Connect with us
alterntif text

Kolom

Opini; Membangunkan Potensi Diri

Published

on

Gambar: PxHere

Penulis : Muh Luthfi (Jakfi Parepare)

Dikalangan intelektualis, mungkin tidak banyak yang mengetahui arti Fitrah. Padahal Fitrah merupakan kondisi/keadaan tertentu dalam diri manusia sebagai pendorong dalam menjalani arus kehidupannya, yang dimana senantiasa mengantarkan derajat manusia ke yang lebih tinggi. Tapi dikalangan kita sendiri sebagai manusia tidak menyadari hal itu, mungkin sudah diartikan kebiasan atau wajarwajar saja bagi manusia itu sendiri. Namuni persoalannya bukan disitu, tetapi pertanyaanya dari mana kondisi dan kenapa ada kondisi semacam itu dalam diri manusia?? Kondisi semacam itulahh merupakan fitrah manusia sendiri. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan fitrah itu ? Bagaimana membuktikan keberadaan bahwa memang dalam diri manusia terdapat fitrah ?

Dalam aktifitas kehidupan (saat setelah dilahirkan). Dalam artian masih dalam kondisi bayi yang masih merengek mencari puting susu dan lain-lain. Kondisi itu masih diartikan sebagai insting. Lantas posisi fitrah manusia di mana? Sebelum itu, kita sedikit menyinggung yang dikatakan insting ini. Dikatakan insting karena masih berupa sifat dasar manusia. Sifat dasar seperti makan atau minum dll. Kondisi seperti itu terdapat pula pada hewani. Istilah sederhananya kondisi untuk mempertahankan kehidupan. Tapi seiring dengan berjalan waktu yang dimana menjadikan bayi pula terus mengalami perkembangan, baik dalam fisik maupun dalam pikiran , sering kita dapatkan atau amati bahkan saya sendiri mengalami dimana proses perkembangan bayi itu selalu terdorong untuk mengetahui segala hal yang ada di sekelilingnya. Kita akan bertanya? Dorongan untuk mengetahui itu apa? Apakah dorongan itu dibuat buat ataukah dorongan itu memang dari dalam diri bayi (manusia)? Kalau itu merupakan sesuatu yang dibuat bayi , lantas pertanyaannya apakah bayi pada saat itu mengetahui bahwa ada dorongan untuk mengetahui hal hal itu? Tentu bayi belum memiliki pemahaman tentang itu. Jadi dapat dikata bahwa dorongan itu dari dalam bayi itu dan yang di dalam diri bayi itu merupakan Fitrah nya manusia atau potensi atau kecenderungan manusia itu sendiri , salah satunya mengetahui segala sesuatu.

Permasalahan yang kemudian muncul ketika dikatakan fitrah manusia untuk mengetahui segala sesuatu, apakah ketika rasa ingin mengetahui segala sesuatu bersandarkan pada sebuah kesadaran atau tidak? Misal bayi melihat sesuatu atau kita (pembaca misalnya) kembali mengingat masa kecil kita yang belum banyak mengetahui diluar dari kita, apakah saat itu kita menyadari bahwa yang diluar dari diri kita itu kita ketahui dengan basis kesadaran? Tentu jawabannya dengan basis kesadaran, sadar bahwa ada sesuatu yang diluar dari diri yang ingin diketahui. Karena pada dasarnya manusia tertuntut dengan kesadaran dan kesadaran inilah proses keberpikiran pula terjadi dimana menjadi pembeda manusia dengan makhluk lainnya seperti hewan.

Kesadaran atau sebuah proses keberpikiran yang ada pada manusia perlu juga kita perjelas dan mencoba mengaitkan dengan dunia pendidikan. Karena kita ketahui bahwa pendidikan pun jg mengajarkan ataupun mengusahakan manusia untuk mencapai tingkat kecerdasan.. namun persoalan kemudian melihat fakta fenomena pendidikan sekarang juga banyak problematika yan terjadi. Contoh sederhana, salah seorang pengajar mengatakan “sekarang saya hanya menyuruh pelajar ke kampus cukup dengan membawa laptop. Lidak lagi repot-repot membawa buku atau semacamnya, karena dengan teknologi sekarang, semua sudah bisa dijangkau dengan searching internet, tidak menyusahkan pelajar lagi”.

Artinya apa? Bahwa dalam pendidikan , dimana pengajar berusaha mencerdaskan pelajar dengan prasarana yang dimiliki gedung pendidikan tersebut tapi justru segelintir pengajar yang kita dapatkan malah mengajarkan untuk tidak mencoba menalar dengan mandiri. Karena dalam perihal mencerdaskan tentu berbicara tentang keBerpikiran, nah keberpikiran ini sendiri membutuhkann modal yaitu nalar supaya tidak sekedar menerima tok tanpa menyaring kembali ataupun memverifikasi.

Melihat dari contoh tersebut , sebuah renungan yg saya dapatkan bahwa ketika kita sebagai pelajar hanya diarahkan saja pada sebuah tujuan tanpa sebuah proses usaha berpikir kritis sebagai subtansi dari manusia maka potensi kita untuk mengetahui segala sesuatu dengan proses penalaaran serta kebebasan dalam berpikir tanpa ada tendensi pihak apapun sama saja mengurangi derajat kita sebagai manusia, walaupun tujuan itu sudah didapatkan.

Maka selayaknya kita sebagai pelajar terlebih pengajar menyadari dan membantu membangunkan kembali potensi yang ada dalam diri sebagai manusia. Karena dengan modal nalar yang diberikan mengantarkan manusia pada sebuah Kebenaran sejati dengan didorong oleh rasa ingin tahu.

Wallahu A’lam Bissawab

alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
alterntif text
alterntif text
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler