Connect with us
alterntif text

Kolom

Esai ; Mengenang 40 Hari Wafatnya Kang Jalal

Published

on

Zuhairi Misrawi

Malam ini tepat 40 hari wafatnya Kang Jalal, panggilan akrab KH. Jalaluddin Rakhmat. Sosok cendekiawan Muslim istimewa yang dimiliki negeri ini. Keluasan ilmuanya laksana samudera. Ia menguasai filsafat, tafsir, hadis, tasauf, sejarah, bahasa, komunikasi, sosiologi, psikologi, dan politik. Ia sosok ulama ensiklopedis yang mendunia.

Saya termasuk orang yang beruntung menjadi murid spiritual dan intelektual Kang Jalal. Saya menjadi pembaca buku-bukunya yang mengantarkan saya untuk menyelami khazanah Rasulullah SAW dan keluarganya.

Saya sebagai kader Nahdlatul Ulama diijazahkan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari untuk membaca doa: “li khamsatun uthfi biha harral waba al-hathimah, al-Musthafa wal Murtadha wa ibnahuma wa Fathimah”. Maknanya: Aku mempunyai lima sosok agung yang akan memadamkan api pandemi yang sangat panas nan mematikan, yaitu Nabi Muhammad SAW, Imam Ali bin Abi Thalib, Imam Hasan dan Imam Husein, serta Sayyidah Fathimah al-Zahra.

Bacaan dan doa ini kemudian di saat pandemi dijadikan sebagai doa untuk menguatkan imunitas kita dari berbagai wabah, termasuk Covid-19. Semua kader dan warga NU melantukan doa ini setiap saat.

Pandemi membukakan hati kita agar senantiasa mengikuti jalan Rasulullah SAW dan keluarganya, karena di dalamnya terdapat kebenaran, kebajikan, dan kemaslahatan. Nah, saya termasuk kader NU yang sejak lama dapat menyelami sumudera Rasulullah SAW dan keluarganya melalui karya-karya emas Kang Jalal.

alterntif text

Selain itu, saya juga beruntung dapat mengarungi samudera ajaran Rasulullah SAW dan keluarganya melalui karya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, yaitu al-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin. Dan dari Gus Dur saya menimba ilmu untuk menikmati embun-embun kemanusiaan. Dan dari para ulama NU, khususnya KH. Achmad Shiddiq saya menimba perihal pentingnya persaudaraan. Selebihnya, saya mengenal khazanah Rasulullah SAW dan keluarganya selama kuliah di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir.

Itulah sekadar silsilah ilmu kenapa saya mempunyai kedekatan khusus dengan almarhum Kang Jalal. Almarhum adalah samudera ilmu yang telah membasahi bumi pertiwi dengan kearifan.

Foto di bawah ini adalah perjumpaan terakhir dengan Mahaguru Kang Jalal di kediamannya. Saya menempuh perjalanan dari Jakarta menuju kediamannya di Bandung, karena rindu mendengarkan nasehat dan gagasan-gagasan progresifnya. Dan seperti biasanya, yang khas dari akhlak almarhum Mahaguru Kang Jalal adalah senyum dan canda-tawa yang kerap menyertai perbincangan seserius apapun. Akhlak semacam ini ada pada para kampiun cendekiawan Muslim, seperti almarhum Nurcholish Madjid dan Gus Dur.

Mari kita kirimkan doa dan tahlil untuk orang tua, guru-guru kita, khususnya almarhum Mahaguru Kang Jalal pada malam 40 hari wafatnya almarhum dan isteri tercinta. Dan kita murid-muridnya harus terus melanjutkan pikiran-pikirannya untuk membumikan persaudaraan sesama Muslim, persaudaraan sesama warga bangsa, dan persaudaraan sesama manusia. Ila hadrati Mahaguru Kang Jalal, Al-Fatihah….

Zuhairi Misrawi

alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler