Connect with us
alterntif text

Kolom

Kolom Nur Syamsi El Zakariyya; Tentang Tahun Syamsiyah dan Qamariyah

Published

on

idntimes

 

Penulis: Nur Syamsi El Zakariyya, S.Ag., MH.
(PAI Non-PNS Kab. Enrekang)

Pekan- pekan ini masih dalam nuansa tahun baru Syamsiyah 2021, atau lazim di sebut tahun baru masehi. Tahun baru Syamasiyah di mana perhitungan awal tahun dan waktu di hitung berdasar bumi yang mengitari matahari, berdasarkan garis orbitnya.

Dalam realitas kehidupan dan realitas cosmos terdapat dualitas penciptaanNya yang saling berpasangan, dan itu merupakan tanda-tanda kebesaran-Nya dan sunnatullah di muka bumi . misalnya ada siang ada malam, ada langit ada bumi, ada adam dan ada hawa, Hal ini adalah eguiblitum, ekuiditas, untuk menjaga harmoni & keseimbangan, dan juga sebagai ‘ibrah bagi manusia bahwa hidup itu selalu menjaga harmoni dan sinergitas. Kemudian ada muslim ada kekufuran, ada mukmin ada kemunafikan, dan lain-lain bahwa ; hidup ada terbentang pilihan mana yang akan di pilih. Selanjutnya nota bene ada kesulitan, penderitaan, hambatan, tantangan dan sebaliknya ada kegrmbiraan, kebahagiaan, keindahan, dan kenikmatan yang berputar bagai roda, semua itu adalah proses dan tangga-tangga untuk menaik menjadi manusia yang ulul albab yang berfikir dalam realitas Ilahi untuk mentadabburi alam semesta ini agar selalu mengorientasikan diri kepada Penciptanya.

Fenomena pergantian tahun adalah perjalanan waktu yang tak terasa, zaman bergulir begitu laju, ada banyak yang tercipta di masa-masa waktu yang telah terlampau, seiring waktu melaju berbading lurus dengan umur, maka kitapun tetap harus melaju untuk terus belajar dan memahami, menela’ah, bertafakkur, dan mentadabburi apa yang belum kita memiliki pengetahuan tentangnya. Sekalipun bergelar sarjana, S1, S2, S3 dan seterusnya itu bukankah sekedar pencapaian predikat atau status, tapi seharusnya yang utama yang akan di capai adalah keilmuan dan kepakaran, maka sudah sepantasnya terus belajar dan membuka ruang hati untuk lebih banyak tau lagi.

Salah satu contoh pekan lalu ketika saya memposting tentang ucapan selamat “SELAMAT TAHUN BARU SYAMSIYAH 2021. Ada beberapa kemudian yang menanggapi antara lain ; menanggapi dengan candaan bahwa tahun baru syamsiyah ala ala ustadzah syamsiyah kali yah, kemudian ada yang mengatakan lho mbak ini tahun baru masehi, dan tahun baru orang islam 1 hijriyah. Tetapi saya tidak menanggapi karena akan panjang debatnya, lebih bijak jika sekalian saya tulis dalam bentuk opini.

Intinya jika kita lebih awal apriori terhadap sesuatu hal, lalu bagaimana kita akan lebih banyak tahu dan memahami realita, dan ketika kita tetap menutup jendela hati dan aqal, lalu bagaimana menghadapi gelombang kehidupan yang senantiasa berubah. Ketika kita telah menutup seluruh dimensi ruang jiwa, lalu bagaimanakah cahaya Allah itu akan masuk ke dalam qalb aqal kita. Jadi ketertutupan terhadap sesuatu realitas atau pemahaman kita sendiri boleh jadi itu adalah tabir penghalang untuk mendapatkan ilmu-ilmu-Nya atau hikmah-hikmah-Nya.

Tulisan saya dalam gambar hanya mengatakan selamat tahun baru Syamsiyah 2021 perhitungan kalender ini bertolak dari perhitungan matahari. Bukankah Allah berfirman dalam QS. Yunus ; 5

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Ayat tersebut di atas sangat jelas bahwa dengan peredaran bumi mengitari matahari dan bulan adalah tolak ukur untuk menghitung waktu dengan manzilah-manzilah masing masing. berarti kita butuh keduanya matahari dan bulan untuk menghitung waktu; menurut sistem penanggalan bilangan tahun. Perihungan Tahun Syamsiyah berdasarkan perjalanan matahari, dan Qomariyah berdasarkan perjalanan bulan.
Perhitungan Hari Syamsiyah dimulai jam 0 tengah malam, sedangkan qomariyah matahari terbenam. Jadi perhitungan syamsiyah dan perhitungan qamariah untuk mengetahui hisab sehingga kita mengetahui waktu- waktu untuk melakukan ibadah, baik siang maupun malam.

*TERDAPAT TIGA JENIS KALENDER
Menurut Muhammad Burhanuddin dalam
https://alvinburhani-wordpress-com.cdn.ampproject.org/v/s/alvinburhani.wordpress.com/2012/12/28/kalender-syamsiyah/amp/?
inburhani wordpress.com tanggal 28 Desember 2012 bahwa ; Ada tiga jenis kalender yang dipakai umat manusia.
PERTAMA,, kalender solar (syamsiyah, berdasarkan matahari), yang satu tahunnya adalah lamanya bumi mengelilingi matahari: 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik atau 365,2422 hari. KEDUA, kalender lunar (qamariyah, berdasarkan bulan), yang satu 6vv5 12 jam 44 menit 3 detik (29,5306 hari = 1 bulan) dikalikan dua belas, menjadi 354 hari 8 jam 48 menit 34 detik atau 354,3672 hari. KETIGA, kalender lunisolar, yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan matahari. Oleh karena kalender lunar dalam setahun 11 hari lebih cepat dari kalender solar, maka kalender lunisolar memiliki bulan interkalasi (bulan tambahan, bulan ke-13) setiap tiga tahun, agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari.
Kalender Masehi, Iran dan Jepang merupakan kalender solar, sedangkan kalender Hijriyah, Jawa dan Sunda merupakan kalender lunar. Adapun contoh kalender LUNISOLAR adalah kalender Imlek, Saka, Buddha, dan Yahudi. Semua kalender tidak ada yang sempurna, sebab jumlah hari dalam setahun tidak bulat. Untuk memperkecil kesalahan, harus ada tahun-tahun tertentu menurut perjanjian yang dibuat sehari lebih panjang (tahun kabisat atau leap year).
Pada kalender solar pergantian hari berlangsung tengah malam (midnight) dan awal setiap bulan (tanggal satu) tidak tergantung pada posisi bulan. Adapun pada kalender lunar dan lunisolar pergantian hari terjadi ketika matahari terbenam (sunset) dan awal setiap bulan adalah saat konjungsi (Imlek, Saka, dan Buddha) atau saat munculnya hilal (Hijriyah, Jawa, dan Yahudi).
yang satu tahunnya adalah lamanya bumi mengelilingi matahari: 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik atau 365,2422 hari.
Kedua, kalender lunar (qamariyah, berdasarkan bulan), yang satu tahunnya adalah dua belas kali lamanya bulan mengelilingi bumi: 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik (29,5306 hari = 1 bulan) dikalikan dua belas, menjadi 354 hari 8 jam 48 menit 34 detik atau 354,3672.

*PENAMAAN TAHUN HIJRIYAH
Awal penanggalan Hijriah Qamariah sama dengan Hijriah Syamsiah telah di sebutkan hijrah Nabi SAW dari Mekah ke Madinah pada 622 Masehi. Walaupun sesungguhnya Awal hijrah Nabi Saw dari Mekah pada hari Senin, 1 Rabiul Awal yang bertepatan dengan 16 September 622. Sementara Nabi Saw tiba di Madinah pada 8 Rabiul Awal di tahun yang sama. Sebagian ulama mengatakan Nabi Saw tiba di madinah saat hijrah pada tanggal 12 Rabi’ul awal.

Keputusan menjadikan hijrah sebagai awal kalender Tahun Baru Islam, atau Kalender Hijriah Qamariah disusun dan ditetapkan di masa kekhalifahan Umar bin Khatthab pada tahun ke 637 M, atau sekitar tahun ke-16 Hijriyah, walaupun ada pendapat lain yang mengatakan pada tahun ke-17 H. Penetapan tahun hijriyah tetsebut melalui rekomendasi dan usulan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra. Usulan itu, diambil di mulai dari bulan Muharram dengan pertimbangan bulan Muharram sebagai waktu kemenangan Muslim pada Bai’at Aqabah II. Bai’at itu menandai penyerahan kekuasaan (istilam al-hukm) dari kaum Anshar kepada Nabi SAW. Sehingga penanggalan pertama Hijriah Qamariah jatuh pada hari Jumat, 1 Muharram tahun pertama Hijriah Qamariah yang bertepatan dengan tanggal 19 Juli 622.

*DALIL-DALIL AL QUR’AN TENTANG PERHITUNGAN WAKTU

Ayah-ayat Al Qur’an tentang kalender matahari (Syamsiyah)) & kalender bulan (Qamariyah) antara lain;

QS. Al-Isra Ayat 12
وَجَعَلۡنَا الَّيۡلَ وَالنَّهَارَ اٰيَتَيۡنِ‌ فَمَحَوۡنَاۤ اٰيَةَ الَّيۡلِ وَجَعَلۡنَاۤ اٰيَةَ النَّهَارِ مُبۡصِرَةً لِّتَبۡتَغُوۡا فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَلِتَعۡلَمُوۡا عَدَدَ السِّنِيۡنَ وَالۡحِسَابَ‌ؕ وَكُلَّ شَىۡءٍ فَصَّلۡنٰهُ تَفۡصِيۡلًا‏
Artinya;
”Dan Kami jadilan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami). Kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan penghitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.”

QS. Yasin ; 37
وَءَايَةٌ لَّهُمُ ٱلَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ ٱلنَّهَارَ فَإِذَا هُم مُّظْلِمُونَ
Artinya: “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan”.

QS. Al Isra :12 san QS. Yasin ; 37 tersebut memberikan pembelajaran bahwa terdapat tanda bagi manusia yang menunjukkan kekuasaan Allah, yaitu malam ketika terlepas dari siang, ketika itu manusia akan berada dalam gelap gulita, agar mereka dapat tidur dan beristirahat, serta mengambil fadhilah ibadah malam hari. kemudian suasana gelap yang mengena sebagian bumi digantikan oleh terang dengan terbitnya matahari, lalu menyinari berbagai penjuru bumi, siang diciptakan untuk mencari penghidupan dan mencari karunia Allah, maka manusia dapat bertebaran di muka bumi.

QS. Yasin Ayat 38
وَٱلشَّمْسُ تَجْرِى لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ

Artinya: “Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.

Ayat 38 surah yasin ini memberikan ‘ibrah bahwa bukti keesaan Allah adalah matahari yang beredar dalam orbit yang Allah ketahui kadarnya, tanpa bisa dilampauinya. Penentuan itu adalah penentuan Allah yang Maha Perkasa yang tidak dikalahkan oleh siapa pun, Maha mengetahui yang tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya terkait urusan-urusan makhluk-Nya.

QS. Yasin ; 39 وَٱلْقَمَرَ قَدَّرْنَٰهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَٱلْعُرْجُونِ ٱلْقَدِيمِ
Artinya: ‘Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.

Rembulan ini juga merupakan salah satu tanda Keangunan-Nya, sebagai ‘ibarat bagi makhluk-Nya, bahwa Allah menetapkan sebuah manzilah pada bulan, tanda agung ini tentang penciptaan dan posisinya setiap malam; pertama-tama ia muncul dalam bentuk yang kecil, kemudian sedikit demi sedikit ia membesar hingga menjadi bulan yang bulat sempurna, lalu ia kembali menipis dan melengkung seperti tandan kurma yang menua.

QS.Yasin ;40
لَا ٱلشَّمْسُ يَنۢبَغِى لَهَآ أَن تُدْرِكَ ٱلْقَمَرَ وَلَا ٱلَّيْلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِ ۚ وَكُلّ
فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
Artinya: “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”.

Ayat di atas adalah bukti-bukti matahari dan rembulan, siang dan malam ditetapkan dengan ketentuan dari Allah, ia tidak akan melampaui batas yang sudah ditentukan untuknya. Matahari tidak akan mendahului rembulan untuk merubah perjalanannya atau melenyapkan cahayanya; malam tidak mungkin mengejar siang dan datang sebelum siang selesai. Semua makhluk yang ditundukkan ini dan juga bintang-bintang dan planet-planet lainnya mempunyai orbit edar berdasarkan takdir dan penjagaan dari Allah.

Kemudian Dia menjadikan keduanya silih berganti; bila yang satu datang maka yang lainnya pergi, demikian pula sebaliknya. Seperti yang disebutkan dalam ayat lainnya:
QS. Al A’raf ; 54
{يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا}
Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat.
Sebagaimana yang disebutkan di dalam suatu hadis yang mengatakan:
“إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ”
Apabila malam hari tiba dari arah ini dan siang oleh firman-Nya:
QS. Al Hajj ; 61
{يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ}
Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam.

alterntif text

Dan Allah menjadikan kekuasaan matahari pada siang dan kekuasaan bulan pada malam hari. Allah menentukan bulan pada manzilah-manzilah (tempat-tempat bagi perjalanan bulan), maka mula-mula bulan itu kecil, kemudian cahaya dan bentuknya semakin bertambah sehingga menjadi penuh cahayanya dan sempurnalah purnamanya, kemudian mulailah mengecil hingga kembali kepada bentuk semula dalam waktu satu bulan

QS. Lukman; 29
أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُولِجُ ٱلَّيْلَ فِى ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِى ٱلَّيْلِ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَأَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Maksudnya tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah mengurangi waktu malam untuk menambah waktu siang, atau mengurangi waktu siang untuk menambah waktu malam dan Dia menentukan perputaran matahari dan bulan, maka masing-masing berputar menurut jalurnya hingga waktu yang telah ditentukan, dan bahwasanya Allah Maha Mengetahui, tidak ada sesuatu pun dari amal perbuatan kalian yang luput dari-Nya dan Allah akan membalasnya atas kalian.

*POLEMIK TAHUN MASEHI

Dari dalil-dalil tertera di atas kita mencoba mengillustrasikan bahwa perhitungan matahari atau bulan, dengan kata lain tahun syamsiyah & tahun qamariyah bahwa apakah perhitingan /kalender Syamsiyah (matahari) tersebut tidak Islami atau hanya di streotifkan sebagai milik kalender Kristiani / Masehi ? Sehingga hanya kalender Qmanariyyah ( Hijriyyah) yang ?.
Islami
Sebagaimna telah saya sebutkan di atas bahwa Bukankah Allah berfirman dalam QS. Yunus ; 5

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Artinya;
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Ayat tersebut sangat jelas memberikan bukti bahwa Allah menciptakan matahari & bulan di mana bumi beredar mengitari keduanya sesuai fitrahNya SUNNATULLAH) agar manusia mengetahui perhitungan (waktu).

Sebagai salah satu contoh lagi QS. Al Isra : 78
أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيْلِ وَقُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Artinya: “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

Demikian juga dalam ritual ibadah puasa ramadhan, perhitungan tahun matahari dan tahun bulan keduanya di perlukan. Dalam Hadis Nabi dijelaskan, “Berpuasalah kamu sekalian karena melihat bulan dan berlebaranlah kamu dengan melihat bulan.” Berarti dalam menentukan awal Ramadhan dan 1 Syawal menggunakan bulan. Sedangkan mulai berhenti makan(imsyak) dan berbuka puasa, penentuan waktunya menggunakan perhitungan matahari

Ayat dan haditss Nabi Saw tersebut di atas sangat jelas bahwa waktu perhitungan awal sholat pada siang hari adalah saat cenderungnya matahari ke arah barat. Pertanda bahwa perhitungan syamsiyah sangat urgent untuk menentukan salah satu ibadah dalam Islam. Kalau menentukan waktu shalat menggunakan perhitungan matahari,
Oleh karena itu sesungguhnya sangat ironi jika mengkonotasikan kalender syamsiyah dengan streotif-streotif tertentu bahwa itu di nisbahkan kepada kalender kristiani. Baik “kalendar matahari” maupun “kalender bulan” keduanya merupakan sunnatullah, dan disebut Islami. Syamsiah-Hijriyah keduanya sesuai sunnatullah artinya bahwa bulan dan matahari beredar mengikuti “aturan”-Nya, sesuai dgn ajaran Islam.

Dan seluruh manusia sejagadraya membutuhkan perhitungan matahari dan bulan untuk aktifitas ibadah maupun untuk aktifitas kehidupan. Kalender matahari misalnya di erofa diperlukan untuk perhitungkan fenomena yang terkait dengan musim, yang tentu saja berkaitan dengan aktifitas manusia. Jadi tidak terlepas dari apapun agamanya semua membutuhkan perhitungan kalender Syamsiyah dan qamariyah untuk kebutuhan kehidupan baik kehidupan ibadah ritual maupun aktifitas lainnya, khususnya ummat Islam.

Dan pada umumnya ummat Islam turut merayakan tahun baru masehi yang mereka ketahui adalah di nisbahkan kepada kaum Krustiani, sehingga sebagian muslim yang lain tidak merayakannya karena menganggap ini bukan hal Islami. Padahal perayaan pergantian tahun masehi dalam Al Qur’an di katakan Allah menciptakan matahari untuk di pakai dalam perhitungan waktu. Oleh karena itu penamaan tahun masehi ini mestinya di nisbahkan kepada tahun syamsiyah sebagai tahun ummat muslim juga. Baik “kalendar matahari” maupun “kalender bulan” keduanya merupakan sunnatullah, dan disebut islami Syamsiah-Hijriyah. Islami di sini bukan berarti (hanya) milik umat Islam, tapi kaidah kehidupan adalah sunnatullah Keduanya Syamsiah-Hijriyah adalah tahun Islami, dan siapapin “ummat” di muka bumi ini boleh memakainya, justru kerugian besar bagi ummat Islam jika hal ini tidak menjadi populer sebagai tahun orang islam juga. Alangkah rugi ummat Islam kalau tahun baru syamsiyah justru bukan kita yang merasa memilikinya. Orang Arab menyebut tahun ini sebagai tahun Syamsiah. Tahun yang menggunakan peredaran matahari sebagai penentu penghitungan waktunya. Bahasa Arabnya disebut Falak. Sedangkan kalender satunya lagi yaitu Tahun Qamariah (Hijriah), yang menggunakan peredaran bulan sebagai penentu penghitungannya. Orang Arab menyebutnya Qamariah.
Ternyata kalender matahari tertera dalam Al-Qur’an, tapi tidak ada di Injil dan Bibel (Taurat). Oleh karena itu mengapa kita tidak mengetahui & merasa bahwa itu adalah sunnatullah untuk perhitungan waktu matahari yang kita gunakan beribadah dan mencari karunia Allah. Dan kalender syamsiyah dan qamariyah tidak berafiliasi terhadap komunal tertentu, demikian ciptaan Allah untuk perhitungan waktu yang boleh di guanakan untuk seluruh manusia di muka bumi.

QS. Al-Isra Ayat 12 , ini adalah kalender perhitungan Syamsiyah (matahari)
وَجَعَلۡنَا الَّيۡلَ وَالنَّهَارَ اٰيَتَيۡنِ‌ فَمَحَوۡنَاۤ اٰيَةَ الَّيۡلِ وَجَعَلۡنَاۤ اٰيَةَ النَّهَارِ مُبۡصِرَةً لِّتَبۡتَغُوۡا فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَلِتَعۡلَمُوۡا عَدَدَ السِّنِيۡنَ وَالۡحِسَابَ‌ؕ وَكُلَّ شَىۡءٍ فَصَّلۡنٰهُ تَفۡصِيۡلًا‏
Artinya;
”Dan Kami jadilan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami). Kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan penghitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.”

Dalam pengamalan hidup sehari-hari, tahun matahari dan tahun bulan sama-sama dipakai. Kalau menentukan waktu shalat menggunakan perhitungan matahari, karena kegiatan manusia banyaknya dilakukan di siang hari. Waktu istirahat kerja, di negara mana pun, waktunya tepat pada saat makan siang dan waktu shalat dhuhur. Berhenti kerja, bertepatan dengan waktu shalat ashar. Saat maghrib, orang kebanyakan sudah berhenti bekerja semua.

REFLEKSI TAHUN BARU
Banyak cara orang mensikapi dalam menyambut tahun baru, itu terpulang kepada manusia cara meresponnya. Ada yang bakar ikan atau baka jagung ngumpul bersama, dengan riang gembira. Menjadi acara tahunan respon-respon semacam ini untuk ajang silaturrahmi, atau reunian dan lain-lain. Bagi kita ummat Islam mengapa tidak kita menyambut juga karena tahun syamsiyah, yang sesungguhnya termuat di dalam Al Qur’an, tetapi baiknya kita menyambutnya, merefleksiksn diri dengan muhasabah seperti apa value satu tahun lalu, dan bagaimana tahun berjalan ke depan untuk mengisinya dengan kesuksesan-kesuksesan lahiriyah maupun batiniah atau refleksi diri, intropeksi untuk melakukan hal produktif, dan membuat resolusi untuk menapaki tangga-tangga kesemppurnaan diri.

Kemudian dengan MUHASABAH ATAU PEMBAJAAN DIRI >>> Hasibu anfusakum qobla antuhasabu (hisab-hisablah dirimu sebelum engkau di hisab). QS. Al Hasyr ; 18
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Sejurus dengan itu mari tingkatkan hablum minallah & Hablum minannas
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ

KATA KUNCI ;
1. Allah Swt menciptakan langit & bumi, menciptakan siang dan malam, menciptakan matahari dan bulan, kemudian menciptakan bumi yang beredar mengitari matahari dan bulan, sehingga manusia dapat mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Semua itu tanda-tanda kebesaranNya Yang Maha Transenden. Matahari dan bulan tersebut Allah ciptakan bagi manusia tanpa mengenal atau memilah milah komuna- komunal tertentu sehingga semua manusia bisa saja menggunakan perhitungan kalender matahari (Syamsiyah) atau perhitungan bulan (Qamariyah), justru itulah sesungguhnya yang dikatakan Islami
2. Islam secara etimologi berarti tunduk, patuh, taat totalitas, selamat, damai, pasrah. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada padanya semua tunduk, berjalan sesuai sunnatullah, dan fitrahnya.
3. Allah menciptakan sesuatu secara “berpasang-pasangan”, baik dalm realitas cosmos maupun wujud dalam konteks interaksi sosial ruang dan masa. Semua itu agar tercipta harmoni dan keseimbangan. Dan ternyata fenomena cosmos jauh lebih tunduk, patuh pada sunnatullah, berjalan, beredar mengikuti fitrahnya, ketimbang manusia yang terkadang mengkapling-kapling diri dalam komunal-komunalnya, bahkan terkadang terjadi permusuhan karena perbedaan-perbedaan tertentu yang seharusnya memahami realitas ciptaan-Nya yang heterogen dan dinamik.

4. Allah menciptakan segala apa yang wujud di muka bumi, “mutiara” bertebaran di mana saja, ambillah mutiara itu sekalipun ada di kutub utara atau selatan, mutiara laksana ilmu, maka sesiapun yang dapat memanfaatkannya. memfungsikan, dan mengelolah dengan baik ciptaan Allah tersebut, maka merekalah yang akan memiliki otoritas. Maka sesungguhnya kalender Syamsiyah saja atau merayakan tahun baru Syamsiyah, kenapa kita muslim tidak merasa memilikinya & mengapa justru mereka mengambil peran- peran untuk menyambut bagian dari apa yang tertera dalam ayat-ayat qauliyah. Apatahlagi persolan yang lain haruskah kita juga apriori, & defensif. Di situlah kekalahan kita karena ketidakmampuan kita untuk membuka ruang jiwa untuk berkontestasi, berkompetisi, berfastsbiqul khairat, berlomba dalam memahami dan mengambil hikmah-hikmah penciptaan-Nya untuk menciptakan kemaslahatan dan menghadirkan kerahmatan.
SELAMAT TAHUN BARU SYAMSIYAH 2021, semoga peran-peran kita menyejarah sepanjang waktu, bersama kita Allah Swt. Amin.

Enrekang, Sabtu, 25 Jumadal Ula 1442 H / 9 Januari 2021.

alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler