Connect with us
alterntif text

Kolom

Opini; Perlukah Dialog Antaragama untuk Isu Palestina-Israel ?

Published

on

alterntif text

Penulis: Dina Sulaiman (Dosen HI Unpad, Pengamat Timur Tengah)

Tanggal 22 Juli kemarin, ada dialog antaragama “Abrahamic Faiths Roundtable Discussion” yang diselenggarakan secara virtual oleh Leimena Institute. Saya tidak antipati pada dialog antaragama; saya toh juga tidak tahu, dialog macam apa yang ada di forum yang dihadiri cendekiawan Muslim-Kristiani-Yahudi tersebut.

Tapi, di website Kemenag yang memberitakan acara tersebut tertulis kalimat ini, “Salah satu hal yang saat ini masih terus menjadi perhatian dunia adalah konflik Palestina-Israel yang melibatkan umat dari tiga agama Ibrahim, yaitu: Islam, Judaisme, dan Kristen. Menteri Agama Fachrul Razi menuturkan, untuk mewujudkan perdamaian dan kemaslahatan manusia, serta mengatasi konflik tersebut, maka diperlukan ruang-ruang dialog.”[1]

Saya ingin berkata kepada para pihak yang hobi sekali mengusung “dialog antaragama” demi mencari solusi konflik Palestina-Israel: konflik Palestina-Israel itu tidak bisa diselesaikan dengan “dialog antaragama” ketika akar masalahnya masih terus diabaikan.

Akar masalah di Palestina adalah PENJAJAHAN dan PERAMPASAN TANAH. Sungguh tak masuk akal bila kita berkata kepada orang-orang yang terusir dari tanah dan rumah mereka, “Sudahlah, kalian toleran saja, tinggal saja baik-baik, meski berdesakan, di kamp-kamp pengungsian ini, ga usah ribut!!”

Kalau masih mau dialog antaragama untuk membahas Palestina-Israel, pahami dulu akar masalahnya (penjajahan dan perampasan tanah). Masalah ini bukan disebabkan “bangsa Palestina yang tidak toleran” (dan karena kebetulan mayoritas bangsa Palestina adalah Muslim, seolah konflik di sana adalah gara-gara Muslim yang tidak toleran terhadap Yahudi).

Justru, yang selalu pakai agama dan menjustifikasi kejahatan atas nama agama adalah Zionis Israel. Satu-satunya alasan yang dipakai Israel dan para pendukung Israel untuk menjustifikasi kejahatan mereka di Palestina adalah “ayat” (versi mereka). Misalnya, ayat soal “tanah yang dijanjikan”.

Dubes Israel untuk PBB, Danny Danon, pada Mei 2019 bahkan mengacungkan Alkitab lalu membacakan “ayat” di sidang PBB untuk membuktikan bahwa tanah “Eretz Israel” adalah warisan Tuhan untuk Bani Israel. Jadi, “Terserah PBB mau ngomong apa, pokoknya kata kitab kami, kamilah yang berhak memiliki seluruh tanah Palestina!”[2]

Tentu saja, agama Yahudi versi Zionis beda dengan agama Yahudi yang dianut Yahudi ‘asli’, buktinya, banyak Rabi Yahudi yang menolak Zionisme dan Israel (misalnya, para Rabi yang tergabung dalam Neturei Karta).

alterntif text

Jadi dalam kasus Palestina-Israel ini, sudah jelas siapa yang seharusnya membuka mata dan melepaskan diri dari doktrin-doktrin teologis yang salah kaprah (mencomot dan menafsirkan ayat secara semaunya) untuk menjustifikasi penjajahan dan perang.

Kalau mau ada dialog-dialog antaragama, seharusnya para cendekiawan (dari agama apapun) menyampaikan kritikan soal ini kepada cendekiawan pro-Israel. Bilang pada Israel dan agamawan Israel: stop pakai ayat-ayat untuk melegalkan penjajahan di Palestina.

**

*Mitos Perang 6 Hari*

Soal “main ayat” yang dilakukan Israel, banyak yang tidak tahu “Perang 6 Hari” ternyata nama yang dipilih oleh Israel untuk perang yang mereka desain sendiri, berdasarkan ayat-ayat soal “enam hari penciptaan” di kitab suci.

Peristiwa Perang 6 Hari (5-10 Juli 1967) sering digunakan sebagai dalih untuk membela Israel: karena Israel terancam serangan dari negara-negara Arab, wajar saja bila Israel membuat dan menyimpan ratusan hulu ledak nuklir; wajar saja bila AS memberikan dana hibah miliaran dollar pertahun demi keamanan Israel, dst. Perang 6 Hari sering dicitrakan sebagai “kemenangan heroik atas perjuangan Israel di hadapan tetangga-tetangga Arab-nya yang ganas” atau “kemenangan Daud melawan Goliath”.

Miko Peled, seorang Yahudi Israel, anak dari Jenderal Matti Peled, menuliskan apa yang sebenarnya terjadi dalam perang itu. Sama sekali tidak ada serangan atau ancaman dari negara-negara Arab kepada Israel. Perang ini memang disengaja Israel, dengan tujuan memperluas wilayah. Dalam tulisannya, Miko menggunakan dokumen resmi notulensi rapat para Jenderal Israel ketika merencanakan perang itu. [3]

Di sini pun bisa digarisbawahi: Israel itu didirikan dengan perang, pengusiran, perampasan, pembunuhan. Ribuan orang dibunuh Israel pada Perang 6 Hari itu. Sungguh tidak ‘nyambung’ dengan “dialog antaragama”.

Btw, mungkin ada yang heran, mengapa Miko Peled mengungkap kejahatan Zionis, termasuk peran ayahnya sendiri dalam perang keji itu? Karena, Miko seorang manusia sejati. Manusia sejati, apapun agamanya, akan selalu bisa kembali pada fitrah kemanusiaannya, asal ia mau mendengar suara hati nuraninya.

Mungkin sebaiknya kalau mau ada “dialog antaragama” lagi (yang motifnya membahas Palestina-Israel), hadirkan Miko Peled, Yahudi tulen yang pro-Palestina.

[1] berita tentang “dialog antaragama”: https://kemenag.go.id/berita/read/513744/menag–dialog–bisa-redakan-ketegangan-dan-konflik

[2] https://mondoweiss.net/2019/05/israels-ambassador-security/

[3] Silakan baca selengkapnya tulisan Miko Peled di web ICMES: https://ic-mes.org/politics/mitos-perang-enam-hari-arab-israel/

Foto: para jenderal Israel penggagas Perang 6 Hari berpose pasca kemenangan (Juli 1967)

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
alterntif text
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler