Connect with us
alterntif text

Kolom

Cerpen; Dua Beranak

Published

on

Ket: ilustrasi (gambar: klikdokter)
alterntif text

Penulis : Umi Laila Sari (Forum Lingkar Pena Sumsel, mengelola Rumah Baca Al-Ghazi)

“Ri, bapakmu masuk UGD kemarin sore.” Perempuan ringkih itu berucap pelan. “Ini, Mak  pulang sebentar untuk ambil pakaian.” Matanya sayu menatap lelaki di hadapannya. Meski terlihat setengah sadar, ia yakin lelaki itu menyimak apa yang diucapkannya.

“Kalau kamu mau, bisa jenguk Bapak. Itupun…” Nada suaranya bergetar. Ada isak  yang ditahan. “Itupun hanya boleh melihat dari kaca luar ruangan.” Bahunya berguncang. Nafasnya tersengal. Satu persatu air matanya tumpah. Sementara orang yang diajaknya bicara hanya membisu.

“Tolong maafkan Bapakmu.”

***

Tumpukan atap nipah tersusun hampir setinggi orang berdiri. Ada juga gulungan daun nipah yang belum dianyam. Biasanya seminggu sekali mobil pengangkut  datang untuk mengambil hasil anyaman daun nipah berupa atap.

Seorang lelaki duduk di atas bangku kecil. Tangannya terampil menganyam daun nipah. Untuk satu atap yang berhasil dianyamnya dihargai 50 rupiah. Dalam sehari, ia bisa menganyam 40 sampai 50 atap. Itulah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain sesekali ia mencari ikan di sungai tak jauh dari rumah.

“Pak, tadi pak RT kesini.” Suara istrinya yang pelan. Ikut duduk setelah meletakkan cangkir besar berisi air hangat.

“Mau apa?”

“Emmm…” Agak ragu kalimat selanjutnya diucapkan. “Emmm, katanya Deri buat masalah lagi.”

Beberapa saat hening. Mereka saling tatap dalam pilu. Lagi-lagi  Deri. Anak satu-satunya setelah belasan tahun mereka menikah. Awalnya kenakalan Deri hanyalah keusilan anak lelaki kecil. Bolos sekolah. Mencuri mangga tetangga. Mengganggu teman perempuan. Dan serupanya.

Pak Danu tidak pandai merayu hati Deri. Memilih rotan sebagai bahasa larangan. Setiap satu kenakalan harganya sama dengan pukulan rotan di kaki Deri. “Bapak lakukan ini karena tidak mau kamu jadi orang yang tidak tau aturan.”

Deri kecil selalu menerima hukumannya dengan wajah meringis. Tapi tak sekalipun menangis. Belum juga hilang rasa perih di kakinya, kenalakan lain ia lakukan. Begitu berulang. Hingga Bapaknya tak lagi sekuat dulu memukul. Deri telah terbiasa menikmati pukulan.

“Kalau Bapak belum tau, hari ini aku sudah mencuri ayam jago di desa sebelah.” Santai saja Deri berucap sambil melangkah meninggalkan rumah. Tak ada lagi pukulan rotan sebab Deri sudah bisa menangkis pukulan. Seharusnya ia sudah tamat SMA. Tapi ijazah SD pun  tak ia dapatkan.

“Apa lagi yang diperbuat anak itu?”

“Membobol kantor desa dan mencuri sound system.”

“Itu tindakan kriminal. Tidak bisa dimaafkan.”

“Makanya pak RT ke sini. Dia masih segan dengan Bapak. Katanya, nunggu Bapak kasi izin, dia baru mau lapor polisi.”

Lelaki itu menarik nafas panjang. Tak lagi disahuti omongan istrinya. Matanya tertunduk menatap nipah namun tangannya tak jua digerakkan. Ia merasa hidupnya telah benar-benar hancur. Terlintas untuk meminta mati saja pada Tuhan.

“Uhuuuk… uuhuuk…”

Sejak kemarin ia merasa tidak nyaman dengan badannya. Ketika diraba, badannya terasa panas. Namun ia sering menggigil. Semua persendiannya terasa ngilu. Tulang-belulang tuanya terasa lepas satu persatu.

“Bapak itu kepikiran Deri terus, ya jadinya begini.”

“Gimana gak jadi pikiran. Lah wong itu anak. Gak bisa dihapus. Kalau istri saja ada mantan istri. Tapi kalau anak gak ada mantan anak.”

Istrinya sudah bersikeras membawa pak Danu ke puskesmas atau paling tidak bidan desa. Tapi serupiah uang tak ada di kantong membuat pak Danu tak mau menangung malu jika berobat. Sebenarnya ia tak terlalu paham yang ramai dibicarakan tetangga. Katanya ada virus. Jadi pemerintah melarang orang keluar rumah. Yang ia tau, sejak banyak pembicaraan virus itu, mobil pengangkut atap tidak lagi datang lebih dari sebulan lalu.

alterntif text

“Uhuuuk… uuhuuk…”

Berkali-kali batuk menghentikan tangannya menganyam nipah. Dadanya terasa sesak. Nafasnya jadi tak beraturan. Setiap ingat perbuatan Deri, kepala terasa berdenyut keras. Berputar-putar. Konsentrasi dan penglihatannya menjadi samar bahkan hilang. Ia jatuh ke lorong gelap, panjang, berdenging-denging. Hingga menghempaskan tubuh kurusnya ke dasar lorong.

“Mohon maaf Kaknang, kalau apa yang saya katakan membuat hati Kaknang sedih. Deri semalam ikut mencuri getah lagi. Sepertinya ia tidak kapok digiring ke kantor desa.”

“Murni cerita ke saya kalau Deri sering mengganggunya.  Ia bersama teman-temannya sengaja ngumpul, duduk-duduk di jembatan ujung setiap jam pulang sekolah.”

Deri ngadu ayam. Deri ngutil di toko Atun. Deri malak anak sekolah. Deri… Deri.. Bla… bla.. bla…”

“AAAAHHH”

***

“Biar sekalian dia mati. Mayatnya pun gak perlu ngerepotin orang,” umpat Deri. Ia tersenyum sinis. “Kenapa juga dia gak minta tolong Tuhannya?”

Menurut kabar yang ia dengar, Bapaknya sudah masuk ruang isolasi. Tidak ada orang yang boleh menemui kecuali tenaga medis. Termasuk Emaknya juga diperiksa. Ada ambulance dan mobil dari RS yang datang ke rumah mereka. Beberapa orang menggunakan pakaian serba tertutup. Kata tetangganya, ia pun dicari untuk diperiksa.

“Kalau kamu gak mau dengar omongan Bapak. Kamu bakal jadi sampah!” Setiap mengingat kalimat itu, Deri tidak pernah bisa memaafkan lelaki tersebut. Darahnya mengalir cepat. Tatapannya penuh amarah. Satu-satu tujuan hidupnya hanya ingin membunuh lelaki itu dengan rasa malu dan bersalah.

BRAK!

Kayu penyangga tiang pos ronda patah. Nafas Deri memburu. Tak puas, ia pun melayangkan hantaman ke kayu penyangga satu lagi.

BRAK!

Seng atap pos miring. Tak ada reaksi atas kegaduhan yang ditimbulkan. Hening. Bahkan suara yang terdengar hanya deru nafas yang saling berlomba.

Malam telah melewati setengah perjalanan. Terlihat satu dua saja bintang di langit. Selebihnya kelam. Sejak ada virus yang heboh, jadwal ronda dihapuskan. Tak ada orang-orang yang sekadar duduk ngobrol di pos ronda. Juga di warung-warung.

Udara kian gigil. Angin dini hari meniup lembut tiap mahluk. Menyelimuti raga yang lelah. Namun tidak ada selimut bagi hati yang amarah. Kepulangannya kemarin siang disambut caci maki Bapak yang katanya nasihat agar ia mau bertaubat.

“Kamu tau ridho Allah itu ada pada ridho orang tua. Kamu gak bisa jadi apa-apa kalau bukan karena orang tua.”

“Kenapa gak sekalian Bapak kaplingin surga punya Bapak?”

“Bikin malu orang tua. Nyusahin orang. Gak ada gunanya kamu hidup!”

“Kalau hidup saya gak ada guna. Emang hidup Bapak ada gunanya?”

Dengan gemetar, sebuah telapak tangan sekuat tenaga menghantam wajah Deri. Belum tiba di sasaran, justru tangan itu ditarik oleh sepasang tangan lain.

“Kamu?”

Dua pasang mata saling tatap. Dalam. Ada kilatan yang siap menyambar. Membakar dan menghabiskan semuanya.

“Uuuhuuk…. uuhuuk…” Tubuh kurus itu terduduk. Batuknya menjadi. Deri mendekat. Jongkok berhadapan dengan lelaki yang telah dua puluh satu tahun ia panggil Bapak. “Kalau besok aku bertemu Tuhan, aku ingin meminta keadilan.”

Deri duduk memeluk perih. Tubuhnya tercabik  oleh benci. Nyeri hingga ke tulang belulang. Nafas kini tersengal. Berat dan makin berat. Oksigen tak bersahabat. Ia membuka mulut lebar-lebar menjaring oksigen. Namun tidak bisa. Nafasnya kembali tersengal. Dadanya naik tak kunjung turun.

Ujung kaki Deri mulai disergap dingin. Menggigil. Lalu rasa dingin naik ke tungkai, perut, dada dan mencapai ubun-ubun. Tidak, ia tidak ingin mencari Tuhan. Sebab selalu ada wajah Bapak sebelum sampai wajah Tuhan. Tidak, ia tidak ingin melafal doa. Sebab ada ceramah Bapak yang menyaingi kesyahduan doa.

Sayup suara sirine memasuki jalan desa. Kian dekat, kiat nyaring. Namun seketika suara raungan itu lenyap bersamaan dengan bergegas dua beranak menuju pengadilan Tuhan.

***

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
alterntif text
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler