Connect with us
alterntif text

Kolom

Esai; Peristiwa Ghadir Khum dan Kecintaan pada Imam Ali

Published

on

(gambar: Facebook Muhsin Labib)

Penulis :M Haris Syah

Tahun ke-10 Hijriah, Nabi Muhammad SAW bersama ratusan ribu kaum muslimin menunaikan ibadah haji. Khusus bagi Baginda Nabi, itu adalah hajinya yang terakhir (haji wada).  Momentum berkumpulnya kaum muslimin ini sepertinya ingin beliau manfaatkan sebaik-baiknya untuk menyampaikan kesempurnaan Islam, sebelum berpulang pada kekasihnya.

Dalam perjalanan pulang dari Mekkah ke Madinah, Jibril mendatangi nabi dengan membawa Al Maidah 67; tepat pada 18 Dzulhijjah. “Wahai Rasul, sampaikanlah (balligh) apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau lakukan maka engkau tidak menjalankan risalahNya. Dan Allah memelihara engkau dari manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir”

Saat kaum muslimin berhenti di suatu tempat antara Mekkah dan Madinah, bernama Ghadir Khum. Beliau memerintahkan sahabat mengumpulkan bebatuan untuk dijadikan mimbar. Beliau lalu berpidato diatas mimbar tersebut (riwayat lainnya menyebut Nabi berdiri diatas punggung onta yang ditumpuki beberapa lapis kain) . Salah satu penggalan pidatonya ia sampaikan sambil memegang tangan Sayyidina Ali ;

“Bukankah kalian bersaksi bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih berhak atas kalian, lebih dari diri kalian sendiri, dan Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya adalah maula bagi kalian ? Maka barangsiapa menjadikan aku sebagai maulanya maka dia ini juga sebagai maulanya…”

Dalam riwayat lainnya, Nabi tidak hanya memegang tangan Ali, tetapi juga memindahkan sorban yang beliau pakai ke kepala Ali. Hal itu dimaksudkan agar sahabat yang tuli atau tidak mendengar dapat mengerti maksud Nabi. Setelah turun dari mimbar, Ali diselamati oleh para sahabat lainnya.

Baik kalangan muslim Sunni maupun Syiah mengakui kebenaran hadis ini. Bahkan disebut hadis mutawatir sebab banyaknya sahabat yang meriwayatkan. Maklum, yang mendengar/melihat peristiwa itu disebut mencapai 120 ribu kaum muslimin. Menurut Allamah Amini, hadis ini dinukil oleh Ahmad bin Hanbal dari 40 jalur, Ibnu Jarir Thabari dari 72 jalur, Jazairi Muqri dari 80 jalur, Ibnu Uqdah dari 105, Abu Sa’id Sajistani dari 120 jalur, Abu Bakar Ju’abi dari 125 jalurm dan Hafidz Abul A’la A’thari Hamadani dari 250 jalur.

Namun ada perbedaan penafsiran dalam memahami hadis tersebut. Ada yang mengatakan, kata maula ‘hanya’ berarti kekasih atau bermakna sahabat tercinta.  Kalangan muslim Syiah meyakini bahwa kata maula berarti pemimpin. Bagi penganut mahzab ini, peristiwa tersebut menjadi salah satu hari besar yang diperingati setiap 18 Dzulhijjah yang dinamakan Idul Ghadir. Sebab menjadi salah satu bukti legitimasi Ali sebagai imam dan khalifah pasca Nabi.

Tetapi sebagian besar kita (termasuk saya) bukan ahli tafsir, yang kompeten membahas mana penafsiran yang benar. Biarlah penafsiran yang kita yakini menjadi milik masing-masing.

Satu hal yang menjadi titik temu dan tidak bisa disangkal, adalah begitu istimewanya kedudukan Sayyidina Ali di mata Rasulullah SAW.

Seperti kita jika dipuji-puji pimpinan ditengah rapat. Atau bahkan diberi pengumuman promosi jabatan. Rasanya tentu membanggakan sekali. Apalagi yang memuji dan memberi promosi ini adalah Nabi tercinta.

Tanpa mengurangi penghormatan pada sahabat nabi yang lainnya, Sayyidina Ali memang memiliki sederet keistimewaan. Selain mendapat kehormatan sebagai menantu nabi, Beliau satu-satunya Khulafaur Rasyidin yang didepan namanya tersemat gelar Imam. Ia juga diberi gelar Karamallahu Wajhah (biasa disingkat Kw atau Kwj), yang artinya ‘yang wajahnya dimuliakan’. Sayyidina Ali memang satu-satunya sahabat nabi wajahnya tak pernah tunduk (baca; menyembah) pada berhala.

Sudah mahsyur kisah Ali mengambil resiko terbunuh, dengan menggantikan nabi menempati tempat tidurnya saat beliau dikepung hendak dibunuh. Pada perang Khaibar, Ali-lah yang sukses membobol benteng musuh.

Kehebatan Ali ini juga terekam dalam budaya Bugis Makassar. Tetua Bugis familiar dengan kata ‘paggerra’na Ali’, ‘pajjagguru’na Ali’. Pada Syair perang mengkasar, salah satu baitnya berbunyi: ‘Keempat sahabat baginda Ali lagi menantu kepada Nabi, gagahnya indah tidak terperi. Harimau Allah ia dinamai’.

Simak pula ayat-ayat pemikat hati yang bunyinya ; ‘Ali, karawai Fatimah, Fatimah nappi wedding. Dua gi Muhammad, na dua gi napoji.’ Bahkan hingga etika hubungan intim ala Bugis yang disebut Assikalibineng, hubungan suami istri yang lebih mulia dan terhormat juga disandingkan dengan Ali dan Fatimah.

Bagi pegiat literasi, hal lain yang spesial dari Imam Ali adalah aforisme-aforisme yang tersusun indah dalam Nahjul Balaghah. Tak jarang saya menemukan quote, kalimat bijak nan inspiratif disebut pada pelbagai forum, atau dituliskan teman-teman di medsos yang asalnya dari Nahjul Balaghah. Meski kadang sumbernya tidak dikutip. Ali mungkin satu-satunya sastrawan yang juga merangkap orator, ksatria perang, pedakwah, dan petani. Ah sebuah kombinasi yang menarik.

Terlepas dari segala keistimewaan itu, kecintaan Nabi terhadap Sayyidina Ali kiranya cukup menjadi dasar bagi kita untuk turut memuliakan beliau.

Selamat memperingati Idul Ghadir
18 Dzulhijjah 1441 H

alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler