Connect with us
alterntif text

Kolom

Opini; Ekstremitas Sains dan Agama

Published

on

Foto: Inspirasi Data
alterntif text

Penulis: Muhsin Labib

OPINI — Belakangan ini marak diskusi yang mengupas relasi sains – agama dan berusaha menjawab sebuah pertanyaan besar: bisakah agama (teks-teks suci) dan sains diharmoniskan?

Bila sains dianggap sebagai tolok ukur kebenaran, maka sebagian teks mungkin terbaca dan terpahami sebagai tak sesuai dengan sains ditafsirkan dengan penafsiran yang bisa diterima sains.

Bila ditafsirkan secara paksa dengan penafsiran yang sesuai dengan saiins, maka kedudukan teks suci yang ditetapkan sebagai wahyu suci yang mutlak benar gugur.

Bila teks suci dianggap sebagai tolok ukur kebenaran, maka banyak teori dan fakta sains yang dianggap tak sesuai dengan teks harus direvisi supaya tidak bertentangan dengan teks suci.

Bila direvisi agar sesuai dengan teks suci, maka kedudukan sains sebagai ilmu empiris gugur.

Pertanyaan yang lebih penting dari itu adalah “perlukah agama dan sains diharmoniskan?”

Bila realitas ditetapkan sebagai fakta empirik, maka agama perlu diharmoniskan dengan sains agar agama diterima oleh kaum saintis. Bila agama dianggap sebagai kebenaran mutlak, sains perlu diharmoniskan dengan agama agar bisa diterima oleh kaum beragama.

alterntif text

Tapi bila menganggap realitas sebagai fakta gradual dan masing-masing dari agama dan sains memiliki persepsi yang berlainan karena sarana yang digunakannya berlainan, maka keduanya tak perlu diharmoniskan karena keduanya benar secara gradual. Karena memiliki basis epistemologi yang berlainan, sains dan agama bukan hanya tak perlu diharnoniskan tapi tak bisa diharmoniskan.

Agama dan sains, karena mempersepsi realitas dengan dasar epistemologi berlainan, harus diterima tanpa perlu dipertentangkan. Keduanya bisa diterima secara bersamaan seraya membedakan karakteristik objeknya masing-masing.

Persoalannya, para saintis keburu pongah menjadikan teori-teorinya sebagai postulat aksiomatik secara general sehingga mengukur dan menilai isu-isu agama (teks-teks suci) dengan metode dan pendekatan empiris. Pada saat yang sama para agamawan ceroboh menjadikan persepsi dogmatisnya sebagai dasar untuk menolak fakta natural yang dipersepsi secara empiris oleh kaum saintis. Akibat dari dua paradigma yang saling menafikan ini, terjadilah polemik dan sengketa yang seolah tak terselesaikan.

Yang mungkin perlu dilakukan adalah memperjelas esensi agama agar dapat mengambil definisi yang utuh agar dapat dibedah dasar epistemologinya sebelum disikapi dengan afirmasi dan negasi. Sains pun demikian.(*)

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
alterntif text
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler