Connect with us
alterntif text

Kolom

Kolom Nur Syamsi El Zakariyya; Jihad an-Nafs dan Pilkada

Published

on

alterntif text

Penulis : Nur Syamsi El Zakariyya, S.Ag.,MH (PAI Non-PNS Kab.Enrekang)

Ketika Rasulullah SAW melihatp yang baru kembali dari sebuah peperangan, beliau bersabda;

“Selamat datang wahai orang-prang yang telah melaksanakani jihad kecil, dan masih tersisa bagi mereka jihad akbar..
” KETIKA ORANG-ORANG BERTANYA TENTANG MAKNA JIHAD AKBAR, RASULULLAH SAW MENJAWAB; JIHAD AN NAFS (JIHAD MELAWAN DIRI SENDIRI”).

Sering kita menilai sesuatu dari sisi lahiriyahnya saja, dan menganggap itu yang hebat. Apa bedanya ketika kita pasti lebih menyukai rasa manis tinimbang yang pahit, padahal yang pahit itu memberi makna. Atau seringkali kita menilai secara teks belaka, namun yang sejatinya adalah ambillah makna yang sebaliknya, karena itulah hakikat yang di maksud.
Dalam istilah ushul fiqh ada istilah / qaidah MAFHUM MUKHALAFAH, artinya;
(Mengambil makna yang kebalikan / tersirat, untuk mengetahui makna yang di maksud)

Lalu apa hebatnya yang kasat indera dibanding pandangan batiniah/bashirah. Pandangan yang kasat indera yang tampak hanya sebatas sisi-sisi dari penglihatan mata kasat, sementara ketika memandang dengan mata terpejam/batiniah: maka seluruh sisi-sisi itu akan tampak. Misalnya di katakan hebat karena memenangkan peperangan, atas musuh, pertarungan atas lawan, kompetisi atas pesaing yang lain, padahal kehebatan yang demikian adalah kehebatan yang masih pada dataran rendah. Sejatinya kehebatan/ kemenangan yang di maksud adalah kemenangan meraih puncak kemuliaan setelah mampu berhadapan dengan jihad an nafs, atas musuh terbesar yaitu diri sendiri.

Sebagai illustrasi; ketika sekelompok orang menabuh perang dengan abstraktif, dengan jumlah pasukan yang notabene besar, berpakaian lengkap dengan pongahnya demonstratif dengan klaim kemenangan.Ternyata lupa bahwa sesungguhnya klaim itu menurut kebenaran atas pandangannya sendiri, dan tak mampu memerangi musuh atas dirinya sendiri (yang maunya seenak perutnya). Maka sebelum “berperang/jihad” agar kemenangan diraih, menangkan terlebih dahulu pertarungan atas dirimu sendiri, selesaikan dirimu jika ingin kemenangan yang hakiki. Penyataan Rasulullah di atas, konteksnya ketika usai menang pada perang badar, lalu menyampaikan kepada para sahabatnya bahwa setelah kemenangan ini ada peperangan/jihad yang lebih dahsyat yaitu jihad an nafs.

Berbincang tentang jihad an nafs dalam diskursus dewasa ini khususnya di Indonesia adalah bisa di kaitkan dan di artikulasikan dengan pertarungan dalam dunia politik, di mana dalam konteks kekinian sarat dengan pertarungan meraih kekuasaan, berarti berbanding lurus dengan kompetisi-kompetisi pragmatisme. Dalam hal ini seorang filosof terkemuka (Aristoletes mengatakan bahwa “politik adalah Etika”), demikian juga perkataan (Ali bin Abi Thalib bahwa “politik itu adalah pengkhidmatan, jika politik itu adalah semata untuk kekuasaan maka tinggalkanlah)”.

Lha kok larinya ke politik??!,, Ketahuilah bahwa meraih kekuasaan dalam jabatan politis di sanalah ujian terberat untuk jihad an nafs (melwan diri sendiri), apakah kita tetap teguh dalam etika kenabian, misi pengkhidmatan, atau terperosok dalam lubang hawa nafs, sementara nafsu adalah klasifikasi kemanusiaan yang terendah. Maka demikian juga perkataan hikmah dari Ali bin Abi Thalib jika ingin mengukur keimanan seseorang maka jangan hanya lihat lamanya dia bersujud, jangan hanya lihat panjangnya jenggotnya, dan jangan hanya lihat panjangnya surbannya / lihat bajunya, tapi beri ia kekuasaan, beri ia duit, dan beri ia wanita, baru tuh kelihatan aslinya.
Jelas sekali hadits Nabi Saw tersebut tentang ujian kemenangan untuk jihad an nafs, dan perkataan hikmah Ali bin Abi Thalib tentang ukuran keimanan, tidak hanya ada pada penampakannya secara lahiriyah, tapi substansi dari semua itu hakikatnya adalah kedirian / jati diri yang prima. Maka kemenangan melawan nafs, dan meraih jati diri akan terukur keimanan setelah melrwati ujian-ujian atas tahta, harta, dan wanita. Dan waktulah yang akan membuktikannya apakah seseorang itu emas atau loyang..

Maka sesungguhnya medan-medan politik untuk meraih kekuasaan pada tataran struktural justru medan-medan jihad yang kualifikasinya rendah, atau medan-medan politik pada tataran rendah adalah yang “struktural”, apalagi jikalau motivasinya semata kekuasaan, ranah struktural (terkaiit dengan kekuasaan, jabatan-jabatan politik struktural, dan lain-lain), walaupun itu adalah realitas yang wujud, tetapi ada jalan jihad yang setingkat lebih tinggi di atas dari pada sekedar struktural yaitu cita-cita tatanan masyarakat Madani melalui medan-medan kultural. Berarti tujuan politik untuk pengkhidmatan adalah tujuan kultural untuk membangun masyarakat yang berkeadilan, berkeadaban, berkemajuan. Maka politik tanpa etika kenabian, praktis jalan keadaban akan buntu, dan cita-cita politik tanpa arah tujuan yang jelas kecuali untuk kepentingan pragmatis, kepentingan diri dan keluarga, dan lain-lain.

Baru saja ada perhelatan akbar PILKADA serentak 2020, dimana pertarungan demokrasi yang super ketat Jika yang terjadi misalnya sikap kekecewaan yang mendalam atas kekalahan, dan sebaliknya ada efouria atas “kemenangan”, biasanya efek domino antara kedua sikap kempetitor di atas terhadap dirinya sama- sama terdapat domain emosi dan menjadi korban permainan syetan / hawa nafsu, bahwa bagi yang kalah akhirnya biasanya melahirkan anarkisme, penggembosan, atau terus membuat kegaduhan, dan bagi yang menang melahirkan superior dan balas dendam, sikat abis terhadap yang di anggap lawan, dan tidak memberi peluang kepada orang jika dianggap punya potensi akan menjadi pesaingnya. Begitulah sikap-sikap bagi kedua kempetitor atau bagi siapa saja yang memganggap bahwa politik itu hanya kekuasaan, pragmatisme, dengan mengatasnamakan kesejahteraan, atau pengabdian, padahal cara-cara politik oligharki dari kaum borjouis.

Yang idealnya adalah kompetisi yang berkeadaban; bagi yang kalah bertarung, maka tidak mengkambinghitamkan kekalahannya kepada orang lain, karena itu namanya apologies atau ngeles, dan jika menang dalam kompetisi; tidak kemudian jumawa, besar kepala dengan kegembiraan yang meluap- luap itu juga namanya emosional. Dan ketika kompetisi itu selesai maka beberapa pihak kempetitor hendaknya yang menang merangkul yang kalah, dan yang kalah bertarung hendaknya mendukung yang menang, sama-sama menghargai demokrasi dengan sikap saling mengakomodasi, saling membantu untuk kemajuan bersama dan pemberdayaan, dan berkontribusi sebagai pembelajaran kedewasaan berdemokrasi.

Oleh karena itu hadits tersebut di atas secara “mafhum mukhalafah ” terdapat makna spirit yang sangat filosofis yakni apapun hasil dari kompetisi maka tetaplah kokoh di atas “jiwa yang prima”, Karena kompetitor selanjutnya yang sesungguhnya adalah diri sendiri , maka hendaknya tetap “prima” pada tataran mana kita berada dan berperan, atau peran-peram apa yang dipilihkan Allah Swt setelah berikhtiar.

Demikian juga kemenangan adalah tegar ketika kesulitan menjumpai, seyakin mana kita berada di lajur kebenaran, dan secerdas bagaimana stratégi yang kita tempuh melawan kezaliman, seadil bagaimana diri kita bertegur sapa dengan musuh/kompetitor kita, dan sesederhana bagaimana kita menghadapi dunia yang nisbi. “Jiwa Prima” yang saya maksud di sini adalah pengendalian diri, berlapang-lapang, tidak berlebihan/ sikap yang biasa-biasa saja, dengan prinsip.”have nothing to loose”, adil pada diri sendiri dan adil pada orang lain, dan lain-lain. Dan di manapun manusia berproses semua ada peran-peran stratégies, tergantung bagaimana memaksimalkan “pengkhidmatan” sebagai visi manusia diciptakan, untuk selanjutnya akan terbangun masyarakat dengan peradaban tinggi..

Kata-kata jihad umumnya di maknai “berperang, melawan musuh, melawan kezaliman. Yang lebih luas lagi makna jihad menurut saya adalah mengambil makna yang tersirat, untuk mengetahui makna yang di maksud, yakni jihad adalah kata sifat dari akar kata jahada yamg berarti bersungguh-sungggh, oleh karena itu jihad dalam konteks ini adalah kesungguhan untuk meraih kemuliaan, menuntut ilmu, bersungguh-sungguh untuk sampai ke jalan “pengenalan”, dengan bersungguh- bersunggguh, berkompetisi dalam kebaikan. Dan tidak memaknai jihad dengan hanya teriak-teriak di jalan Takbir, tetapi dibarengi dengan ungkapan yang menyelisihi akhlaqi, dengan ucapan yang tak pantas sebagai muslim, ucapan yang tak terkontrol, dan kata- kata yang membangkitkan amarah dan tidak sadar bahwa bukankah justru kitalah yang telah melakukan kezaliman dan keburukan itu, apatahlagi kalau sudah brutal dan tidak mampu mengendalikan diri. Penyampaian sesuatu terhadap yang apa yang dipersepsikan kebenaran menurut tafsirannya sendiri dengan penuh amarah, dengan caci maki, dengan memperolok-olok, serta memberi laqab-laqab yang tidak layak di ucapkan sebagai mukmin, sikap demikian maka “jihad an nafs adalah juga makna yang di maksud.

KATA KUNCI; Politik untuk tujuan kultural untuk kemanusiaan universal. Dan pengkhidmatan (pengabdiaadalah pengkhidmatann) adalah visi utama manusia di ciptakan. Kualifikasi manusia terukur pada kualitas pengabdiannya, yang memiliki titik persekutuan dengan nilai akhlaq sebagai kualitas respon kepada Sang Khalik. Maka jihad terbesar adalah jihad an nafs (jihad melawan diri sendiri).

Allah berfirman dalam QS. Al Isro’ ayat 36 :
ان السمع والبصر والفؤاد كل اؤلئك كان عنه مسؤلا artinya : Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.(*)

alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler