Connect with us
alterntif text

Opini

Opini: Pendidik dan Pendidikan Karakter

Published

on

alterntif text

Penulis: Imam Nur Suharno/Kepala HRD dan Personalia Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

(Opini Media Indonesia, 02 August 2019)

OPINI — PENDIDIKAN karakter ialah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya.

Itu yang dijelaskan Thomas Lickona dalam Pendidikan Karakter Berbasis Alquran karya Bambang Q-Anees dan Adang Hambali. Hal itu bisa terwujud jika pelaku perubahan (pendidik) itu sendiri berkarakter. Mustahil dapat mewujudkan pendidikan karakter jika para pendidiknya tidak berkarakter.

Jika ingin mengajak siswa berubah, pendidik mesti percaya bahwa perubahan itu terjadi dalam diri pendidik terlebih dahulu. Pada hakikatnya, pendidikan karakter ialah sebuah proses terus-menerus berdasarkan sebuah nilai yang secara moral dapat dipertanggungjawabkan (Doni Koesoema A dalam bukunya Pendidik Karakter di Zaman Keblinger). Doni juga menyebutkan prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi dalam pengembangan diri seorang guru (pendidik) sebagai pendidik karakter.

Pertama, menghidupi visi dan inspirasi pribadi. Salah satu tantangan guru sebagai pendidik karakter dalam sebuah masyarakat yang ditandai dengan jungkir balik tatanan nilai ialah menghidupi visi dan inspirasi yang menjadi jiwa bagi kinerja profesionalnya.

Kedua, nemo dat quod non habet. Tidak seorang pun memberikan dari apa yang tidak dimilikinya. Inilah prinsip kedua bagi perkembangan profesional guru sebagai pendidik karakter. Hakikat pekerjaan guru yang lebih banyak memberi ini lama-kelamaan membuat guru kehabisan materi, energi, dan kreativitas. Pengajaran bisa menjadi menjemukan, guru masuk dalam jebakan rutinitas, dan kegiatan mengajar menjadi tidak menggairahkan.

Ketiga, verba movent exempla trahunt. Kata-kata itu menggerakkan, tapi keteladanan lebih memikat. Guru menjadi agen pembawa nilai bukan terutama melalui kata-kata, melainkan melalui keteladanan. Inilah prinsip dasar pendidikan karakter. Guru harus menjadi orang pertama yang mesti memberikan keteladanan.

Keempat, kritis menera nilai. Melalui perilaku dan tindakannya guru menegaskan dan merefleksikan nilai-nilai yang menjadi bagian hidupnya. Cermat mengkritisi perubahan tatanan nilai, menyaring, dan menerapkan nilai-nilai baru dengan cara mengintegrasikannya pada dunia pendidikan merupakan conditio sine qua non keberadaan guru sebagai pendidik karakter.

Kelima, relasi interpersonal-kontekstual. Pendidikan karakter berkaitan dengan bagaimana nilai-nilai moral itu menjadi jiwa yang menghidupi sebuah komunitas. Dalam artian, setiap individu yang terlibat dalam dunia pendidikan ialah pendidik karakter bagi yang lain.

Keenam, integritas moral pendidik. Sebagai seorang profesional, guru semestinya mengedepankan kepentingan orang-orang yang dilayaninya. Integritas moral seorang profesional pertama-tama ditentukan pembelaannya dan pelayanannya, terutama demi kepentingan publik.

Karakter pendidik

Pendidik yang diharapkan dapat mewujudkan pendidikan karakter ialah yang memiliki 10 karakter sebagai pribadi yang tangguh dan unggul, sebagai bekal dalam menjalankan tugasnya melahirkan siswa yang berkarakter.

Pertama, salimul aqidah (bersih akidahnya). Pendidik yang memiliki akidah yang bersih akan mempersembahkan semua yang ada dalam dirinya (potensinya) akan dikerahkan dalam rangka untuk pengabdian kepada Allah semata, termasuk dalam hal mendidik siswa.

Kedua, sahihul ibadah (benar ibadahnya). Pendidik yang benar ibadahnya ialah pendidik yang dalam menjalankan seluruh aktivitasnya, termasuk dalam mendidik siswa sebagai sarana untuk ibadah kepada-Nya. Karenanya, pendidik akan selalu berupaya untuk mewujudkan siswa yang berkarakter, selain melalui upaya manusiswi, juga membangun hubungan yang kuat dengan-Nya melalui ibadah.

Ketiga, matinul khuluq (kukuh akhlaknya). Pendidik yang memiliki akhlak mulia ialah pendidik yang selalu menjadikan Nabi sebagai teladan dalam hidupnya sehingga pendidik layak menjadi teladan bagi siswanya. Pendidik yang dapat digugu dan ditiru, adanya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan.

Keempat, qawiyyul jismi (kuat jasmaninya). Dalam menjalankan tugasnya, pendidik harus didukung dengan badan yang sehat dan kuat sehingga pendidik mampu tampil dengan energik dalam mendidik.

Kelima, mutsaqqaful fikri (intelek dalam berfikir). Pendidik yang berkarakter ialah pendidik yang mau belajar dan belajar serta mengajarkannya sehingga ilmunya bermanfaat.

Keenam, mujahidun linafsihi (kuat melawan hawa nafsu). Di antara karakter pendidik yang berkarakter ialah pendidik yang dapat mengendalikan hawa nafsu dan emosinya, bukan pendidik yang malah memperturuti nafsunya dengan sering marah-marah.

Ketujuh, harisun ala waqtihi (sungguh-sungguh menjaga waktunya). Kemampuan memanfaatkan waktu ialah tanda sebagai pendidik yang produktif. Ia akan kerahkan waktunya untuk hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan anak didik.

Kedelapan, munadzdzamun fi syu’unihi (teratur dalam semua urusan). Keteraturan dalam segala hal ialah karakter yang harus melekat dalam diri seorang pendidik yang dibuktikan dengan kerapian administrasi pengajaran.

Kesembilan, qadirun alal kasbi (mampu berusaha sendiri). Pendidik yang berkarakter ialah pendidik yang mampu hidup mandiri, bukan menjadi beban orang lain.

Kesepuluh, nafiun lighairihi (bermanfaat bagi orang lain). Jelas, pendidik harus selalu dapat memberikan manfaat kepada orang lain, khususnya kepada siswa. Pendidik akan selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain, termasuk kepada siswa.

Pilar pendidikan karakter

Selain tersedianya pendidik (guru) yang berkarakter, untuk mewujudkan pendidikan yang berkarakter agar terbangun secara kukuh hendaknya ditopang dengan paling tidak tiga pilar utama dalam pendidikan karakter.

Pertama, pendekatan pembiasaan. Pembiasaan menjadi roh (jiwa) dalam pendidikan karakter. Pepatah Arab mengatakan man syabba ‘ala syai’in, syaaba ‘alaihi (barang siapa yang membiasakan sesuatu di waktu mudanya, ia akan terbiasa melakukannya di masa tuanya).

Sang pendidik karakter sejati (Nabi Muhammad SAW) menegaskan melalui sabdanya, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk salat ketika umurnya telah mencapai tujuh tahun, pukullah mereka (jika tidak mau salat) jika telah berumur 10 tahun. Dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR Abu Dawud).

Kedua, kasih sayang. Islam sangat menekankan pola pendidikan lemah lembut dan kasih sayang. Melalui pendekatan kasih sayang, siswa akan dengan mudah diarahkan dan dibentuk karakternya, sebagaimana ditegaskan dalam QS Ali Imran ayat 159.

Ketiga, keteladanan. Keteladanan itu sesuatu yang prinsipiel dalam pendidikan. Tanpanya proses pendidikan ibarat jasad tanpa ruh. Naluri mencontoh merupakan satu naluri yang kuat dan berakar dalam diri manusia.

Jika pendidik dan pendidikan karakter ini dapat diwujudkan dalam proses pendidikan di negeri ini, akan dapat menguatkan pendidikan karakter, melahirkan siswa berkarakter, dan bangsa yang berkarakter. Semoga.(*)

alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
alterntif text
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler