Connect with us
alterntif text

Regional

Totolisi Sendana Rekor Tercepat Rampungkan SDGs di Sulbar

Published

on

Kepala Desa Totolisi Sendana, Suardi (tengah, baris kedua) bersama tim SDGs saat launching pendataan, beberapa waktu lalu di Desa Totolisi Sendana, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulbar.

MAJENE — Desa Totolisi Sendana, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, memecahkan rekor tercepat pendataan Sustainable Development Goals (SDGs) Desa di Sulawesi Barat (Sulbar).

Totolisi Sendana berhasil merampungkan data dan penginputan SDGs, sejak 25 Mei lalu. Sekaligus ditetapkan melalui musyawarah desa, 27 Mei. Itu lebih cepat dari target nasional yang ditetapkan wajib rampung, 31 Mei.

Hal tersebut dibeberkan oleh Tenaga Ahli Pelayanan Sosial Dasar (PSD), Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Majene, Muhammad Ali. Kata dia, Totolisi Sendana merupakan desa pertama dan tercepat menyelesaikan SDGs Desa di Subar.

“Paling cepat untuk wilayah Sulbar itu Desa Totolisi Sendana,” ungkap Muhammad Ali, Kamis (17/6/2021).

Ia menilai, prestasi tersebut berkat kinerja apik dari pendata maupun enumerator yang menginput data ke server. Hal itu ditunjang dukungan maksimal pemerintah desa, pendamping desa dan pendamping lokal desa setempat.

Dijelaskan, hingga saat ini masih banyak desa yang belum merampungkan data SDGs. Sehingga waktu pendataan diperpanjang hingga 31 Juli. Se-Kabupaten Majene, hanya 30 desa yang menyelesaikan pendataan tersebut.

SDGs Desa merupakan pendataan untuk pembangunan berkelanjutan di desa hingga 2030. Data ini akan menjadi rujukan perencanaan di desa.

“Selama ini proses perencanaan tidak berbasis data. Jadi 2022 ini, perencanaan desa itu basisnya di SDGS,” jelasnya.

Kata Muhammad Ali, SDGs bertujuan mencapai dua hal, yakni aspek kewargaan dan aspek kewilayahan. Dalam kedua aspek tersebut terdapat 18 indikator.

Aspek kewargaan mencakup enam indikator. Diantaranya desa tanpa kemiskinan, desa tanpa kelaparan, desa sehat dan sejahtera, pendidikan desa berkualitas, keterlibatan perempuan desa dan desa layak air bersih sanitasi.

Sementara pada aspek kewilayahan terdapat 12 indikator. Yakni desa berenergi bersih dan terbarukan, pertumbuhan ekonomi desa merata, infrastruktur dan ekonomi desa sesuai kebutuhan, desa tanpa kesenjangan, kawasan pemukiman desa aman dan nyaman serta konsumsi dan produksi desa sadar lingkungan.

Serta indikator lainnya, desa tanggap perubahan iklim, desa peduli lingkungan laut, desa peduli lingkungan darat, desa damai berkeadilan, kemitraan untuk pembangunan dan kelembagaan desa dinamis, dan budaya desa adaptif.

“Jadi ada rule pembangunan kedepan untuk pembangunan berkelanjutan. Jadi target capaiannya ini, 2030 harus bisa tercapai 18 indikator itu,” terangnya.

Kepala Desa Totolisi Sendana, Suardi menyampaikan, rekor tercepat perampungan SDGs tersebut merupakan hasil kerja kelembagaan. Sebab tahapan itu melibatkan delapan tenaga pendata yang door to door mengunjungi rumah penduduk. Serta dua enumerator yang bertugas menginput data ke server.

“Ini juga berkat peran pendamping desa dalam hal ini P3MD di Kecamatan Sendana,” ucapnya.

Untuk menyelesaikan SDGs, lanjut Suardi, Pemerintah Desa Totolisi Sendana memberikan pelatihan pada petugas pendata. Tujuannya untuk membekali strategi kecepatan dan ketepatan pengisian kuesioner yang terdiri dari 1.732 kuesioner individu dan 466 kuesioner Kepala Keluarga (KK).

Selain itu, Suardi juga menugaskan dua staf desa sebagai enumerator untuk menginput data ke server. Sengaja memilih anak muda agar lebih cekatan dan cepat menyelesaikan penginputan.

“Saya mengkhususkan dua operator ini bisa tidak datang ke kantor pada siang hari, untuk kerja di rumah dan menyelesaikan penginputan,” pungkasnya. (*)

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:

Terpopuler