Connect with us
alterntif text

Kolom

Kolom Nursyamsi El Zakaria ; Berlayar dan Jurus-jurus Kerasnya Kehidupan

Published

on

Foto: Kompas.com
alterntif text

KOLOM — Masih di bulan Ramadhan tepatnya hari Jum’at tanggal 23 April 2021 / 11 Ramadhan 1442 H. Saya merlayari samudera bertolak dari pelabuhan laut pare2 menuju Kota Tarakan, sejenak jedah kegiatan Ramadhan di Kota Enrekang, karena ada hal yang strategis harus berangkat ke kota Tarakan pada tanggal tersebut dan terpaksa saya masih menyisakan beberapa agenda ceramah Ramadhan pada beberapa masjid di kota Enrekang dan agenda Mengisi Majelis Taklim Syuhada Dusun Galung Desa Tungka Kecamatan Enrekang yang sempat mengkorfirmasi saya saat itu.

Sejak melangkah dari rumah dengan bismillah tawakkal ‘alaAllah naik bis malam hingga tiba di pelabuhan Kota Perepare pukul 00.30, terus antri untuk SWAB oleh tim Medical Centre, kemudian kami menepi di pinggiran laut pasar senggol kota Parepare menikmati nasi goreng dan alvokado juice sembari menanti Kapal KM. LAMBELU yang diperkiran akan sandar di pelabuhan Parepare sekitar pukul 03.00 dinihari. Di area pelabuhan pun ada banyak tawaran barang dan jasa yang di butuhkan selama dalam pelayaran. Secara kebetulan kali ini merupakan pelayan terakhir sebelum lokcdown sehingga penjualan para pedagang asongan pelabuhan sangat sepi, para buruh angkut barang lalu lalang dengan gerobaknya menawarkan jasa angkut, dengan peluh keringat hingga larut malam bergulat dengan takdir, lagi-lagi memang penumpang sepi. Namun sekonyong-konyong setelah kapal KM. LAMBELU bersandar, berjubel penawaran barang dan jasa oleh para pedangang asongan, mulai dari makanan, minuman, buah-buahan, tikar, kipas, pulsa data, powerbank, pakaian, sarung bali, jam tangan, korek api, tissu, dan aneka barang lainnya, dengan para penjual dari segala usia dan gender, bahkan ada seorang ibu yang tampak sudah berusia senja, masih bergelut dengan dirinya hingga dinihari dan shubuh hari.

Akhirnya KM. LAMBELU pun bertolak dari Pelabuhan laut / Dermaga Parepare dengan pelayaran menuju Pelabuhan Semayang Balikpapan, terus hingga melewati siklus jadwal pelayarannya. Kali ini dalam pelayaran ternyata masih saja terus berjejal para penjual barang dan jasa dengan aneka tawarannya seperti tersebut di atas, termasuk kreatifitas para crew awak kapal menawarkan jasa semisal kamar spesial bagi yang ingin menikmati kenyamanan pelayaran, layaknya hotel dengan aneka harga, tapi kami tetap memilih untuk berada di kelas ekonomi. Tiba- tiba kemudian tanpa putus asa merekapun menawarkan jasa yang berbeda yaitu penawaran catering (mengantarkan) makanan selama pelayaran, praktis tanpa repot-repot lagi antri panjang di masa pemulihan pandemi covid.

Ada hal yang menarik bahwa para pedagang banyak diantaranya adalah awak kapal yang kebetulan tidak berugas pada jam tersebut, semisal : berjualan bubur kacang ijo, aneka minuman panas, kerupuk, powerbank, jam tangan, kacamata, pakaian, dan lain-lain dengan harga yang bersaing / murah berkualitas.

Kami terus menikmati pelayaran di bulan Ramadhan dengan menyaksi para crew awak kapal dengan aksi-aksi heroiknya menawarkan apa yang di jualnya kepada para penumpang. Special kali ini tiba-tiba sudah beberapa kali kami menikmati sajian pentolan somay seharga Rp 10.000/porsi. Ternyata penjual pentolan somay yang sering lalung lalang di dek ekonomi tempat kami tidur tersebut tak dinyana beliau adalah seorang “Juru Kemudi Kapal” (prajurit dari pada Kapten Kapal Laut), tampak dari penampilan luarnya layaknya penjual sepertinya umumnya di luar sana, tak terbayangkan betapa gagahnya ketika sedang bertugas menakodai dengan pakaian kebesarannya / seragamnya..

Begitulah dinamikanya, saling menguntungkan, memudahkan, dan juga hitung-hitung mengambil keberkahan ramadhan dengan perkenalan dalam nuansa silaturrahmi antara sesama penumpang dan kcrew awak kapal yang sedang berlayar untuk mengambil bagian dari fenomena sosial yang berjalan menyusuri takdir di atas kapal laut..

Betapa tidak, dari fenomena tersebut khususnya di bulan Ramadhan dapat di ambil sebuah pembelajaran antara lain;
1. Bahwa diantara kita tidak ada yang lebih mengungguli satu sama lain, semua memiliki talenta, dan talenta itu akan berfungsi manakala kita sudah selesai dengan diri sendiri. Apapun yang kita lakukan dan usahakan dengan varian profesi sambilan, tanpa melihat status adalah sebuah rekonstruksi jiwa yang tidak dipahami kecuali jika kita menyadari bahwa hidup itu penuh dinamika, yang seharusnya kita terus menjalani dengan pandangan bahwa manusia makhluk sosial yg saling membutuhkan, saling menguntungkan, dan saling memberi kebaikan, kemanfaatan, dan kemudahan, serta pemahaman akan makna simbiosis mutualustik karena Allah, bukan semata stransaksi ekonomi yang di ukur secara matematis belaka. Harus ada nilai yg dibangun diatas fondasi kemanusiaan bahwa hidup itu memanusiakan manusia, sebagai manifestasi Kebertuhanan kita.

2. Hidup itu tak perlu gengsi, yang menjadi penyebab jiwa kita tetap berada pada tempurung kekerdilan. Sepanjang memiliki syarat-syarat kehahalan dan kepatutan semua adalah berangkat dari gagasan bahwa manusia itu makhluk yang berfikir, penuh dengan ide untuk berkreasi sesuai pilihan masing-masing. Toh jika ada yang memiliki “posisi sosial” yang notabene berkelas menengah ke atas lalu kemudian nyambi untuk melakukan hal lain di luar profesi utamanya adalah hal yang wajar- wajar saja tanpa perlu melihatnya risih dan memandang dalam pandangan yang nisbi atau pikiran yang retak atau bahkan kita terus berkutat dalam rasa kecemburuan, sementara kita tidak mampu melakukan sesuatu yang produktif sepermana mereka, atau nyinyir kepada mereka yang berkreatifitas yang sesungguhnya menunjukkan kekerdilan diri sendiri. Padahal perlu dipahami bahwa setiap orang memiliki kapasitas, tergantung sesiapa yang mampu memanfaatkan setiap momentum di depan matanya, dimana orang-orang yang mampu mengambil moment-moment hidup tersebut adalah orang-orang yang telah selesai dengan dirinya yang menjadikannya akan selalu beranjak menuju kesempurnaan diri.

3. Perjalanan dalam pelayaran dengan kapal laut (KM LAMBELU), apatahlagi di bulan suci Ramadhan memiliki khazanah tersendiri, khususnya ketika adzan berkumandang, mengerjapkan kejolak jiwa untuk segera mendatangi Musholla yang berada di dek 7, tempat teratas pada konstruksi kapal laut, berjalan menelusuri antar dek kapal, naik ke tangga teratas, hingga menyaksikan samudra luas di tengah lautan, bahkan pandangan mata bertepi hanya melihat ujung lautan/langit yang lengang, dengan ombak yang mendesir, angin bertiup sepoih, mendengarkan lantunan takbir Ilahi. Cukup membuat hati masygul kepada Yang Maha Transenden akan KemahabesaranNya, KeagunganNya, Kasih SayangNya, dan Sungguh takjub akan KekuasaanNya memperjalankan kapal di atas lautan yang luas, sehingga kita dapat menikmati perjalanan yang sungguh indah. Inilah fenomena kosmos yang apabila kita dapat mengambil hikmah maka pelayaran bukan sekedar berlayar, tetapi terdapat destinasi Ilahiyah yang dapat meningkatkan keimanan kita KepadaNya, menumbuhkan kecintaan KepadaNya, yang akan mengantarkan output kepada jiwa-jiwa kemanusiaan universal, untuk kemudian mewujudkan outcome yang saling memberi kemanfaatan untuk meraih ridhaNya.

4. Perjalanan masih panjang, dalam setiap ujung perjalan terdapat persimpangan. Di sana ada pilihan apakah terus lurus berjalan, atau belok di persimpangan jalan, tergantung seperti apa visi misi hidup kita. Maka hidup tanpa visi misi hanya akan menjadikan kita manusia-manusia yang tidak punya arah, tidak punya memenejmen langkah dan tidak punya strategi jatuh bangun. Pelayaran kali ini memberi pembelajaran bahwa ombak yang menggulung pada akhirnya akan ke pantai, dan jauhnya manusia berjalan pada akhirnya ia akan sampai keharibaan Tuhannya. Maka nikmat yang bagaimana lagikah yang kok dustakan ?!!

Demikian sekelumit pelayaran yang sekaligus merupakan destinasi Ramadhan di bulan suci Ramadhan, destinasi silaturrahmi, dan destinasi Ilahiyah dengan segala KeagunganNya yang tampak dalam perjalanan berlayar bersama kapal laut KM. LAMBELU dari Dermaga Kota Parepare Provinsi Sulawesi Selatan menuju Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara, dalam durasi pelayaran 23-25 April 2021 / 11-13 Ramadhan 1442 H, pelayaran tiga (3) hari tiga malam dari Kota Parepare menuju kota Tarakan, dalam pelaran tersebut sebelum akhirnya sampai di kota Tarakan, juga transit sejenak di pelabuhan Semayang Kota Balikpapan, dan di pelabuhan Pantoloan kota Palu Sulawesi Tengah.

Ramadhan bulan yang terdapat kemuliaan malam Lailatul Qadr padanya. Mari mengambil jalan sukar untuk berusaha menghidupkan malamnya, mengambil kebaikan-kebaikan padanya dalam meraih ridhaNya, Amin.

alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler