Connect with us
alterntif text

Kolom

Opini; Relawan Demokrasi VS Tim Sukses

Published

on

Demokrasi (gambar: Geotimes)

Oleh : Muhammad Saleh (Pengajar, Pegiat Literasi Media)

Dalam realitas sosial yang berkembang, pilkada biasanya dimaknai sebagai ajang kontestasi bagi calon kepala daerah untuk memperebutkan kekuasaan. Konsekuensinya para calon kepala daerah perlu menyiapkan taktik, strategi, termasuk amunisi dalam memenangkan kontestasi tersebut.

Tim sukses dibentuk dan disiapkan oleh para calon untuk mendukung terlaksananya taktik dan strategi yang telah direncanakan. Dalam upaya mempengaruhi masyarakat untuk memilih calon yang didukung tak jarang tim sukses menggunakan cara apapun demi tercapainya kepentingan yang diingikan, termasuk cara yang negatif.

Praktik adu domba, penyebaran isu hoax, bahkan money politic adalah pemandangan yang sering kali kita jumpai dalam proses pemilihan umum. Betapa tidak, sebagian besar para politisi menganggap, bahwa dalam politik kemenangan adalah tujuan, sekalipun harus menerobos aturan dan etika politik.

Tak jarang bagi masyarakat yang ‘jengah’ dengan praktik-praktik negatif tersebut menaruh perasaan antipati pada pelaksanaan pemilu/kada. Padahal pemilihan umum sebagai bagian dari pelaksanaan demokrasi adalah sarana partisipasi masyarakat dalam politik serta perwujudan dari kedaulatan rakyat.

Pasca reformasi sampai dengan tahun 2014, tingkat partipasi masyarakat dalam pemilu berangsur-angsur menurun. Baru mengalami kenaikan pada pemilu di tahun 2019 dari 75% (ditahun 2014) naik ke angka 81% (tahun 2019). Tapi partisipasi pemilih pada tahun 2019 jika dibandingkan partisipasi pemilih sebelum reformasi sampai pemilu pertama ditahun 1955 maka masih kalah jauh. Di zaman media dan tekhnologi yang belum maju seperti dulu tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu bisa mencapai angka 90-95%.

Menyikapi partisipasi pemilih dalam pemilu/kada yang masih terbilang rendah, KPU berstrategi dengan memunculkan tim khusus yang bertugas mendongkrak angka partisipasi pemilih yang kemudian di kenal dengan sebutan Relawan Demokrasi.

Relawan demokrasi memiliki tugas penting, yakni melakukan sosialisasi dan pendidikan politik kepada calon pemilih. Artinya bukan sekedar menghimbau kepada masyarakat untuk turut serta dalam pelaksanaan pemilu/kada, tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bagaimana melalui proses politik ini sebagai jalan memperoleh kedaulatannya sebagai warga negara.

Sebab bagi saya, kematangan demokrasi di suatu negara ditandai dengan kesadaran dan rasionalitas penuh masyarakat dalam pelaksanaan pemilihan umum. Dengan kata lain, relawan demokrasi harus membangun masyarakat menjadi pemilih cerdas saat pilkada nanti.

Upaya pencerdasan politik kepada masyarakat nampaknya akan berbenturan dengan sikap politisi yang juga berupaya untuk menang dengan segala cara. Dalam hal ini saya mendukung relawan demokrasi untuk menjalankan kewajibannya. Oleh karenanya, relawan demokrasi harus punya integritas bukan sekedar menjalankan tugasnya untuk mengisi rutinitas. Relawan demokrasi harus cerdas, bukan sekedar menjalankan tugasnya secara formalitas. ***

alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler