Connect with us
alterntif text

Kolom

Kolom; Kanan atau Kiri?

Published

on

(pikiran rakyat)
alterntif text

Ahmad Faisal

Kepalan tangan betapapun adalah simbol perlawanan.

“Tangan kiri adalah simbol perlawanan kaum kita, kau marginal, kaum buruh, dan kaum tertindas, kawan-kawan semua kepalkan tanganmu” seorang orator melalui pelantang.

Di sebuah film, di poster, di buku pelajaran, atau mungkin di sebuah kongres, kita pernah menyaksikan isyarat tangan terangkat dan terkepal. Ya, sepanjang sejarah, berbagai komunitas telah menggunakannya sebagai simbol perlawanan dan solidaritas. Ekspresi tindakan yang sederhana namun demonstratif meneguhkan sikap melawan penindasan dan ketidakadilan.

Tapi benarkah, kiri adalah simbol perlawanan yang identik dengan karakter revolusioner sementara kanan identik dengan status quo dan kontra revolusi?

Ketimbang kanan, kiri lebih akrab dengan kaum revolusioner. Beberapa dari mereka menjadikan kiri sebagai simbol perlawanan. Pembebasan perbudakan, persamaan derajat, membela hak, perjuangan sosial, kritisme, serta anti kemapanan. diasosiasikan sebagai karakter yang melekat dengan golongan kiri. Begitu juga dengan progresif, radikal dan transformatif, mereka milik golongan kiri.

Orang mungkin telah mengepalkan tangan mereka karena berbagai alasan sejak lama. Namun, kemunculan pertama sejarah kepalan tangan sebagai isyarat simbolis adalah di Prancis selama revolusi 1848 yang mengakibatkan turunnya Raja Louis-Philippe, raja Prancis terakhir yang berkuasa. Ini adalah salah satu dari sejumlah pemberontakan di seluruh Eropa pada tahun 1848. Seniman Prancis Honoré Daumier melukis The Uprising untuk mewakili semangat juang mereka. Lukisan seorang pria dengan lengan digulung dan tangan terkepal.

Pada tahun 1913 di AS tentang seorang Haywood – pengunjuk rasa – mengangkat dan mengepalkan tangan. Ia berbicara kepada para pengunjuk rasa – para buruh di New Jersey. Haywood, anggota pendiri serikat Pekerja Industri Dunia, beroraso mengenai solidaritas kelas pekerja di semua ras dan industri.

“Setiap jari yang sendiri tidak memiliki kekuatan,” katanya sambil mengangkat tangannya ke arah kerumunan. “Sekarang lihat,” katanya sambil mengepalkan tangannya. Lihat ini, inilah IWW (Industrial Workers of the World).

Ferdinand de saussure. Seorang tokoh filsuf strukturalis, memberi penjelasan dari perdebatan apakah kanan atau kiri itu. Menurutnya konstruksi pemikiran manusia selalu terbentuk dalam dua oposisi biner, kemudian menjadi mainstream yang saling berhadap-hadapan. bahwa dalam tanda bahasa yang selalu mempunyai dua segi; penanda atau petanda; signifier atau signified; signifiant atau signifie. Suatu penanda tanpa petanda tidak berarti apa-apa dan karena itu tidak merupakan tanda sebaliknya, suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas dari penanda; petanda atau yang ditandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistis. “penanda dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas,” kata Saussure.

Pada dua oposisi biner, kiri akan selalu dihadapkan dengan kanan. Begitupun sebaliknya. Perbedaan keduanya berawal dari asumsi ontologis dalam mengonstruksi realitas. Dan akan berakhir pada implikasi epistemologi.

Kiri revolusioner, kanan kontra revolusi. Kanan pragmatisme gerakan, kiri anti kemapanan. Lukisan pola oposisi biner yang terlanjur melembaga dalam ruang kesadaran. Segala apa yang dilekatkan pada kiri hanyalah pemberian identitas agar berbeda dengan kanan. Gagasan kiri dan kanan Hanya pola berfikir dikotomis yang dibentuk oleh oposisi biner. Kata Ferdinand.

Lalu, bagaimana sebenarnya? Buya Hamka dalam mahakaryanya tafsir Alazhar yang ia tulis dalam penjara. Mahakarya yang mulai di publish tahun 1959, masa pemerintahan Soekarno. Seperti Ferdinand, Hamka memberi penjelasan tentang kiri dan kanan.

Menjelaskan kanan dan kiri, Hamka menukil firman Tuhan dalam Qs: Al-Balad ayat 13 hingga 18. Seorang yang melepaskan perbudakan dan memberi kemerdekaan telah menyejajarkan budak dengan tuannya, duduk sama rendah tegak sama tinggi. Yang memberi makanan di hari kelaparan pada anak yatim dan orang miskin yang sangat fakir. Adalah bentuk kasih yang kuat kepada yang lemah. Merekalah orang beriman yang salin berpesan. Mereka adalah golongan kanan bukan kiri.

Seperti banyak simbol lain yang populer dalam sejarah, kepalan tangan yang terangkat memiliki pengaruh yang bervariasi dan mengalami pergeseran makna dari waktu ke waktu, seperti pandangan dunia dan tantangan global yang telah bergeser dan berubah.

Seorang kawan yang aktif mengikuti perkembangan Palestina berkata, “lupakan kepalan tangan, sekarang saatnya mengibarkan kaffiyeh. Kaffiyeh di leher dan Kepalan tangan menghadap ke luar, kuat, balasku.

————–

Penulis lahir di pinggiran Sulawesi Barat 1996 silam. Anak pertama dari lima bersaudara. , di Alumni IAIN Parepare. Mulai gandrungi dunia tulis menulis sejak ‘ngopi’ bareng pegiat literasi kota Parepare. Sekarang aktif di komunitas AkarKata.

alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler