Connect with us
alterntif text

Kolom

Opini; Mahalnya Harga Sebuah Toleransi

Published

on

Sofyan Azis

Oleh : Sofyan Aziz (Esais dan Pendidik, tinggal di Rembang)

Sebuah keluarga di kecamatan Sawah Besar daerah Jakarta Pusat terpapar virus, bulan April kemarin. Suami istri itu harus menjalani rawat inap di RSD Wisma Atlet. Sedangkan kedua orang anaknya, yang juga positif, harus menjalani isolasi mandiri di rumah.

Hebatnya, kedua orang anak mereka tidak dikucilkan para tetangganya seperti kebanyakan penderita lain di belahan dunia lain. Kedua anak mereka disubsidi kebutuhan hidupnya oleh para tetangganya. Mereka dijaga secara semestinya oleh tetangga dan aparat setempat.

Cerita di atas bukan rekaan imajinasi. Itu adalah kisah nyata, walau agak menyerupai fiksi. Sebenarnya saya mengharapkan akan lebih banyak lagi kisah-kisah serupa, kisah-kisah inspiratif, tentang pentingnya sebuah sikap saling tolong menolong dan bertoleransi antar sesama.

Itulah sikap hidup dan budi pekerti warisan nenek moyang kita, yang seorang pelaut itu. Sayangnya harapan saya itu belum juga terwujud. Saya malah lebih sering menjumpai berita-berita mengharukan tentang para penderita yang diasingkan oleh tetangganya, bahkan beberapa oleh keluarganya sendiri.

Toleransi atau sikap saling menghargai seharusnya tidak melulu berkaitan dengan kehidupan beragama saja, seperti banyak tercitrakan selama ini. Toleransi sebenarnya mencakup segala aspek hubungan antar sesama manusia dan sesama makhluk Tuhan yang lain.

Manusia dan segala jenis makhluk hidup yang ada di dunia ini dari sononya memang sudah ditakdirkan sebagai sosok yang berbeda dan beraneka ragam, meski dia anak kembar sekalipun. Guratan sidik jari, pindai retina, ataupun teknologi DNA adalah beberapa bukti akan eksistensi keberbedaan itu.

Maka dengan adanya keberbedaan itulah dibutuhkan sebuah alat untuk menciptakan hubungan dari individu-individu yang berbeda agar tetap selaras, berjalan harmonis, dan tidak saling ‘memakan’ satu dengan yang lain. Alat itulah yang dinamakan dengan toleransi.

Toleransi adalah sikap selalu berpikir positif terhadap orang lain. Di dalam ruang toleransi tidak mengenal istilah pemaksaan kehendak, yang ada adalah kesepakatan bersama yang dilandasi oleh semangat harmonisasi antar umat manusia. Seperti butiran kedelai, yang jika akan dijadikan tempe harus diberi campuran ragi. Kedelai adalah simbol dari para manusia yang individualistis, disatukan oleh suatu zat yang bernama ragi. Ragi dalam konteks ini merupakan simbol dari toleransi.

Tidak mudah memang menciptakan harmonisasi melalui toleransi, namun bisa kita mulai dari sikap keterbukaan berpikir. Toleransi perlu dilatih dan dibiasakan sebagai salah satu gaya hidup.

Misalnya dengan bergaul bersama manusia lain yang beragam dan majemuk, baik dengan kelas sosial yang berbeda, tingkat pendidikan yang beda, agama yang berbeda, lingkungan yang berbeda, dan konsep ‘berbeda-berbeda’ yang lain yang akan membuat proses latihan bertoleransi secara di bawah sadar akan tertancap kuat dalam perilaku sehari-hari.

Toleransi bukanlah acuh tak acuh dengan lingkungan. Toleransi bukanlah puasa diam, meminjam istilah Sujiwo Tejo, yang mendiamkan segala hal yang terjadi di sekitarnya. Toleransi merupakan sebentuk penghargaan tertinggi terhadap keanekaragaman.

Lebih jauh, kita seharusnya menyadari bahwa sikap toleransi di zaman ini makin rentan tergerus oleh semangat individualistis akibat semakin canggihnya dunia teknologi. Fenomena media sosial telah menghilangkan sekat, mengikis ruang dan waktu. Ketika segala hal ada dalam genggaman, maka seringkali kita menghadapi manusia-manusia bebal yang seolah-olah sudah tidak membutuhkan lagi keberadaan tetangga-tetangga kita, yang juga para manusia itu.

Ketika teknologi telah menjadi raja dari segalanya, sehingga banyak orang yang menyerap informasi tanpa cek dan ricek, dan menyebarkannya secara sporadis ke gawai-gawai lain, yang bisa jadi berpotensi sebagai informasi hoax. Kita menyebarkan informasi tanpa verifikasi yang benar, tapi seringkali merasa paling benar. Kita menjadi makin berani berseteru, karena seolah yang kita hadapi bukan manusia, melainkan hanya gawai. Padahal mereka tetap manusia juga.

 

Korona dan Berubahnya Pola Kehidupan

Semenjak wabah Korona menyerang, membuat pola kehidupan sosial kita terpengaruh secara signifikan. Protokol-protokol baru tercipta untuk menghambat laju menyebarnya virus ini lebih meluas.

Hal ini berakibat pada ritme kehidupan yang berubah, kemanapun kita pergi harus memakai masker sebagai penutup wajah. Hand sanitizer adalah kelengkapan wajib yang harus dibawa, tentu selain minyak wangi dan bedak. Selain jaga jarak (Physical distancing), konsep bersalam-salaman juga ikut dimodifikasi sedemikian rupa, salam Namaste dari India atau membungkuk ala Jepang atau apalah itu namanya. Rapat-rapat digelar dengan model video conference. Pembelajaran-pembelajaran untuk anak-anak kita dilakukan dengan model daring dari rumah. Juga banyak karyawan yang bekerja dari rumah (WFH).

Lagi-lagi kita masih tetap beruntung, dimana kita hidup sezaman dengan teknologi yang luar biasa canggih ini. Suatu zaman yang membuat jarak menjadi tak berarti. Teknologi komunikasi yang berkembang pesat telah menyumbangkan kontribusinya disaat kita sedang mengekang fisik dalam kungkungan rumah-rumah kita sendiri.

Manusia, pada dasarnya bergerak dengan adaptif. Saya ingat kutipan dari Charles Darwin yang menyatakan bahwa makhluk yang bisa bertahan menghadapi perubahan zaman bukanlah makhluk yang terkuat, melainkan makhluk yang pandai beradaptasi.

Sebagai makhluk hidup, kebutuhan dasar manusia untuk dapat tetap bertahan hidup adalah makan dan minum, agar tetap dapat menegakkan tulang-tulangnya. Namun sayangnya, manusia tidak hanya cukup dengan asupan jasmani saja, tetapi ada aspek rohani atau siritualitas sebagai wujud eksistensi manusia sebagai makhluk yang berakal. Salah satu asupan rohani itu adalah sikap toleransi.

 

Pentingnya Toleransi Di Masa Pandemi

Toleransi menemui momentumnya dalam masa kini, di era Covid-19. Di mana banyak orang yang saling curiga satu sama lain. Mereka berdalih itu adalah sebentuk antisipasi. Para petugas kesehatan curiga dengan para pasiennya. Para tetangga yang curiga dengan tetangga lainnya. Para penderita yang curiga dengan sekitarnya. Bahkan mirisnya, yang sudah menjadi jenasah pun masih dicurigai. Mereka saling curiga karena persoalan virus yang tak kasat mata ini.

Sejumlah fakta di lapangan menguatkan sikap tidak toleran itu, misalnya penolakan terhadap beberapa jenasah para penderita Covid-19. Contoh lagi misalnya di saat pengketatan PSBB (pembatasan Sosial Berskala Besar) dimana masker adalah aksesoris wajib tapi masih ada saja orang-orang yang nekat tak mengenakannya.

Contoh berikutnya kasus dimana para tenaga kesehatan yang uring-uringan lantaran beberapa pasien tidak jujur mengenai riwayat perjalanannya, atau kisah seorang perawat yang ditolak oleh masyarakat sekitar kos-kosannya lantaran ia menangani pasien terinfeksi. Silahkan anda cari kasus serupa yang bertebaran di dunia maya, betapa banyak sekali kasus intoleran seperti ini.

Contoh-contoh di atas bukan berarti saya menyamakan makna antisipasi dengan intoleransi, karena keduanya jelas-jelas sudah berbeda maknanya dari asal. Antisipasi sebentuk perbuatan waspada dan melalui tindakan nyata, sedangkan intoleransi adalah sebuah sikap tidak menghargai antar sesama manusia.

Ketika perbuatan intoleransi merebak, dimana penghormatan terhadap kemanusiaan menemui titik terendah, maka langkah yang perlu diambil adalah menumbuhkan kembali sikap toleran kepada sesama manusia.

Ada satu rumus sederhana namun jitu guna menumbuhkan satu sikap toleransi, empati dan simpati, terlebih kepada orang lain yang kebetulan berada dalam posisi ‘penderita’. Rumusnya adalah ‘pembalikan keadaan’, kita berusaha merasakan bagaimana seandainya kita berada dalam posisi sebaliknya, berposisi sebagai seorang penderita.

Bagaimana jika kita adalah sang pasien itu? Bagaimana jika kita adalah tenaga kesehatan yang terpapar virus? Bagaimana pula jika jenasah yang tertolak itu adalah jenasah kita? Lantas jawab pertanyaan-pertanyaan ini dan pertanyaan-pertanyaan pembalikan sejenis yang lain, rasakan pedihnya berada dalam posisi penderita.

Jika terapi di atas efektif kita lakukan sedikit demi sedikit, maka rasa toleran akan muncul kemudian. Rasa syukur juga akan mengikuti dengan sendirinya. Syukur bukan kita yang berposisi menjadi penderita. Cobalah resep ini, jika ini pun tidak manjur-manjur amat, ya silahkan berimprovisasi sesuai tingkat kreativitas anda masing-masing, jangan jadi anak manja!

Inti dari sikap toleransi adalah saling menghormati terhadap keragaman. Manusia diciptakan dengan keragaman atau perbedaan. Perbedaan adalah anugerah. Seperti adukan beton, yang kuat justru  bukan karena berisi semen saja. Ia kuat karena ada campuran kerikil, pasir, semen, dan air. Dengan takaran yang pas serta proses yang benar maka jadilah adonan itu beton yang kuat, keras, dan tahan banting. Hidup lebih harmonis dan berwarna bukan karena hanya dihiasi oleh manusia tampan yang pintar dan sehat lagi kaya, namun hidup semakin lengkap dan semarak karena ada manusia lain yang fisiknya bersahaja, yang otaknya agak mengkental, dan rejeki yang sederhana.

Saya juga tidak menafikan bahwa toleransi mempunyai kadar ambang batas. Toleransi sebagai batasan kita dalam menerima atau melakukan sesuatu.

Jadi bersikap toleran bukan lantas kita menerima diapakan saja tanpa reserve. Tetapi pengaturan percampuran antara toleransi dengan batasan prinsip hidup masing-masing individu dengan takaran yang pas akan membuat hidup lebih bermakna dan berbahagia. Hal inilah yang membuat toleransi menjadi barang yang nampak mahal.

Mahalnya harga sebuah toleransi, tetapi apakah kita para manusia tidak sanggup lagi untuk membelinya? ***

 

alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler