Connect with us
alterntif text

Kolom

Esai; Alam tak Lagi Galau

Published

on

Ilustrasi (gambar: Brilio)
alterntif text

Oleh: Halim da Manik
(pemerhati lingkungan, tinggal di Parepare)

Tanah dan air yang ada di pegunungan menjadi dilema. Sedih dan gembira. Sedih karena harus membunuh. Merusak rumah dan harta benda. Puluhan orang meninggal dunia, hilang, luka-luka, dan rumah rusak.

Akibatnya, ribuan mengungsi. Belum lagi puluhan ribu hektare sawah terendam, sehingga terancam gagal panen. Banjir dan longsor menyebabkan banyak korban. Kerusakan di banyak wilayah. Alam sebenarnya tak ingin melakukannya. Ia ingin terus bersahabat.

Tanah dan air sangat berat untuk mengganggu manusia. Karena pendahulunya begitu sangat sayang dan mengerti. Persisnya, saling mengerti. Pohon-pohon bagi pendahulu manusia diberi amanah untuk menjadi paku bumi. Harus memastikan bahwa tanah di pegunungan harus dipaku oleh pohon agar tak sampai menerjang ke permukiman warga.

Pohon sangat patuh diberi kepercayaan itu. Syaratnya, manusia jangan mengganggunya. Menebangnya tanpa keperluan yang jelas.  Pohon-pohon meminta manusia harus menjaganya. Dari ulah para tangan jahil yang akan mengeruk keuntungan besar dengan cara mengeksploitasi. Untuk kepentingan sendiri atau kelompoknya.

Ikrar tanpa teks itu disepakati. Dari nurani manusia. Dari air, akar, batang dan daun pohon. Dari tanah yang tak pernah merasa dipaku. Bahkan selalu menikmati teduhnya bercengkerama dengan akar-akar pohon.  Kesepakatan itu, tanpa menandatangani memorandum of understanding (MoU). Alam percaya manusia tak akan ingkar janji. Demikian pula sebaliknya.

Tapi, kesepakatan itu buyar. Kini. Di era yang disebut milineal. Sebagian manusia yang bangga menyebut dirinya hidup di zaman now. Tak akrab lagi dengan alam. Sudah saling membenci. Pohon disingkirkan dari pegunungan. Tanah menjadi sangat sepi.

“Jangan pergi wahai sahabatku, pohon yang selalu meneduhkan. Yang memberi ketenteraman,” tanah mencoba mencegah kepergiannya.

“Wahai manusia, mengapa kau sangat kejam memisahkan kami. Kehidupan yang sudah tenteram ini kau rusak. Padahal pohon tempat kami menikmati kasih sayang agar tak menerjangmu,” rintih tanah yang pohon-pohonnya sudah digunduli.

Pohon hanya menangis. Tak mampu berbuat banyak di tengah deru alat berat yang dibawa manusia yang membabatnya. Lalu mengangkutnya ke tempat industri. Mengirimnya sampai ke luar negeri.

Merintih. Tak bisa menerima, mengapa begitu kejinya manusia di zaman ini. Melupakan pesan-pesan bijak nenek moyangnya. Bagaimana bergaul dengan alam dan lingkungan. Merawat dan menjaga, dan kehidupan bersama tercipta. Saling melengkapi.

Pohon dan tanah mencoba bersabar.  Menunggu itikad baik manusia memulihkan keakraban. Memulihkan kepercayaan yang sudah terbangun. Dulu, dengan pendahulunya. Pohon dan tanah berharap manusia mengembalikan kehangatan mereka. Mungkin ada diantara manusia itu yang khilaf.

Tapi itikad itu tak kunjung tiba. Hanya sekadar pemanis mulut. Dari kejauhan, tanah gembira mendengar suara penguasa yang risau dengan kondisi hutan yang gundul. Tapi pada kenyataannya, tak ada langkah untuk mencegah mereka yang tetap mengeksploitasi hutan-hutan lainnya yang belum terjamah sebelumnya. Penguasa tutup mata. Atau mungkin juga bagian dari mereka.

Maka saat hujan dan angin kencang datang, tanah menjadi pasrah dibawa air. Mereka tak lagi galau. Antara bertahan atau berlari. Malah berlari kencang karena marah atas ulah manusia,. Ulah penguasa yang hanya bisa prihatin tanpa berbuat. Padahal ia mampu. Tanah bercampur air menerjang apa saja di depannya. Manusia dan harta bendanya.

Setelah itu, alam kembali bersabar. Manusia bersyukur dan kembali melaksanakan aktivitas. Penguasa dan aparatnya pun segera melakukan monitoring dan evaluasi, mengapa musibah itu terjadi. Evaluasi dari darat, laut dan udara. Memakai teropong.

Saat di teropong, tanah tandus menangis. Mengerang. Tangis yang selalu dilakukan saat para perambah hutan datang membawa peralatan canggihnya.

Dan penguasa, seperti sebelum-sebelumnya, menyebutkan bahwa penyebab bencana karena alam yang dirusak. Lahan di lereng sungai sudah tandus karena penambangan liar. Di aliran dan pinggir sungai, aktivitas penambangan menyebabkan kerusakan lingkungan. Terjadi pendangkalan di bendungan.

Kesimpulannya, supaya tidak terjadi terus menerus, harus dilakukan pengkajian. Karena ini adalah masalah serius. Bencana alam yang terjadi, karena masalah hulu yang sudah kritis. Peradangan berpindah, pengrusakan hutan begitu cepat.

Lagi-lagi, itu sebatas pernyataan. Toh tanah tandus tetap menangis. Tetap  mengerang. Makin marah. Manusia benar-benar hanya bisa berjanji untuk  melestarikan kembali alam. Namun di sisi lain, tak mampu mencegah para penambang-penambang untuk melanjutkan usahanya. Malah memperluas ke wilayah yang masih hijau. Ke daerah di mana tanah dan akar masih bercanda dan tertawa lepas.

Intinya, manusia memperluas kemarahan alam. Kemarahan yang kembali akan merusak kehidupan manusia. Dan saat amuk alam datang, manusia meratapi diri. Baru akan menginstrospeksi diri lagi. Baru akan memahami alam lagi. Mengungsi menjadikan mereka menderita, walau bantuan mengalir. Kalimat prihatin datang dari seluruh negeri. Doa membahana, berduka atas musibah yang menimpa.

Alam turut sedih dengan kondisi itu. Tapi sekaligus protes, mengapa manusia tak mendoakan para perusak lingkungan agar sadar. Tidak lagi melakukan pembabatan hutan dan pegunungan yang asri.

“Sebab bukankah kami menjadi murka karena ulah manusia itu sendiri. Mengapa doa-doa dan upaya pencegahan tidak dilakukan kepada para perusak lingkungan. Malah semakin licin dari pencegahan apapun, termasuk hukum. Jangan salahkan kami bila tidak bisa lagi bersahabat,” alam membatin.

Kemurkaan alam itu tak lagi memilah. Tak memilih siapa atau kelompok yang merusaknya. Menimpa orang-orang yang tidak bersalah atau tidak terlibat dalam kezaliman. Orang-orang yang justru ]gigih bersuara bahwa alam harus dijaga. Turut menjadi korban. Turut menanggung penderitaan dari ulah yang dilakukan orang lain.

Selain alam, mereka juga menjadi korban dari manusia sendiri. Disalahkan, mengapa tinggal di kawasan yang rawan. Rawan banjir dan rawan longsor. Heran, tentu. Sebab sekian lama hidup di daerah tersebut, tak pernah ada bencana. Longsor dan banjir yang merenggut nyawa.

Bencana baru datang saat lingkungannya dirusak orang lain. Hutan di pegunungan tak lagi hijau. Digersangkan orang-orang yang mengaku dari kota. Telah mendapatkan izin untuk melakukan penebangan pohon.

“Lalu mengapa kami disalahkan,” warga sekitar hutan protes. Tapi hanya dalam hati. Tak berteriak, sebab mereka pikir percuma. Penguasa di daerahnya saja tak melarang. Bahkan menonton. Mungkin juga telah mendapatkan fee atau sedikit isi kantong untuk meningkatkan taraf hidup.

Berharap mengadu ke wakil rakyat atau penguasa daerah, tidak mungkin. Selain butuh biaya ke kota, belum tentu juga aspirasinya didengar, lalu ditindaklanjuti. Paling hanya janji saja. Sama seperti saat berkunjung lima tahun lalu untuk kampanye, berjanji akan memerhatikan apa yang menjadi kebutuhan warga.

Nyatanya, jangankan memerhatikan kebutuhan warga, untuk sekadar datang menyapa saja tidak pernah. Tidak tahu bahwa daerah itu sekarang menjadi gersang. Mungkin baru pura-pura akan kaget lima tahun ke depan. Menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) atau pemilihan legislatif (pileg). Saat kembali datang mengemis suara rakyat.

Rakyat sadar bahwa para calon penguasa dan calon wakil rakyat tersebut datang hanya untuk berjanji tanpa realisasi. Makanya, hanya mendengar saja tanpa berharap akan ada perubahan lima tahun ke depan. Warga di sekitar kawasan hutan dan pegunungan tahu. Saat di kota, saat bertemu pengusaha yang memiliki modal besar, bahasanya akan berbeda. Rakyat kecil akan dilupakan, bahkan akan dijadikan korban.

Pembahasan para calon wakil rakyat dan penguasa  akan seperti ini: memudahkan izin investasi bila nantinya terpilih. Investasi apa saja, termasuk investasi untuk membabat hutan. Pengusaha akan girang, dan turut membantu agar si calon penguasa sukses mewujudkan impiannya.

***

Tanah dan pohon yang mengerang di darat, juga dialami air di laut. Di sekitar perairan. Upaya manusia yang selalu menghalangi jalannya  mengalir, disebutkan sebagai musibah. Saat banjir datang, manusia berupaya mengungsi ke tempat aman.

Tapi sebenarnya, di sana hanya klaim tempat yang aman. Sesungguhnya memang di sanalah tempat manusia bermukim. Dan bukan tempat air.

Bila manusia sadar di mana tempatnya bermukim, air tak akan mengganggunya. Kehidupan masing-masing berjalan normal. Air di laut menjadi sumber kehidupan. Mencari nafkah, mencari ikan atau ingin sekadar berendam. Melepaskan kepenatan dari aktivitas. Air laut akan ikhlas  menerimanya. Menemaninya, dan sesekali menggoda dengan ombak.

Itu yang tak disadari manusia. Bahkan dengan kejamnya menyebut perairan sebagai tempat yang rawan pada musim tertentu. Padahal selama ini, air tetap berada di kehidupannya sendiri. Justru manusia yang datang menjajah. Mengambil hak untuk mengalir. Hak ombak untuk mendekati pantai dihalangi. Caranya, dengan melakukan reklamasi.

Reklamasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan elit yang mempunyai modal. Membikin pabrik, perumahan, tempat olahraga  dan taman bermain. Air di pantai dipaksa untuk berbaur dengan air laut yang lebih dalam. Dipaksa bergaul dengan ikan-ikan besar. Padahal biasanya ikan kecil asyik bercumbu dengannya.

Dan saat ia mencari jalannya, manusia menyebutnya musibah yang harus  ditanggulangi. Air pantai heran, kok manusia menyebutnya banjir. Padahal  sesungguhnya, air hanya ingin mengalir di tempatnya. Manusia saja yang menghalanginya dengan menimbun, lalu membuat bangunan sesuai keinginannya.

Air meradang. Pasti. Sebab dinilai pengganggu kehidupan manusia. Padahal tetap menjalani kehidupannya sama dari dulu sampai sekarang. Bedanya, saat ini mencari tempatnya yang hilang. “Ini bukan banjir atau musibah. Kami hanya mengalir di tempat yang telah ditentukan.  Kalau manusia telah mencaploknya, mengapa tidak sadar bahwa ini salahnya. Mengambil paksa hak air untuk mengalir seperti biasa.”

Maka air protes keras. Caranya, meluap ke daratan yang disebut manusia banjir rob. Korbannya, lagi-lagi manusia yang tak mengerti dan tak tahu apa-apa. Bukan ulahnya, hanya turut menikmati atau mendukung. Dengan cara  menjadi karyawan pabrik atau diperintahkan mengawasi perumahan pengusaha di eks reklamasi. Perumahan yang mungkin dinilai representatif untuk menyimpan pacar atau istri simpanan.

(***)

Eksploitasi alam tak berhenti disitu. Atas nama peningkatan kesejahteraan, hutan-hutan yang masih produktif disulap menjadi lahan pertanian. Pohon-pohon ditebang. Anehnya, lahan produktif disebut sebagai lahan tidur. Padahal, tanah dan pohon di hutan itu tak tidur. Ia selalu terbangun untuk menjaga agar kehidupan berjalan sesuai porsinya masing-masing.

Pohon di hutan tak pernah mengira. Atas nama peningkatan kesejahteraan manusia, mereka jadi korban. Dibabat. Dan lahan pertanian pun dibuat. Penguasa dan pengusaha menjadi bangga. Menyebutnya keberhasilan menuju swasembada pangan. Tak pernah memperhitungkan bahwa di tempat itu ada yang menderita. Tanah menjadi sengsara, sebab dipaksa beradaptasi dengan tanaman pertanian yang membuatnya tak lagi gembur. Pohon-pohon besar yang biasa bersamanya telah hilang. Sudah dijadikan kayu bakar dan meubel.

Negara menggunakan kekuasannya. Melibatkan beberapa pihak mewujudkan program dengan anggaran tak sedikit. Anggaran dikucurkan untuk pembangunan pertanian. Yang sebenarnya untuk merusak alam.

Rakyat yang sudah menjadi bagian dari alam di daerah itu, juga tak bisa berbuat banyak. Sebab program dilaksanakan penguasa bersama perangkatnya yang bertangan besi. Bila protes, dinilai tidak mendukung pembangunan.

Karena tak bisa beraksi langsung, mencoba mencurahkan hati melalui media sosial. Berharap ada tanggapan dari berbagai kalangan. Biar menjadi viral. Namun harapan itu bukannya terwujud. Malah menjadi musibah baru. Dinilai menyebar hoaks atau berita bohong. Dianggap menyebar kebencian.

Ujungnya, dipanggil pihak berwajib. Diperiksa. Dijadikan tersangka, lalu disidang dan divonis penjara. Sejumlah orang menilai kriminalisasi. Tapi toh, penegak hukum tetap melaksanakan aturan, karena disebutkan ada bukti.

Protes pun berhenti sampai disitu.. Eksploitasi alam terus dilakukan. Upaya pencegahan tak bisa dilakukan. Sangat berliku, dan hanya akan menjadi korban. Makanya, alam menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Cara yang disebut manusia sebagai musibah. Padahal sesungguhnya, memberi pesan untuk introspeksi.

Instrospeksi bahwa pengelolaan alam yang benar sesuai kebutuhan akan memberikan kelanjutan dan kelangsungan hidup generasi ke generasi. Manusia tidak sadar bahwa ia tak bisa terlepas dari ketergantungan alam dalam hidup sejak dulu. Tapi malah berbuat sesuatu yang berdampak pada rusaknya keseimbangan alam.

Hutan, selain pohon, juga bermukim berbagai jenis binatang yang mempunyai cara hidup sendiri. Punya aturan sendiri. Hutan tetap rumah yang tenteram, walaupun harus berjuang dari buasnya beberapa predator. Tetap gembira di tengah kewaspadaan, dimangsa binatang lain. Begitulah, toh kehidupan tetap berjalan di sana.

Namun setelah rumah mereka dirobohkan, binatang tak tahu hendak ke mana. Dengan terpaksa, ia memberontak. Melakukan perlawanan atas haknya yang dirampas. Binatang menerkam siapa saja. Baik anak-anak maupun yang telah dewasa.

Gajah mengamuk, ular menelan manusia. Semua dilakukan dengan sadar. Manusia ketakutan, meminta pemerintah turun tangan mengatasinya. Binatang yang berkeliaran di permukiman warga sudah dalam tahap awas. Kejadian luar biasa.

Masih juga tak sadar bahwa binatang tetap hidup di kawasannya. Hanya saja alamnya yang sudah berbeda. Dulu rimbun dengan pepohonan, kini dipadati rumah penduduk dan pabrik, plus rumah karyawan. Pimpinan pabrik, tentu tak tinggal disitu. Ia sudah paham risikonya. Makanya, memilih tempat tinggal yang elit, dijaga petugas keamanan 24 jam.

Sehingga yang berhadapan dengan binatang buas adalah masyarakat kecil yang bekerja di pabrik. Masyarakat yang digaji seadanya, tanpa dilindungi asuransi kesehatan atau jaminan hari tua. Bila bernasib sial, dimangsa binatang. Pengusaha berduka cita. Memberi santunan seadanya.

Intinya, tetap juga tak menyadari bahwa alam dan penghuninya menjadi kejam. Membunuh, merusak rumah dan harta benda untuk menyadarkan manusia dari keserakahan. Untuk memberi pelajaran bahwa alam harus dijaga. Hidup bersama dalam kedamaian, tanpa saling mengganggu. Alam ingin manusia memikirkan generasi mendatang, generasi yang akan hidup menderita tanpa melestarikan alam saat ini. (*)

alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text
BAGIKAN:

Terpopuler