Connect with us
alterntif text

Kolom

Kolom ; Masa Berkabung Sudah Cukup, Saatnya Meminta Tanggungjawab

Published

on

Berduka: Saya tidak tahu sejak kapan kita berduka secara massal seperti kejadian akhir-akhir ini. Seingat saya, duka massal itu terjadi tahun 1996 ketika Ny. Tien Soeharto, istri presiden Indonesia saat itu meninggal.

Stasiun-stasiun TV yang jumlahnya kurang dari jari-jari satu telapak tangan itu siang malam mengudarakan sanjungan dan pujian. Lagu Gugur Bunga diperdengarkan sampai level membosankan. Tentu saja orang menangis terharu biru mengingat jasa pahlawan ibu negara itu.

Itulah efek media. Dia membanjiri masyarakat dengan informasi. Semua emosi diaduk-aduk. Semua kebaikan dibongkar dan diperlihatkan. Adegan-adegan mengharukan dikoreografi dengan sedemikian rupa.

Hasilnya mencengangkan. Ketika itu masyarakat benar-benar tenggelam dalam duka panjang. Prosesi pemakaman menjadi seperti pemakaman raja dan ratu.

Namun koreografi media hanyalah, ya itu tadi, sebuah rekaan. Dia menciptakan imajinasi yang sesungguhnya absen dari realitas. Tidak sampai dua tahun kemudian, Suharto tumbang. Keluarganya, sekalipun tetap kaya raya, menjadi pariah dalam politik. Hanya kekayaan yang menjadi magnet politiknya. Dan para oportunis memanfaatkannya dengan sebisa mungkin dengan harapan memperoleh sekedar remahannya.

Sekalipun tidak persis sama, duka kita terhadap Nanggala 402 juga sama. Media mem-blow up kasus ini dalam proporsi yang tidak terbayangkan. Ketegangan (suspense) dibangun karena ada harapan bahwa kapal selam ini bisa diselamatkan. Oang bicara tentang level oksigen di dalam kapal selam itu. Dan mulai menghitung mundur.

Ketegangan inilah yang menyedot perhatian. Persis seperti plot suspense dalam sinetron atau drama Korea. Orang dipaksa untuk mengalihkan perhatian. Puncaknya adalah ketika kapal penyelamat dari Singapura memperlihatkan bahwa kapal selam ini telah pecah menjadi tiga bagian. Besar kemungkinan ketika kita semua tegang menanti berita, kapal selam ini memang sudah tidak ada lagi.

alterntif text

Jangan salah mengerti. Saya tidak mengatakan duka itu salah. Kita berduka. Kita menangisi kematian yang sia-sia dan seharusnya bisa dicegah itu.

Justru disanalah duduk persoalannya. Kita diharu biru untuk melihat hanya satu sisi. Nasionalisme kita dipompa. Kemanusiaan kita dikoyak dan kita dipaksa untuk berdoa sehabisnya.

Namun ada sisi lain yang hilang. Di setiap tragedi ada kegagalan dan kelalaian, dan di setiap kegagalan dan kelalaian ada tanggung jawab. Inilah yang hilang. Tanggung jawab. Kita menangis dan terharu biru dan lupa menuntut tanggung jawab.

Pagi ini, saya membaca berita kalau seorang penceramah agama, Abdul Somad, mengajak umatnya untuk patungan membeli pengganti kapal selam Nanggala 402. Reaksi pertama saya adalah: Wah! Darimana datangnya pikiran keblinger seperti ini?

Kapal selam adalah peralatan perang yang mahal. Kalaupun bisa dibeli, ia harus dibeli oleh negara. Kita sudah urunan membelinya dengan pajak yang kita bayar. Mengapa harus urunan lagi?

Di jaman dimana media sangat murah ini, setiap orang berlomba-lomba mendapatkan sepotong popularitas. Tidak peduli dalam masa gembira, duka, dalam pandemi atau tragedi.

Saya kira disinilah ‘gimmick’ itu dimainkan. Membeli kapal selam dengan patungan dan derma. Semudah mengumpulkan receh di perempatan jalan untuk korban bencana.

Tapi demikianlah. Semua orang berlomba mengumpulkan receh itu atas nama semua tragedi, yang bersumber dari kelalaian dan kegagalan.

Terus terang, reaksi saya atas tragedi Nanggala 402 ini bukan tangisan atau kesedihan. Saya marah. Tidak seharusnya kita sebagai bangsa memberikan peralatan yang tidak layak kepada para prajurit yang mau mengorbankan nyawanya membela bangsa ini.

Masa berkabung sudah cukup. Kita saatnya meminta tanggungjawab. Dan saya tahu broker dan pialang persenjataan adalah orang-orang paling kaya dari sejumlah orang kaya di negeri ini dan di dunia.

Oleh : Made Supriatma
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10158488629093533&id=784153532&sfnsn=wiwspwa

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler