Connect with us
alterntif text

Kolom

Esai; Berdebat Melawan Tuhan

Published

on

alterntif text

Penulis : Siti Kurniati Rasad

Tuhan…

Hari ini aku ingin mendebat-Mu. Tak akan lagi kututup-tutupi kesesatanku. Pemberontakan terbuka melawan-Mu telah kumulai. Kumulai dari tulisan ini. Tulisan yang sedikit banyak adalah tentang perjalananku menemukan-Mu. Perjalanan yang tak jua teramalkan kapan sampainya. Karena batang hidung-Mu tak juga menampakkan bayangan.

Tuhan… Biarkan aku mengeluhkan segala yang ingin kukeluhkan kepada-Mu detik ketika aku menulis ini. Ampuni aku. Tenang saja, nanti aku akan kembali pada kepura-puraan menyanjung-Mu…

Tuhan, keluhanku akan kumulai dari perintahMu sendiri. Tentang keharusan menyembah-Mu.

Tuhan… Kerap kali kutanya ibuku dahulu ketika aku masih kanak-kanak. Jiwaku yang saat itu penuh dengan banyak pertanyaan tentang dunia menanyakan juga perihal-Mu kepada ibuku yang shalehah tingkat para abid itu.

“Ibu, untuk apa aku menyembah Tuhan?”

“Karena itu kewajiban kita sebagai manusia, anakku”.

“Kenapa kita wajib menyembah Tuhan?”

“Biar masuk syurga dan terhindar dari azab neraka, anakku”.

“Apakah dengan shalat, orang sudah pasti akan masuk syurga dan terhindar dari azab neraka?”

Tak selesai-selesai juga rasa penasaranku, kutanyakan lagi pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang juga tentang-Mu kepada ibuku. Lalu berceritalah ibuku tentang narasi yang katanya tertulis di salah satu kitab-Mu. Katanya ketika aku masih di alam rahim ibu dulu, aku telah membuat perjanjian dengan-Mu. Perjanjian yang mengikatku untuk selalu menyembah-Mu hingga akhir hayatku. Karena bersedia berjanji, aku kemudian Engkau biarkan lahir ke dunia. Tumbuh menjadi manusia dan hidup hingga kini.

“Tapi ibu, aku tidak ingat kalau aku pernah membuat perjanjian dengan Tuhan di alam rahim dulu, lantas kenapa aku harus dihukum dengan neraka jika tidak menyembah Tuhan dan ingkar pada kesepakatan dengan Tuhan yang tak ada di ingatanku? Kenapa aku harus layak dihukum karena melanggar janji yang bahkan tak kuingat pernah kubuat?”

Hari-hari selanjutnya, ibuku kubuat gusar dengan pertanyaan-pertanyaanku perihal-Mu. Aku sendiri dibuat kesal oleh penasaran yang tak kunjung beroleh jawaban karena ibuku selalu mengulang narasi yang sama tiap kali aku menanyakan tentang-Mu.

Dibelikannya aku sebuah komik siksa neraka oleh ibuku. Kubaca dari halaman awal hingga akhir. Isinya sangat mengerikan. Ada manusia yang disetrika punggungnya, digergaji lidahnya, dipotong tanggannya, atau ditusuk kelaminnya. Tapi tak juga kurasa kutemukan Engkau. Yang ada hanya ketakutan tiba-tiba pada sesuatu. Entahlah, itu mungkin ketakutan pada-Mu. Bukan. Maksudku, mungkin bukan padamu, tapi ketakutan pada neraka.

Lalu hari-hari setelahnya, aku yang saat itu masih berusia 8 atau 9 tahun disibukkan dengan membuka-buka buku panduan shalat lengkat terbitan Toha Putra Semarang. Setiap hari, yang kulakukan hanya komat-kamit menghapal satu demi satu bacaan shalat. Mulai dari niat shalat hingga doa dan dzikir seusai shalat berhasil kuhapalkan dalam kurung waktu seminggu. Aku shalat Tuhan. Aku sudah shalat sejak umur 8 tahun. Tak seperti adik-adikku yang lain yang harus disuruh dan dipaksa dulu oleh ibuku untuk menghapalkan doa shalat, aku sudah menghapalkan seluruh doa-doa yang harus dirapalkan dalam shalat 5 waktu sejak umur 8 tahun karena dorongan rasa penasaranku sendiri.

Tapi Tuhan… Tak kunjung kutemukan Engkau…

Benar bahwa hari-hari selanjutnya aku merasakan sesuatu yang menenangkan. Aku memiliki tempat mengadukan segala resahku. Pada-Mu aku bercerita tentang kecemasanku tiap kali menyaksikan bapak dan ibuku bertengkar. Kepada-Mu kukisahkan kisah sedihku setiap kali teman-temanku, bahkan keluargaku sendiri mengejek kekurangan fisikku. Kepada-Mu juga aku meminta menang setiap kali aku akan ikut lomba di kecamatan. Dan juga hey, ingatkah Engkau akan benda pertama yang kubeli dengan uangku sendiri? Yah.. Maksudku, uang hasil tabunganku yang berhasil kusisihkan dari uang jajanku setiap hari sekolah. Payung berwarna abu-abu. Berminggu, bahkan berbulan-bulan, bahkan mungkin juga setahun, aku tak begitu ingat, aku menyisihkan uang sambil meminta-minta di hadapan-Mu agar uangku genap 20 ribu rupiah supaya aku bisa membeli payung.

Tapi hari-hari selanjutnya aku mulai bosan pada-Mu. Aku tak merasa menemukan-Mu. Aku merasa hubungan kita sangat transaksional. Aku menyembahmu lalu mendapatkan banyak hal yang kumau dari hasilku merayumu dalam ibadahku.

Kembali seluruh rasa penasaranku perihal-Mu menyerangku. Sekali lagi kutanyakan kepada ibuku. Ibuku kembali kesal. Tak kuat sudah ia menjawab pertanyaanku, dibelikannya aku buku tentang kiamat dan kehidupan setelah kematian. Di usiaku yang masih belia, hanya sekitar 9 tahun, telah akrab aku dengan cerita soal Dajjal, azab kubur, padang mahsyar, dhabbatul ardh, ramalan akan turunnya Isa Al-masih, padang mahsyar, kisah nabi zulkarnain dan Ya’juj Ma’juj, dan tentang kehidupan di surga dan juga neraka.

Indah betul surga-Mu tergambar di buku itu. Para lelaki mendapatkan 72 bidadari yang tidak akan pernah tua. Para perempuan bisa memiliki anak tanpa harus melalui payahnya hamil dan melahirkan. Sungai-sungai ada 7 macam. Segala yang dulu haram kini bisa dimakan oleh penduduk syurga. Tidak akan ada lagi bau toilet yang menyengat, bau kentut, atau bau busuk keringat manusia, karena katanya, segala yang masuk ke tubuh akan keluar kembali sebagai keringat beraroma kasturi. Dan ini bagian yang paling kusuka, para perempuan mengenakan pakaian yang begitu cantik. Ada salon kecantikan yang dalam sekejap mata bisa mewujudkan segala versi kecantikan yang aku mau.

Tuhan, aku begitu tertarik. Aku kembali shalat tanpa bolong. Keinginanku hanya satu. Aku ingin masuk syurga. Di sana, tidak akan ada lagi yang mengejek kekurangan fisikku karena aku akan merubah rambutku menjadi lurus, bibirku menjadi tipis, dan kulitku menjadi putih, bersih, dan mulus.

Tapi Tuhan, keindahan yang tergambar di syurga itu kemudian perlahan terhapus oleh sulit dan kejamnya kehidupan di dunia seiring dengan semakin bertumbuhnya aku menjadi dewasa. Kembali aku disibukkan dengan beragam tanya.

“Tuhan, aku sudah begitu terbebani dengan keras dan sulitnya kehidupan di bumi-Mu, masih dengan tak berperasaan Engkau bebani aku dengan kewajiban menyembah-Mu dan kau ancam aku dengan neraka jika aku tak patuh pada kewajiban itu. Tuhan seperti apa Engkau ini? Engkau pikir, hidup di bumi-Mu sedemikian mudahnya? Yah, mungkin saja mudah bagiMu, karena Engkaulah Tuhan. Engkau bisa membuat segalanya menjadi mudah bagi dirimu sendiri. Tapi aku? Aku ini hanya hamba-Mu yang lemah dan serba terbatas. Tega benar Engkau membuangku ke bumi dan menjalani kehidupan sulit, lalu tetap memaksaku menyembah-Mu?”

“Dan lagi Tuhan, kenapa surga yang kau janjikan terasa begitu menyenangkan bagi para lelaki? Kenapa para wanita hanya akan menjadi istri dari satu lelaki saja sedang para pria bisa memperistri 72 bidadari? Bukankah akan menyenangkan jika kami para wanita juga bisa memiliki 72 pria muda tampan yang mencintai dan setia melayani kami?” (*)

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler