Connect with us
alterntif text

Kolom

Kolom ; Belajar dari Pribadi Imam Khomeini

Published

on

Gambar Imam Khomeini (*)

Saat itu Imam Khomeini sedang berada dalam satu majelis. Tiba-tiba saja Reza Pahlevi dan Savak (polisi rahasia Iran zaman Reza Pahlevi) datang ke sana untuk membubarkan majelis tersebut. Semua orang yang berada di majelis itu berdiri kecuali Imam Khomeini.

Saat itu Imam Khomeini masih muda, tetapi keberaniannya tidak pernah surut bahkan melebihi orang-orang dewasa.

Di buku Ensiklopedia Shalat, Ayatullah Muhsin Qira’ati menceritakan juga bahwa hari itu adalah hari pertama Reza Pahlevi melihat Imam Khomeini, tetapi Reza Pahlevi mengabaikannya karena menganggap Imam Khomeini hanyalah anak muda yang memiliki keberanian, tidak lebih dari itu.

Namun, semakin lama semakin terdengar nama Imam Khomeini di telinga Reza Pahlevi. Reza Pahlevi mulai resah dan menanyakan siapa Imam Khomeini itu kepada salah satu pasukan Savak. Kata anggota Savak, Khomeini adalah ia yang ketika tuan datang ke satu majelis semua orang berdiri dan ada satu anak muda yang tetap duduk, nah ialah Khomeini.

Bila kita baca pemikiran, buku, nasihat, biografi dan kisah-kisah yang berkenaan dengan Imam Khomeini, kita akan banyak menemukan bahwa beliau adalah pribadi tegas sekaligus lembut, pemberani sekaligus bijaksana, serius sekaligus penyayang dan berilmu sekaligus mengamalkannya.

Hampir tidak pernah saya melihat orang yang begitu sungguh-sungguh dalam mendidik dirinya selain dari Imam Khomeini. Imam Khomeini termasuk orang serius dalam mendidik dirinya, menjalankan taklif dan sunnah agama.

Dari berbagai catatan— adalah Imam Khomeini yang dari semenjak masuk umur baligh, beliau tidak pernah meninggalkan shalat malam. Bahkan, dalam keadaan genting pun (pra revolusi), beliau tetap mendirikan shalat malam dan sunah-sunah lainnya, meski keadaan saat itu tidak memungkinkan bagi semua orang, tetapi karena kecintaan beliau terhadap Islam— taklif dan sunah itu menjadi mudah dan manis dalam pandangan beliau.

Pernah ketika subuh— Khanum (istri beliau) membangunkan anaknya untuk segera mendirikan shalat subuh, saat itu anaknya susah dibangunkan. Hal itu membuat Khanum agak kesal kepada anaknya itu. Kemudian Imam Khomeini menegur Khanum dengan lembut dan berkata,

“Janganlah engkau jadikan Islam yang begitu manis menjadi pahit dalam pandangan anak-anak.”

Efeknya, saat itu juga anaknya minta kepada Khanum untuk selalu dibangunkan ketika mendekati subuh.

Pernah juga, ketika Imam Khomeini memakan buah semangka. Buah semangka tersebut beliau taburi garam. Murid-muridnya bertanya mengapa. Beliau menjawab,

“Tujuan saya kan bukan enak.”

Ketika beliau ditangkap oleh Savak. Anehnya, Savak malah ketakutan. Kata beliau,

“Kalian yang menangkap saya, tapi mengapa kalian yang ketakutan.”

Ketika Imam Khomeini kembali menuju Iran, detik itu merupakan detik-detik paling ditunggu sekaligus paling menegangkan. Semua ulama dan masyarakat Iran yang mendukungnya gelisah— khawatir beliau tidak selamat. Tetapi lain halnya dengan Imam Khomeini sendiri. Ketika ditanya murid-muridnya bagaimana keadaan beliau saat di pesawat menuju Iran, beliau menjawab,

“Saya tidak merasakan apa-apa.”

Sungguh ketenangan yang luar biasa— tidak semua orang dapat meraih ketenangan tersebut.

Berkenaan dengan persiapan dan konsolidasi-konsolidasi menuju revolusi, pernah Imam Khomeini di wawancarai oleh wartawan mengenai keselamatan nyawa beliau dan saat itu beliau sedang bersama Musa Sadr. Kurang lebih beliau menjawab kepada para wartawan,

“Selama masih ada Musa Sadr, saya tidak khawatir akan revolusi. Beliaulah (Musa Sadr) yang akan melanjutkan.”

Pasca revolusi Islam Iran, banyak orang menuding bahwa Imam Khomeini menginginkan juga jabatan tertinggi di negeri Mullah tersebut. Hal remeh seperti itu sedikit pun tidak ditanggapi oleh beliau, tetapi beliau buktikan sendiri dengan sikap dan hidup yang tetap sederhana.

Meski menjadi orang nomor satu di Iran, yang bahkan kunci minyak Iran ada ditangan beliau, rumah beliau tetaplah mengontrak. Bahkan dirumah kontrakannya itu, tidak terdapat satu pun barang-barang mewah. Saat beliau meninggal, beliau hanya meninggalkan satu tasbih, sejadah, turbah dan satu pakaian beliau.

Meski nama dan perjuangan beliau di kenang sekaligus dijadikan tauladan oleh sebagian masyarakat dunia, beliau tetap enggan disebut ulama besar. Beliau menyebut dirinya hanyalah sebagai “Santri kecil yang berupaya menjalankan taklif agama.”

Benarlah pandangan sufistik— bahwa orang yang senantiasa bertumpu dan merindukan Sang Kekasih, ia tidak membutuhkan apa-apa lagi selain Sang Kekasih dan keridhaan-Nya.

—Ardi Yazdy—

* judul asli : Imam Khomeini

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler