Connect with us
alterntif text

Kolom

Esai; Sebuah Cita-cita

Published

on

Penulis: Nur Syamsi El Zakariyya, S.Ag.,MH. (PAI Non-PNS Kab. Enrekang)

Ketika anak-anak kecil ditanya apa cita-citanya nak ? Umumnya mereka akan menjawab mau jadi dokter, atau polisi, atau insinyur. Kadang ada yang menjawab ingin jadi guru atau dosen, tidak pernah kedengaran ingin jadi petani, pedagang, apalagi seorang “Ustadz” yang kesannya hanya guru ngaji atau penceramah. Seolah- olah profesi itu punya kasta / peringkat tersendiri. Demikian juga orang tua ketika menyambut kelahiran anak nya pada umumnya mengatakan dan mendoakannya semoga kelak engkau menjadi anak sholeh, diberi rezeki, dan menjadi pemimpin.

Profesi-profesi yang mentereng memang seperti dokter, polisi, insinyur, dan dalam doa orang tua untuk menjadi pemimpin adalah tren tertinggi, yang di maksud pemimpin di sini mungkin kepala daerah, atau top leader seperti seorang president dan semacamnya. Hal seperti ini seolah-olah sudah berada di alam bawah sadar umumnya kita, sehingga minsed pemikiran tersebut beranggapan bahwa kemuliaan itu ada pada profesi dan jabatan. Inilah yang di maksud dengan alam pemikiran materi yang mengukur kemanusiaan ada pada berapa banyak materi dan posisi sosial yang ia punyai.

Lupa bahwa ketika itu akhirnya semua dapat di raih, terus bagaimana bermanfaatnya bagi diri, keluarga, dan sekitar kita, atau masyarakat pada umumnya, dan sejauhmana cita-cita itu dapat membangun dirinya, kerabat, orang lain, dan masyarakat untuk membangun peradaban.

Jika misalnya cita-cita tersebut di raih hanya untuk sekedar mendapatkan kelas sosial, agar ekonomi mapan, dan atau cita-cita misalnya menjadi pemimpin untuk ketenaran, popularitas, untuk kepentingan diri, kelompok, dan jika akhirnya semua itu akan berakhir, lalu kemanakah hakekat ujung perjalanan dari cita-citanya itu..

Maka minsed pemikiran itulah yang perlu arah yang benar dan lurus bahwa sesungguhnya hidup manusia itu hanya sementara, dan problem utama ketika kita menjadikan jabatan dan materi sebagai obsesi mencapai status sosial yang tinggi, yang terkadang justru itu yang menjebak melalaikan nilai kemanusiaan sejati, dan tidak sedikit yang jatuh berguguran berhadapan dengan godaan-godaannya.
Bukankah Allah telah memfirmankan dalam Kalam-Nya QS. Thaha ayat : 131

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.”

Sementara itu Imam Al-Bukhari no. 1465 dan Imam Muslim no. 1052 meriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu-, ujarnya, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam duduk di mimbar sedangkan kami duduk di sekelilin beliau. Beliau bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ من بعدي ما يفتح عليكم من زهرة الدنيا و زينتها

alterntif text

“Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan pada diri kalian setelah peninggalanku ialah dibukakannya bunga dunia dan pernak-perniknya untuk kalian.

Kekhawatiran Rasulullah Saw itu memang kita saksikan dalam sejarah perjalanan Islam, hingga kepemimpinan kekhalifahan dinasti-dinasti yang ada dalam lembaran sejarah, demikian pula yang tersaji di hadapan kita saat ini, bahwa manusia-manusia umumnya tercebur dalam pernak pernik yang tampak Indah secara kasat, namun sesungguhnya semua itu akan berakhir dan berujung pada pertanggungjawaban di haribaan-Nya.

Bercita-cita memang keharusan, punya obsesi bukanlah diharamkan, sejatinya memang kita di ciptakan untuk menjadi khalifah yang akan mengelola bumi ini dengan makmur, manusia di beri peluang untuk mencari karunia-Nya, menggali potensi-potensi alam dengan piranti-piranti yang telah Allah berikan kepada manusia untuk memakmurkan bumi ini. Manusia di beri akal untuk mengasah talentanya menjadi seorang insinyur, dokter, pengusaha, guru, pedagang, arsitek dan profesi apapun, demikian pula manusia boleh menjadi pemimpin, bahkan kepemimpinan dalam suatu komunitas adalah keniscayaan, jangankan itu, ketika dalam suatu perjalanan jika telah terdiri dari 3 (tiga) orang maka di haruskan untuk mengangkat pemimpin (Amir) salah satu di antara mereka, begitu pentingnya kepemimpinan dalam ajaran Islam.

Idealnya apabila kita memahami visi manusia di ciptakan yakni untuk “mengabdi” maka apapun profesi dan posisi/jabatan kita memang seharusnya menjadi agen -agen misi Ilahiyah dengan bidang keilmuan masing-masing sebagai sarana untuk mengabdi kepada-Nya, memberi penjelasan bahwa sesungguhnya dalam setiap keilmuan ada nilai Ilahiyah, dan menjadi agen-agen penyambung rahmatullah di muka bumi.yang memberikan pencerdasan dan pencerahan agar nilai kerahmatan menuansai setiap komunal. Oleh karena itu dengan memahami visi di ciptakan maka semua menjadi Ustadz pada bidangnya, karena tugas dakwah adalah tugas kita semua.

Menyimak di atas nyatalah bahwa cita- cita kehidupan di dunia untuk menjadi apa saja “bagi yang memahami visi hidupnya” maka dijadikannya sebagai sasaran antara untuk sebuah cita-cita yang lebih besar yaitu untuk “Meraih Ridha-Nya” semata. Profesi apa saja (kekayaan materi, jabatan struktural), dan posisi status sosial di mana saja tidak di jadikan sebagai sebuah kemuliaan dan kehormatan, tetapi segala cita, obsesi, aksi, dan aktifitas seyogyanya selalu mentransendensikan diri hanya kepada-Nya. Itu lah cita-cita yang mulia yang tertinggi. orang cerdas bukan semata yang mengejar gelar tetapi kualitas, dan orang besar adalah mereka yang selalu memberi kemanfaatan, dan sebenar-benar muslim adalah mereka yang selalu menebar kerahmatan.

KATA KUNCI; Sesungguhnya cita-cita yang besar yakni meraih ridha-Nya, karena sesungguhnya kehidupan di dunia pasti akan berakhir, dan akhir dari kesudahan hidup adalah abadi dalam Rahmat-Nya. Dan semua akan di mintai pertanggungjawaban. Sebagaimana Allah berfirman QS. Al Fajr : 27-30 (Artinya; ” Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan di ridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surgaku”).

alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler