Connect with us
alterntif text

Opini

Opini: Spiritualitas Gerakan Al-Husain

Published

on

Ilustrasi (gambar: ahlulbaitindonesia.or.id)

Penulis : A.M.Safwan (RausyanFikr)

Sejarah Al Husain cucu Nabi Muhammad Saw memiliki banyak dimensi spiritual. Al Husain berkata;” Hendaklah orang-orang mukmin benar-benar menyenangi perjumpaan (dengan) Allah”

Gerakan Al Husain dengan dimensi tersebut berarti bahwa gerakannya diarahkannya pada perjumpaan dengan Allah (liqa Allah) sebagaimana dalam ungkapan sufi tentang perjalanan ruhani menuju liqa” Allah

Gerakan untuk perjumpaan dengan Allah artinya gerakannya dibentuk atas dasar cinta. Dalam gerakan cinta orientasinya bukan kenikmatan, bukan dirinya tetapi yang dicintainya.

Menurut Jawadi Amuli, agar zikrullah menjadi hidup maka kita harus melepaskan kesukaan kita, dan inilah pokok dari jihad adalah melawan hawa nafsu.

Agar Nama-Nama Allah terjaga dalam hati kita melalui zikrullah berarti kita memerlukan pengorbanan harta dan jiwa. Dengan demikian syarat pengorbanan harta dan jiwa adalah melepaskan ikatan hawa nafsu kita. Oleh karena tentu tidak mungkin kita mampu melepaskan harta dan jiwa kita kalau kita masih bertumpu pada hawa nafsu (ego kita)

Gerakan Al Husain di Karbala dalam peristiwa Asyura (10 Muharram) menanggalkan semua kepentingan diri dan duniawinya, tanpa pasukan, tanpa massa. tanpa dukungan logistik. Apa yang dicari Al Husain dalam gerakannya? Bukan kekuasaan, bukan dukungan massa, bukan popularitas, bukan harta.

Semua itu dilepaskan oleh Al Husain. Yang dicari adalah rida Allah berupa terlepasnya orang-orang tertindas dari penindasan, bahwa orang tidak boleh menzalimi orang lain. Al Husain berkata: “lebih baik saya mati daripada hidup bersama para penindas.

Akhirnya, spiritualitas gerakan Al Husain adalah melepaskan orang dari kezaliman. Yang mampu melepaskan orang dari kezaliman adalah orang yang telah melepaskan kezaliman atas diri mereka sendiri (hawa nafsu).

Gerakan pensucian diri adalah gerakan fundamental untuk melawan kezaliman manusia atas manusia.
Kezaliman pertama adalah kezaliman seorang manusia terhadap dirinya yaitu menindas dirinya dengan hawa nafsu.

Dari Karbala kita belajar bagaimana kesederhanaan (kezuhudan) sebuah gerakan. Karena gerakan Al Husain adalah gerakan pembebasan manusia terhadap hawa nafsunya sebagai sumber eksploitasi manusia atas manusia lain.

Maka yang menonjol dan hakiki dalam gerakannya adalah spiritualitas, bukan kekuasaan material atas harta dan dukungan massa, bukan merebut dan merampas kekuasaan. Al Husain hanya berkata: Jangan zalim, jangan menindas manusia atas nama kekuasaan apalagi dengan bertopeng agama.

HIKMAH:
Sungguh penting setiap gerakan senantiasa optimis karena tujuannya adalah perjumpaan dengan Allah. Alasan material dan kekuasaan bukanlah penghalang sebuah gerakan. (*)

alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
alterntif text
alterntif text
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler