Connect with us
alterntif text

Kolom

Esai; Tragedi Karbala dan Pembelaan Terhadap Mustadafin

Published

on

batu tempat pendeta Nasrani membersihkan kepala Imam Husain (foto: pecihitam.org)

Oleh : M Haris Syah (pengajar)

Padang Karbala hening. Jenazah bergelimpangan, darah meresap di pasir dan senjata terserak disana-sini. Tenda-tenda sobek dan terbakar, sisa peperangan nampak yang tak seimbang, antara 72 keluarga dan sahabat Imam Husain dengan ribuan pasukan Yazid.

Imam Husain berdiri sendirian. Hampir semua keluarga dan sahabatnya telah syahid. Tersisa beberapa perempuan dan Ali Zainal Abidin kecil, cicit Rasulullah yang tengah sakit berlindung dibalik tenda.

Ada bulir bening disudut mata cucu nabi tercinta. Pandangannya melihat kejauhan pasukan Yazid bersiap menyerang lagi. Zainab mendekat. “Wahai kakakku Husain, apa yang membuatmu menangis?”

Bukan tidak pedih melihat satu per satu keluarganya dibantai, bukan tidak perih menahan haus akibat sumber air yang diblokir musuh. Tapi Husain menangis karena sesuatu yang lain.

“Aku menangis karena sepeninggalku nanti siapa yang akan melindungi anak-anak yatim?. Siapa yang akan membela hak orang-orang lemah dan miskin (mustadhafin) yang (akan) dizalimi oleh orang-orang seperti Yazid ?”

Seluruh rangkaian tragedi Karbala, detik demi detiknya amat meyayat hati. Namun fragmen diatas patut membuat kita merenung. Lewat sepenggal kalimat itu, Imam Husain sedang memberikan pendidikan sepanjang masa.

Meski disaat-saat genting dan pedih itu, dibenak beliau masih diliputi gelisah tentang nasib mustadafin. Sebagaimana kakeknya yang mulia, setiap aksi Imam Husain adalah deklarasi keberpihakan pada kaum tertindas. Maka dari itu, langkahnya ke medan pertempuran tanpa keraguan sedikitpun, meski jelas kalah dalam jumlah.

Karena alasan ini pula, tragedi karbala bukan hanya kesedihan kalangan Syiah. Bahkan bukan kesedihan umat Islam saja, tetapi juga menjadi kesedihan bagi seluruh umat yang mencintai kemanusiaan. Kesedihan manusia yang menginginkan keadilan dan tidak menyukai kezaliman. Jangan heran jika seorang pendeta Nasrani rela memberi sejumlah uang saat itu, demi membersihkan sejenak kepala Imam Husain.

Berikutnya, epik Karbala juga menunjukkan dua sisi yang saling berlawanan meski kelihatannya labelnya sama. Islam. Dua sisi yang mewakili kebenaran dan kezaliman yang akan saling berlawanan, sejak dulu hingga saat ini.

Bukankah benturan antara Islam dan ‘Islam’ belakangan ini toh tidak asing disekitar kita? Sekarang, kita sisa memilah di sisi mana kita ingin berdiri ?

Semoga Allah SWT menganugerahi kita kekuatan agar senantiasa menjaga Islam yang diwariskan Rasulullah. Islam yang penuh cinta kasih dan pembelaan terhadap mustadafin. ***

mhs 30/8

* foto: batu tempat pendeta Nasrani membersihkan kepala Imam Husain (foto: pecihitam.org)
* Video pemaparan Gus Nadir mengenai Tragedi Karbala berdasarkan kitab tarikh karya para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler