Connect with us
alterntif text

Kolom

Opini; Mensyukuri Kelahiran Al-Mustafa Saw

Published

on

Foto: detik.com

Penulis: Ismail Amin Pasannai

OPINI — Tidak ada seorang yang berakal sehat satupun yang mengingkari, bahwa kehidupan dan tambahan umur adalah salah satu bentuk anugerah dan kasih sayang Allah swt pada hamba-hambaNya. Ya, karena itu anugerah, tambahan umur sudah semestinya di syukuri.

Perintah untuk menjadi hamba-hamba yang bersyukur, itu tegas dalam nash. Nabi Muhammad saw pun kita kenal sebagai ahli syukur. Cara-cara bersyukurpun telah diteladankan oleh Nabi. Mulai dari sekedar melafalkan alhamdulillah, dan menyadari bahwa kenikmatan-kenikmatan yang didapatkan bersumber dari Allah swt sampai pada tingkat berbagi kebahagiaan dengan sesama. Kelahiran anak, juga merupakan anugerah yang patut disyukuri dan dirayakan. Menyelenggarakan aqiqah anak adalah salah satu bentuk wujud cara bersyukur yang diperintahkan. Menyembelih daging kambing, dan menikmatinya bersama dengan handai taulan, tetangga dan warga adalah perayaan atas anugerah yang dicurahkan oleh Allah swt kepada keluarga kita. Jika engkau bersyukur, Aku akan tambahkan nikmatku. Demikianlah Allah memfirmankan dalam Kitab Suci.

Kalau kelahiran anak sendiri saja patut disyukuri, apalagi kelahiran manusia suci, agung dan terbaik di dunia dan akhirat. Kelahiran Nabi Muhammad saw di muka bumi, adalah bentuk kasih sayang terbesar Allah swt yang patut disyukuri. Kegembiraan atas lahirnya manusia teragung sepanjang masa tersebut, patut untuk dirayakan dan bergembira di dalamnya. Nabi saw saja sampai mensyukuri kelahirannya, dengan berpuasa setiap hari senin setiap pekannya. Karenanya wajar, jika peringatan maulid Nabi masih tetap terselenggara setiap tahunnya sampai hari ini. Meski larangan bertubi-tubi dilontarkan dengan dalil-dalil agama bahkan sampai menjurus pada pemaksaan dengan keluarnya vonis sesat, tetap saja peringatan maulid itu berlangsung dibanyak negara, di masjid-masjid besar sampai di langgar-langgar di pelosok kampung.

Mensyukuri secara khusus kelahiran Nabi Muhammad saw sesuatu yang tidak bisa dilarang-larang, karena naluriah seorang pecinta akan turut mencintai hal-hal penting yang berkaitan dengan yang dicintainya, termasuk hari kelahirannya.

Mengenai metode mensyukuri kelahiran Nabi selama tidak melanggar aturan syariat, maka tentu diperbolehkan. Dengan tidak adanya anjuran secara khusus cara memperingatinya, maka ruang inovatif terbentang luas. Bisa dengan mengadakan majelis pengajian, tabligh akbar, seminar, diskusi ilmiah, pesta rakyat apapun nama dan bentuknya. Termasuk sekedar berbagi makanan ke tetangga sembari mengingatkan, bulan maulid telah datang dan patut untuk disyukuri.

Mengapa sampai hari ini umat Islam tahu waktu Nabi Muhammad saw dilahirkan, sampai hari dan tanggalnya? Ya karena ulama-ulama terdahululah yang menyampaikannya sampai terawat kegenerasi-generasi selanjutnya. Termasuk peristiwa-peristiwa penting lainnya yang telah dilalui Nabi. Mereka menjaga ingatan akan maulid Nabi. Mereka memperingati Nabi dengan cara mereka sendiri. Jadi jangan mengatakan, Nabi, sahabat-sahabat dan ulama-ulama terdahulu tidak mengadakan maulid. Nabi mengadakan maulid, dengan puasa setiap Senin, sahabat-sahabat mengadakan maulid dengan menceritakan keagungan hari kelahiran nabi yang disampaikan kepada generasi-generasi setelahnya. Ulama-ulama mengadakan maulid, dengan menuliskan riwayat-riwayat seputar maulid Nabi bahkan tidak sedikit dari mereka yang secara khusus membuat syair-syair pujian yang mensyukuri kelahiran Nabi.

Hari lahirnya Nabi Muhammad saw tidak diragukan lagi sebagai salah satu dari hari-hari Allah. Hari dimana dinding istana Raja Khosrow tiba-tiba retak dan empat belas menaranya runtuh. Hari dimana api sesembahan kaum Majusi tiba-tiba padam. Robohnya tempat ibadah disekitar kerajaan Rum. Keluarnya cahaya yang menerangi istana negeri Syam. Ketika Allah swt sendiri membesarkan hari kelahiran Nabi, lantas apa alasan kita mengerdilkannya?(*)

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:

Terpopuler