Connect with us
alterntif text

Kolom

Kolom Dina Sulaiman; Mengapa Israel Membunuh Saintis Iran?

Published

on

(gambar: TRT World)

Dina Sulaiman (Penulis, Pengamat Timur Tengah)

Seorang saintis top Iran, Dr. Mohsen Fakhrizadeh, gugur akibat serangan teror (Jumat, 27/11/2020). Dr. Mohsen mengepalai Organisasi Riset dan Inovasi Pertahanan Iran. Selain mengurusi proyek nuklir Iran, dia juga terlibat dalam pembuatan test-kit Covid dan vaksin Covid, yang kini sedang di tahap ujicoba pada manusia.

Pemerintah Iran dengan segera menyebut Israel sebagai pelaku pembunuhan ini. Mereka yang mengikuti dengan intens konflik Iran-Israel akan tahu, bahwa ini bukanlah tuduhan kosong.

Alasannya, pertama, karena yang paling berkepentingan dengan tewasnya saintis Iran adalah Israel. Dalam berbagai forum, mulai dari sekelas Sidang Umum PBB, hingga wawancara biasa, para petinggi Israel sangat sering menyebut nuklir Iran sebagai ancaman bagi dunia.

Nama Fakhrizadeh pun sebenarnya diperkenalkan ke publik oleh Netanyahu. Tahun 2018, ketika Netanyahu untuk kesekian kalinya berkoar-koar soal bahaya “senjata nuklir yang dibuat Iran”, dia berkali-kali menyebut Fakhrizadeh. “Ingatlah nama ini, Fakhrizadeh,” kata Netanyahu.

Yossi Melman, jurnalis Israel, menulis tweet soal pembunuhan atas Fakhrizadeh, menyebutnya “dia adalah kepala program militer rahasia Iran dan diburu selama bertahun-tahun oleh Mossad”. Tweet Melman ini di-retweet oleh Trump.

Kedua, pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap “musuh” memang sering dilakukan Israel selama ini. Istilahnya “targeted killing”. Roland Otto, pakar hukum internasional, pada 2012 bahkan menulis buku khusus menganalisis kebiasaan Israel membunuhi orang ini, judulnya: “Targeted Killing and International Law.”

Tentu saja, dalam misi ini, pastilah Israel bekerja sama dengan orang Iran sendiri yang berkhianat. Dalam kasus-kasus pembunuhan terhadap saintis nuklir Iran sebelumnya, para pelaku di dalam negeri sudah ditangkap dan ditemukan keterkaitannya dengan Mossad.

Tapi yang ingin saya bahas lebih lanjut adalah perilaku para pengamat politik yang terus saja mengulang-ulang narasi ala Netanyahu: “Iran membuat senjata nuklir” atau “Iran adalah ancaman bagi dunia”.

Dalam menganalisis, seharusnya orang-orang yang berbasis akademis juga menggunakan data dan fakta yang akademis, bukan didasari oleh persepsi umum yang dengan sengaja disebarluaskan oleh media mainstream (dibantu media lokal yang kerjanya selalu copas-terjemah media Barat).

Faktanya: Iran menandatangani NPT (perjanjian untuk tidak membuat senjata nuklir; namun berhak memanfaatkan teknologi nuklir untuk kepentingan damai). Artinya, Iran bekerja sama dengan IAEA (International Atomic Energy Agency, badan PBB yang diserahi tugas mengawasi proyek nuklir semua negara).

Sebaliknya: Israel yang sudah terbukti punya ratusan hulu ledak nuklir justru TIDAK mau menandatangani NPT. Artinya: IAEA sama sekali tidak melakukan pengawasan kepada situs nuklir Israel.

Anehnya, fakta sejelas ini diabaikan begitu saja oleh banyak penulis dan pengamat internasional. Mereka membangun “teori konspirasi” (kehaluan) ala Netanyahu, misalnya: datanya disembunyikan; lokasi pembuatan senjata nuklirnya tidak bisa dikunjungi IAEA; dst.

Yang selalu dijadikan logika tuduhan: “Iran sudah mampu memperkaya uranium sekian persen.. kalau ini dilanjutkan.. bisa jadi senjata nuklir.”

Lha, kalau begitu, SEMUA penandatangan NPT juga punya kemungkinan yang sama, kan? Untuk mencapai 30% (misalnya), tentu dilewati dengan 3% dulu. Masa, ketika Iran sudah membuat pengayaan pada tahap 3% lalu dituduh akan membuat senjata nuklir?

Tahap pengayaan uranium yang dibolehkan oleh NPT adalah 3-5%, dan Iran dikasih batas 3,6% oleh IAEA. Ini jauuuh.. di bawah angka 90%, level yang dibutuhkan untuk membuat senjata nuklir.

alterntif text

Tapi, 3-5% ini sudah cukup untuk Iran, karena tujuannya memang untuk damai, antara lain memproduksi listrik. Visi besar dari produksi listrik tenaga nuklir adalah agar Iran tidak lagi bergantung pada migas; migas-nya bisa dijual dan duitnya digunakan untuk pembangunan. Listrik murah produksi Iran pun bisa dijual ke negara tetangga. Selain itu, dengan nuklir, teknologi kedokteran di Iran juga maju pesat dan salah satu upaya Iran untuk mendapatkan devisa nonmigas adalah bidang medis (menarget pasar Timteng untuk berobat ke Iran).

Israel dan AS saling dukung dalam menekan Iran: menyebarkan tuduhan membuat senjata nuklir sebagai alasan untuk mengembargo Iran. Ketika embargo dan kesulitan ekonomi tidak membuat Iran menghentikan proyek nuklirnya, yang dilakukan adalah memberikan tekanan psikologi (teror), yaitu dengan melakukan pembunuhan pada saintis nuklir Iran.

Sejak 2010, telah terjadi totalnya 5 kasus pembunuhan saintis nuklir Iran: Masoud Ali Mohammadi dan Majid Shahriar (2010); Darioush Rezaeinejad (2011), Mostafa Ahmadi Roshan (2012), Dr. Mohsen Fakhrizadeh (2020). Ada beberapa kasus lain, tapi bisa digagalkan.

Perjanjian nuklir Iran (JCPOA) ditandatangani Juli 2015. Direktur IAEA saat itu, Yuki Amano, pada Desember 2015 menyatakan bahwa IAEA tidak memiliki bukti Iran sedang membuat senjata nuklir. Maret 2018, Amano masih melaporkan bahwa Iran telah mematuhi aturan IAEA dan JCPOA. Tapi pada Mei 2018, Trump menyatakan keluar dari perjanjian JCPOA.

Pada Juli 2019, Amano meninggal dunia. Amano memang sudah sakit-sakitan saat itu, BBC menyebutnya “unspecified illness”. Media Iran, Tasnim, menulis, “Ada kecurigaan besar bahwa Amano dibunuh karena dia selalu menolak tekanan AS dan Israel untuk memberikan laporan palsu soal Iran.” [1]

Dengan pembunuhan Dr. Fakhrizadeh ini, Israel punya tujuan, minimalnya 3 hal:
(1) tekanan di dalam negeri Iran (teror kepada masyarakat, berharap masyarakat Iran sendiri yang menekan pemerintah untuk tidak lagi melanjutkan proyek nuklir damainya);
(2) memicu kemarahan Iran, agar Iran melakukan tindakan yang kemudian bisa dijadikan alasan untuk menyerang Iran secara militer.
(3) Membuat Iran menolak melakukan negosiasi lagi, lalu penolakan ini akan dijadikan alasan baru untuk menekan Iran; dan menekan pemerintahan baru AS, kemungkinan Biden, agar tidak kembali ke JCPOA.

No. 1, sepertinya tidak akan tercapai karena bangsa Iran, meski sebagian ada yang pro-Barat, tapi mayoritasnya punya nasionalisme yang sangat tinggi. No. 2, juga kemungkinan tidak terjadi. Saya pernah menulis, Iran adalah aktor rasional, dalam arti tidak akan melakukan aksi yang menjebak dirinya sendiri.

Tapi yang ke-3, sangat mungkin terjadi. JCPOA adalah “proyek”-nya kubu reformis (Rouhani). Kubu konservatif sudah sejak lama memprediksi, Barat tidak akan melaksanakan janjinya (menghentikan embargo ekonomi), meski jika semua mesin pengayaan uranium Iran dihancurkan. Bahkan kalau pun Iran menghentikan nuklirnya, akan muncul alasan lain untuk terus mengembargo Iran. Dan kini prediksi mereka terbukti.

“Kesalahan” Iran sebenarnya cuma satu: menolak tunduk pada AS dan Israel (dan ini sepaket dengan membela Palestina). Selama Iran masih terus pada posisi ini, tekanan akan terus berlanjut.

Semoga tulisan ini dibaca para penulis dan pengamat politik (juga para penulis berita copas-terjemah), supaya mereka mau berpikir logis dan berhenti meniru burung beo, menyebarkan narasi ala Netanyahu.


[1] https://www.tasnimnews.com/en/news/2019/07/24/2060907/sources-raise-possibility-of-israeli-assassination-of-amano // Rujukan pembanding: Amano menyatakan adanya tekanan dari “sejumlah negara”: https://www.armscontrol.org/act/2019-04/news/iaea-says-iran-abiding-nuclear-deal

alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler