan debu yang rendah hina, maka kembalilah kepada Allah menyandarkan diri dan beranjakkan harapan hanya kepada-Nya, sepertimana tercantum dalam Al Qur’an;
“Janganlah kau berpindah dari alam ke alam karena kau akan seperti keledai pengilingan, di mana tujuan yang sedang ditempuhnya adalah titik mula ia berjalan. Tetapi berpindahlah dari alam kepada Penciptanya. Allah berfirman, ‘Hanya kepada Tuhanmu titik akhir tujuan,’ (Surat An-Najm ayat 42).”

Dalam ISOMAN, waktu bagiku menuangkan ide dan gagasan, merangkai aksara dalam seikat puisi-puisi reflektif, dalam kancah pena-pena tajam aku menorehkan kertas putih merajut asa dan inspirasi dalam sebuah penulisan. Inipun merupakan salah satu nikmat yang tidak kudapatkan selain dari pada masa-masa ISOMAN ini.

Dengan kemerdekaan itu akupun tak perlu terpengaruh dengan kondisi diluar, kondisi di mana saya yang harus sendiri melayani diri, tak ada rasa berkecil hati dan tak ada sama sekali kecewa karena aku sendirian disini tanpa orang lain yang bisa menolong, kecual atas kasih sayang-Nya alhamdulillah dapat teratasi semuanya.
Tampak selintas keterpenjaraan, namun terjadi pembentukan sel-sel imun dalam tubuh akibat serbuan covid19, sepertimana pula terbentuk imun spiritual / kekuatan spiritual yang tak terkira.

Itulah sesungguhnya pembebasan dan perjuangan kemerdekaan diri dengan membebaskan dari segala bentuk sesembahan pada kepentingan dunia yang nisbi. Penjara bukanlah “tempat” tetapi penjara adalah hati yang sempit. Memaknai penjara dalam sebuah “ruang” itu hanyalah fatamorgana, karena ruang berada dalam dimensi materi, penjara dalam sekat sisi-sisi meter persegi terbatas pada ruang , tetapi jiwa melampaui ruang-ruang sempit itu, bahkan berkelana dalam dimensi Ilahi, maka nikmat yang bagamana lagikah yang harus aku dustakan.

(2) Doa Yang Tak Terungkap

Ada banyak hal yang tercipta spirit sebagai pembangun jiwa yang dapat menginspirasi selama ISOMAN, diantaranya; ketika aku menyampaikan pesan pada salah seorang kepada sahabat karib kerabat yang sempat menghubungiku saat saya menjalani ISOMAN bahwa jika ada kebutuhan silahkan menghubunginya, maka pada setiap hari pasar akupun menitip pesan sembari bergumam sebuah kata tanpa bunyi yang terlahir spontan dari hati sebuah kalimat; “Doa yang tak terungkap”
Tepatnya hari senin 9 Agustus 2021 / 20 Dzulhijjah 1442 H saya menelpon Ummu Habib bahwa uang sudah saya titip di pagar perpustakaan, akupun terkadang menitip ini itu pada salah seorang sepupu yang berempati atas keadaanku yang terpapar covid yakni papa wiwik. Dan rasa haru menderu dalam sukma, bahwa kehidupan ini terkadang nihil dengan nilai-nilai kebersamaan /kemanusiaan, di mana yang mayority adalah yang bernilai materi. Disaat dalam kesulitan akan tertapis sesiapa yang benar-benar menggunakan kepekaan, kepedulian, dan humanitynya, gumamku “dalam doa yang tak terkatakan” padanya ; doaku pada Ummu Habib semoga dinda selalu mendapat keberkahan hidup, dan Allah pun akan memudahkan segala urusannya sebagaimana dinda telah memudahkan kesulitanku..

Benarlah apa yang telah pernah diucapkan oleh Ali bin Abi Thalib ketika ditanya salah seorang bahwa; “”sungguh banyak temanmu dan sahabatmu wahai Ali, lalu beliau menjawab : tunggu nanti ketika saya mendapatkan musibah / kesulitan. Disaat seperti inilah akan tampak mana yang loyang dan mana yang emas terhadap kita. walau demikian alhamdulillah tak secuilpun rasa kecewa, tak pula bersedih hati, aku selalu meyakinkan diriku bahwa mengharap kepada makhluk hanya akan menghasilkan kekecewaan. ISOMAN mengajariku untuk selsau bergantung kepada-Nya, dan sepertimana sebelum-sebelumnya, di mana Allah selalu mengrimkan kepadaku seseorang yang membersamaiku disaat aku membutuhkannya, disaat aku mengalami paradoksi / absurd. Maka nikmat yang bagaimana lagikah yang harus aku dustakan. Oleh karena itu selalulah berniat baik untuk melakukan kemanfaatan bagi sesama tanpa pandang bulu, niscaya Allahpun akan selalu menyertai kita.

(3) Syair-syair ISOMAN

Syair-syair gubahan jiwaku dari pojok kolong rumah, dalam menempuh jalan spiritual melewati malam-malam ISOMAN, sungguh syahdu menggema dan mengerjapkan jiwa yang merindu kasihnya.

– Hadirkan hamba di setiap jamuan-Mu..
Syafaatilah hamba yang berharap uluran kasih-Mu.

– Hati bahagia dengan paras ceria..
Menyambut embun pagi yang menyejukkan aneka bunga di taman..
Menari dan membasahi bunga yang bermekaran.
Prosesi indah yang terus berulang..
Namun selalu meninggalkan bekas kerinduan di hati.
Cerahnya pagi selalu membawa harapan setiap makhluk yang bernafas.
Kubisikkan sholawat atas Kekasih Ilahi beserta keluarganya..
Semoga hari ini menjadi lebih baik dari hari kemarin.

-Malam kan bersua lagi, masa telah berlalu dengan berpacunya waktu.
Pentas malam dengan keelokan paras rembulan..
Cahayanya menpesona punghuni bumi.
Menjadi legenda keindahan parasnya.
Duhai rembulan nan indah…
Dalam tengadahku..
Kusampaikan pesan jeritan hati.
Maghfirah-MU, Keridhaan-MU..
Syafaat Nabi beserta keluarganya..
Sebagai karunia penyelamat jiwaku..

-Disetiap desah nafasku adalah harapan..
Disetiap detak jantungku penuh permohonan..
Raihlah segala jeritan hati sebagai pengampunan..
Kasihanilah jiwa yang lemah dengan paras penuh kepalsuan.
Tiada jalanku selain Ampunan-MU..
Disetiap tempat, kemana pun parasku menghadap..
Yang tampak hanyalah Maha Suci serta Maha Agung Asma-Mu yaa Rabbi..
Sayangilah kedua orang tua hamba..
Rahmatilah jiwa orang tua kami yang telah berpulang Pada-MU.
Dalam singgasana keridhaan Nabi-Mu dan keluarganya.

-Allahumma yaa Allah..
Lembutkanlah hati kami.. 🤲
Ampunilah atas kebodohan jiwa ini.
Pisahkan kami dari jiwa yang berkabung duka karena penyesalan abadi.
Terbuai alunan bisikan janji dunia terjerat janji dusta.
Terpuruk dalam kegelapan..
Gelisah tak menentu arah.
Ampunilah jiwa yang bercakap tanpa amal kebaikan..
Bertutur hanya berbekal harapan.. Masukkan jiwa kami dalam kelambu kasih sayang-MU.
Dalam keridhaan Nabi-MU..
Sebagai jiwa yang tenang untuk menempuh jalan singgasana surgawi.

Pojok kolong rumah saat ISOMAN karena terpapar covid19
Batili Enrekang, 7 Muharram 1443 H / 16 Agustus 2021

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:

Terpopuler