Connect with us
alterntif text

Opini

Opini: Lunturnya Bahasa dan Budaya Daerah

Published

on

Penulis: Muhammad Ramli Rahim

OPINI — Bahasa Bugis dan Budayanya begitu kaya, bukan hanya jatuh yang begitu banyak peristilahannya, dalam panggilan hubungan kekerabatan jauh lebih hebat, bahkan beberapa diantaranya yang belum ada istilahnya dalam bahasa Indonesia.

Ini seharusnya menjadi tugas balai bahasa agar menyempurnakan bahasa Indonesia atau jika perlu menyerap bahasa daerah agar menjadi bahasa Indonesia seperti begitu mudahnya bahasa Asing diserap Bahasa Indonesia.

Masyarakat pun banyak yang sudah meninggalkan istilah-istilah ini, beruntung saya masing menggunakannya ketika memanggil ayah saya dengan sebutan “ambo” tapi anak saya sudah memanggil saya dengan panggilan “ayah”

Harusnya penggunaan panggilan itu menjadi kebanggaan dan budaya lokal yang dikuatkan, sayang sekali memang banyak yang malu ketika dipanggil ambe’ atau indo oleh anaknya.

Berikut sekedar referensi yang mungkin sebagian dari turunan Bugis Makassar juga sudah tak tahu istilahnya.

Panggilan Kekerabatan

Ibu/Induk = Anrong (M), Amma’ (M), Indo’ (B), Emma’ (B)
Ayah = Mangge (M), Ambo (B), Ambe’ (B), Bapa’, Etta (B), Tetta (M)

Anak = Ana’ (BM)
Kakak = Daeng (BM)
Adik = Andi (BM)
Saudara = Saribbattang (M), Suressureng (B)
Sulung = Battoa (BM), Kaminang Toa (M), Ana’ Bunge (B)
Bungsu = Bungko (BM), Kaminang Lolo (M), Paccucung (B Luwu)
Kakek = Dato’ (M), Bapa’ Toa (M), Lato’ (B)
Nenek = Dato’ (M), Amma Toa (M), Nene’ (BM)
Buyut = Nene’ Kolantu (M), Nene Uttu’ (B)
Cucu = Cucu (M), Eppo (B) Cicit = Cucu Kolantu (M), Eppo Uttu’ (B)
Cucunya Cucu = Cucu Pala’ Bangkeng (M), Eppo Sarompeang (B)

Mertua = Matoang (M), Matua (B)
Menantu = Mintu (M), Menettu (B)
Suami = Bura’ne (M), Lakkai (B), Urane (B)
Istri = Baine (M), Turiballaka (M), Bine (B), Hine (B Sinjai), Makkunrai (B), Indo’Ana’ (B), Toribolae (B)
Ipar = Ipara (M), Ipa’ (B)
Keluarga = Kalabine (MB)
Kerabat = Bija (M), Wija (B), Sompung Lolo (B), Siajing (B)
Sepupu = Sampo (M), Sappo (B) Cappo’

Sepupu satu kali = Cikali (BM), Sampo sikali (M), Sapposiseng (B)
Cika’ = bahasa gaul Bugis, kadang juga disingkat Sapposeng / cappo’
Sepupu dua kali = Pindu’ (M), Sampo pinruang (M), Sappokkadua (B)
Sepupu tiga kali = Pinta’ (M), Sampo pintallung (M), Sappokkatellu (B)

Paman dan Bibi = Purina (M)
Paman = Unda (M), Amure (B), Amaure (B), Pua’ (B Luwu)
Tante = Bonda (M), Inaure (B)
Ponakan = Kamanakang (M), Anaure (B)
Sekampung = Sambori’ (M), Sikkampong (B)

Belum ada dalam kamus Bahasa Indonesia

Ada beberapa istilah dalam Bahasa Bugis Makassar yang saya tidak tahu persisnya dalam bahasa Indonesia.
1. LAGO (BM) = SELLALENG (B) = menantunya mertua yang lain / sesama menantu Misalnya :
A menikah dengan B,
C menikah dengan D
B dan C bersaudara
maka A dan D adalah LAGO

2. Suressureng Bali Salo’ (B) = Saribbattang Limbang Binanga (M) Secara bahasa artinya : Saudara Seberang Sungai Misalnya :
A (pria) dan B (wanita) menikah lalu melahirkan anak C, setelah itu bercerai
X (pria) dan Y (wanita) menikah lalu melahirkan anak Z, setelah itu bercerai
Lalu A dan Y menikah,
atau B dan X menikah
Maka C dan Z disebut Suressureng Bali Salo’ (B) Saudara jenis ini termasuk bukan mahram (boleh menikah)

3. Siteppa Teppangeng (B) = Bija Sirenrengang (M)
Secara bahasa Siteppa-Teppangeng (Bugis) artinya saling menimpa, atau mendarat di tempat yang sama.
Sedangkan Bija Sirenrengan (Makassar) artinya Kerabat Berkaitan / Kerabat Sepegangan Tangan Yaitu semua hubungan kekerabatan yang terjadi akibat terjadinya pernikahan.(*)

alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
alterntif text
alterntif text
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler