Connect with us
alterntif text

Kolom

Opini; Kembali Membaca Buku (Alih-Alih Membaca WAG)

Published

on

Penulis: Dina Y Sulaiman

Suatu pagi, saya berangkat ke tempat kerja dengan naik gocar dan menemukan hal menarik ini: ada buku-buku yang diselipkan di kantong belakang kursi depan. Seolah buku-buku itu disediakan khusus untuk penumpang, agar memanfaatkan waktu untuk membaca buki, bukan “membaca” hape melulu.

Ini seperti teguran buat saya. Dan kebetulan, malam sebelumnya, saya, suami, dan Reza berdiskusi panjang soal “kembali membaca buku cetak”. Saat masih SD (homeschooling), Reza sangat gemar membaca. Dia sering tertidur dengan buku berserakan di kasurnya, atau kalau tidur di lantai (gelar kasur), ya buku-buku itu berserakan di lantai.

Bacaannya juga tebal-tebal, seperti serial Harry Potter.

Tapi, saat masuk SMP, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Reza sekolah formal. Sedikit demi sedikit, frekuensi membacanya berkurang. Selain karena sibuk (aktif di OSIS), juga capek. Pulang ke rumah, main hape atau duduk di depan komputer untuk editing video (dia ingin jadi youtuber).

Teorinya, pemakaian hape perlu dibatasi, misalnya, dibuat kesepakatan keluarga, jam sekian sampai jam sekian (terutama malam hari) dilarang pegang hape. Tapi, seringkali saya dan suami juga sangat perlu berkomunikasi via hape di malam hari. Jadi, bagaimana kami bisa melarang anak pegang hape di malam hari, kalau kami juga tetap pegang hape? Kan rumusnya: pendidikan adalah keteladanan. Ortunya dulu lepas hape, baru nyuruh anak lepas hape.

Walhasil, setelah introspeksi diri bersama, kami sepakat untuk sama-sama membatasi penggunaan hape saat Reza ada di rumah dan mendampingi Reza membaca buku lagi. Saya berjanji ikut membaca buku yang dibaca Reza, lalu berdiskusi bersama.

Tahap awal, saya meminta Reza membaca buku “Hidup Ini Keras, Maka Gebuklah”, karya Pakde Prie GS. Awalnya dia ogah-ogahan. Saya tunggui (biar dia serius baca). Eh setelah mulai, malah ketagihan dan besoknya dia lanjut baca sendiri. Saya gimana? Waduh ini yang dilema. Saya sudah janji ikut membaca juga. Janji harus dipenuhi kan. Tapi waktu terbatas; ada banyak bacaan lain yang lebih wajib saya baca.

Eh, apa benar waktu terbatas? Berapa banyak yang saya habiskan membaca komen-komen di WA atau FB? Banyak sekali. Nah, berarti saya perlu berjuang membangun kebiasaan baru. Kata seorang teman, ini seperti membuat “sambungan baru” (neocortex, or something?) di otak, supaya terbentuk refleks baru, yaitu refleks mengambil dan membaca buku, bukan refleks membuka hape. Refleks yang dulu pernah ada, sebelum badai WA dan medsos melanda. (*)

Diterbitkan di Tegas.id atas izin dari penulis (red)

alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
alterntif text
alterntif text
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler