Connect with us
alterntif text

Kolom

Opini; Urgensi Filsafat Pendidikan

Published

on

ilustrasi (gambar: silontong)

Penulis: Ade Mulyono

Pendidikan merupakan satu tema yang menarik untuk dibicarakan. Salah satu daya tarik dari pendidikan yang tak pernah basi untuk dibicarakan ulang ialah persoalan-persoalan di dalamnya. Di Indonesia persoalan pendidikan sepertinya tidak pernah habis untuk dibicarakan terus menerus. Terlepas dari pro-kontranya dalam menanggapi persoalan tertentu, bagi pendukung pedagogi kritis (critical pedagogy) hal itu dilakukan dengan niat yang luhur: memajukan pendidikan, dan memastikan pendidikan dapat diakses lapisan masyarakat. Seperti persoalan pendidikan dewasa ini yang menarik untuk kembali dibicarakan ialah alpanya praksis filsafat pendidikan dalam menghadapi perubahan sosial. Pertanyaan penting yang muncul adalah: apakah pendidikan hanya akan mengekor pada perubahan arus sosial yang diringkus globalisasi? Atau pendidikanlah yang akan mendikte perubahan arus sosial tersebut?

Pertanyaan kritis tersebut tentu hanya bisa dijawab jika praktik-praktik pendidikan mengedarkan ide atau gagasan filsafat dari para filsuf pendidikan. Ringkasnya, mengaplikasikan ide-ide filosofis ke dalam masalah pendidikan. Yang terjadi dalam sistem pendidikan kontemporer justru sebaliknya: pendidikan menihilkan nilai kritis idealis-utopis yang menurutnya tidak fungsional, dan lebih mengutamakan praksis pembelajaran pragmatis-materialis. Di titik ini pendidikan yang diajarkan di kelas-kelas menjadi kering dan tak bermakna. Karena landasan pendidikan yang seharusnya berangkat dari nilai etis-humanis berubah menjadi teknis-pragmatis.

Artinya ada persoalan serius dalam sistem pendidikan di Indonesia yang mengikuti ideologi pasar. Di mana peserta didik diajarkan keterampilan untuk memenuhi hasrat dunia industri dan pabrik belaka. Praktik-praktik dalam pendidikan inilah dalam bahasa Habermasian disebut pengetahuan teknis-praktis. Dampak yang dihasilkan dari paradigma pendidikan pragmatis seperti ini telah membuat satu pemikiran baru di masyarakat bahwa anak-anak bersekolah untuk mendapatkan pekerjaan layak. Itulah bahasa publik tentang pendidikan kontemporer hari ini yang pragmatis. Di mana dimensi ekonomi-pasar telah masuk ke wilayah pendidikan. Maka tidak heran jika ada sindiran pedas dari Agus Nuryatno (2014); civitas akademika lebih fasih berbicara efisiensi, efektivitas, profit, produk, TQM, pasar kerja, dan lainnya yang berasal dari domain ekonomi, daripada berbicara tentang keadilan, penderitaan, demokrasi, multikulturalisme, dan solidaritas kemanusiaan.

Oleh karena itu, filsafat pendidikan menjadi penting dalam praksis pendidikan. Karena filsafat pendidikan dapat dijadikan pegangan dalam menghadapi tatanan perubahan sosial. Namun, jika praktik-praktik pendidikan yang selama ini diajarkan di sekolah abai dari cara berpikir filsafati dan tunduk pada mekanisme pasar, maka pendidikan hanya akan mereproduksi kelas sosial yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Itu terjadi karena ideologi kompetisi sebagai konsensus dari mekanisme pasar bebas dijadikan pedoman dalam menjalankan praktik-praktik pendidikan.

alterntif text

Di bawah komando Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim persoalan itu tercermin dari kebijakan yang dibuatnya: kampus merdeka. Esensi dari kampus merdeka hanya menyiapkan mahasiswa supaya fit and proper dengan dunia kerja. Juga belum lama ini pemerintah (kemendikbud) mewacanakan hendak memperpanjang masa belajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi empat tahun dan setara dengan Diploma Tiga (D3). Indikasinya jelas untuk memenuhi dunia pasar. Jadi pendidikan semacam itu hanya akan melahirkan peserta didik bermental pegawai.

Dengan demikian, dalam menghadapi persoalan pendidikan seperti ini filsafat pendidikan menjadi urgent. Yakni perlunya merawat dan mengembangkan tradisi berpikir filsafati (filosofis) melalui medium pendidikan. Dengan cara itu pedagogi critical subjectivity (kemampuan untuk melihat dunia dan sekitarnya secara kritis) dapat dihasilkan. Meminjam argumentasi Agus Nuryatno (2014) mengingat pentingnya filsafat pendidikan dalam kaitannya dengan persoalan pendidikan itu sendiri. Menurutnya, pendidikan itu berkaitan dengan dunia ide dan dunia aktivitas praktis; ide-ide yang baik akan punya implikasi baik pula terhadap praktik-praktik pendidikan. Sebaliknya, praktik-praktik pendidikan yang baik akan juga berimplikasi yang baik pula terhadap ide-ide pendidikan.

Bahkan jika dilihat wajah pendidikan yang pucat pasi akibat penyebaran pandemi covid-19, yang menyebabkan terhentinya praktik pembelajaran konvensional (tatap muka), telah mengundang keraguan selama proses pembelajaran jarak jauh. Sebab, persoalan teknis diutamakan, nilai etis disingkirkan. Misalnya, terjadinya tarik-menarik kepentingan apakah pembelajaran konvensional akan di langsung di tengah penyebaran pandemi covid-19 masih mengintai. Bukti kegalauan itu disebabkan kegagalan pemerintah dalam menyelenggarakan proses pembelajaran jarak jauh atau belajar dari rumah (study from home). Pembelajaran peserta didik di rumah masih dianggap kegiatan proses belajar seperti di sekolah. Akibatnya semua terkena dampaknya. Peserta didik dibuat stres, mengingat tidak semua orang tua dan tidak semua peserta didik mempunyai kesetaraan sarana dalam menunjang proses pembelajaran di rumah.

Jadi sekali lagi, filsafat pendidikan perlu diedarkan oleh para pengajar dalam agenda menyebarkan nilai-nilai humanis yang dihasilkan dari praktik-praktik pembelajaran. Upaya itu hanya dapat diwujudkan jika immaterial idealis-utopis diutamakan. Namun, jika pendidikan hanya memandang yang materil teknis-praktis, maka pendidikan hanya akan membuat kekosongan dan kehampaan jiwa peserta didik. Pertanyaan penting dari Neil Postman adalah: “Kehidupan seperti apa yang hendak dihasilkan dari pendidikan?” Tentu kita bisa menduganya jika proposal yang diedarkan dalam praktik-praktik pendidikan pragmatis-teknis seperti sekarang ini, yakni pendidikan hendak mencetak manusia pekerja, bukan pemikir. ***

 

Ade Mulyono. Saat ini fokus pada pendidikan pedagogi kritis (Critical Pedagogy), dan kajian feminisme. Tulisannya tersiar di berbagai media massa. Buku terbarunya “Apologia Pendidikan Kaum Miskin” 2020.

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler