Connect with us
alterntif text

Nasional

Mengapa Trump Ingin Memiting Ayatullah Khamenei?

Published

on

Sumber Foto: inews.id
alterntif text

Oleh: Ihwanul Kiram Mashuri/Pemimpin Redaksi Republika 2005-2010, Penulis Buku “ISIS: Jihad atau Petualangan”, Pemerhati Timur Tengah

(REPUBLIKA.CO.ID)

Jarak Amerika Serikat (AS) dengan Iran–dihitung secara garis lurus antara pusat geografis kedua negara–11.665 km (kilometer). Sedangkan bila ditempuh dengan maskapai penerbangan, misalnya, dengan kecepatan rata-rata 900 km per jam, akan dibutuhkan waktu 12 jam 57 menit. Jika dengan kecepatan 500 km per jam akan perlu waktu tempuh 23 jam 19 menit.

Artinya, jarak AS dengan Iran sangat jauh, melintasi lautan, samudra, bahkan benua. Namun, mengapa Presiden AS Donald Trump ingin memiting pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei dan Presiden Hassan Rouhani? Adakah AS mempunyai kepentingan langsung dengan Iran? Misalnya kekhawatiran rudal Iran bisa menjangkau wilayah Amerika?

Memiting, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna mengapit atau menjepit dengan kaki atau lengan. Dalam dunia gulat, apitan atau jepitan itu tidak akan dilepaskan seorang pegulat hingga lawannya menyatakan menyerah kalah.

Upaya Presiden Trump memiting Iran dimulai pada 2018, setahun setelah ia bersinggasana di Gedung Putih. Yakni, ketika ia secara sepihak memutuskan menarik diri dari penjanjian nuklir Iran.

Perjanjian yang dikenal dengan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) disepakati pada masa Presiden Barack Obama pada 2015, antara Iran dengan Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, dan Cina.

Konsekuensi dari perjanjian itu adalah pencabutan sanksi-sanksi terhadap Iran, dengan catatan negara itu tidak boleh mengembangkan senjata nuklir, dengan pengawasan PBB.

Namun, Presiden Trump tampaknya tak puas dengan pernjanjian yang telah ditandatangani pendahulunya itu. Ia menilai, perjanjian itu bukanlah pitingan kuat untuk melemahkan, dan apalagi, melumpuhkan Iran. Sebaliknya, ia menganggap Iran kini justru makin kuat.

Dengan pembatalan secara sepihak penjanjian itu, berikut sanksi-sanksi baru AS terhadap Iran, maka secara praktis akan memaksa negara-negara lain turut mengembargo negara Imam Khamenei tersebut. Bila ada ‘negara lain’ yang mbalelo, maka mereka juga akan kena sanksi dari Trump.

Pembatalan perjanjian nuklir Iran itu pun diikuti dengan penambahan kekuatan militer AS di Timur Tengah. Tujuannya, antara lain untuk mengawasi gerak-gerik Iran dan negara-negara lain yang masih menjalin kerja sama dengannya. Namun, Iran tentu bukan negara cemen yang gampang tunduk kepada kemauan pihak lain, kendati itu Amerika, yang dianggap banyak pihak sebagai sheriff dunia. Ia punya harga diri, kehormatan, dan kedaulatan sebagai negara merdeka.

Itu sebabnya Iran tidak segan-segan menembak jatuh drone militer AS dengan rudal darat-udara pada 20 Juni lalu. Pesawat tanpa awak itu merupakan drone pengintai militer AS bernama Global Hawk, yang mampu terbang hingga ketinggian 18.300 meter. Perang kata-kata pun terjadi. Pihak AS menyatakan drone itu terbang di atas perairan internasional. Iran menegaskan, drone itu telah melanggar wilayah udara mereka.

Presiden Trump pun memerintahkan serangan balasan terhadap beberapa sasaran militer Iran. Namun, ia membatalkan perintahnya itu 10 menit sebelum serangan dilancarkan. Ia mengatakan, jumlah korban jiwa yang diakibatkan serangan itu akan tidak sebanding dengan penembakan drone militer AS oleh Iran.

Meskipun serangan balasan batal, Trump mengingatkan agar para pemimpin Iran tidak main-main dengan AS. Ia menyatakan bila konflik dua negara terjadi, maka akan jatuh korban jiwa yang sangat banyak di pihak Iran.

Lalu mengapa Trump ingin memiting Iran? Pertama, banyak pihak menghubungkan perseteruan abadi AS-Iran dengan Revolusi Islam Iran pada 1979. Pada waktu itu, menyusul kemenangan revolusi yang dipimpin Ayatullah Khomeini, Kedubes AS di Teheran pun diduduki oleh para demonstran dan para diplomat disandera.

Pendudukan Kedubes AS itu berlangsung hingga 444 hari dan tercatat sebagai krisis penyanderaan terlama dalam sejarah. Setelah para sandera dibebaskan, Kedubes AS dialihfungsikan sebagai museum.

Hingga kini, setiap rakyat Iran memperingati kemenangan revolusi, ada yang tidak berubah: ketidaksukaan mereka terhadap AS, meskipun yang bersinggasana di Gedung Putih silih berganti. “Matilah Kau, Amerika”, “Enyahlah Amerika dan Zionis Israel ke neraka”, dan nada-nada kebencian lain kepada dua negara itu terus mereka teriakkan. Perseteruan dengan Amerika seolah tak beranjak dari tahun 1979.

Sebelum kemenangan revolusi, saat Shah Reza Pahlevi masih berkuasa, ribuan orang Amerika dan Yahudi bekerja di Iran. Mereka mendapat berbagai keistimewaan dan bahkan kekebalan diplomatik. Mereka membawa kehidupan model Barat ke Iran atau westernisasi.

Hal ini tentu tidak masalah bagi Shah dan keluarganya yang sekuler. Namun, gaya hidup seperti ini tentu saja berbenturan dengan nilai dan identitas mayoritas warga Iran yang menganut Islam Syiah.

Kondisi seperti itulah yang kemudian membangkitkan perlawanan terhadap rezim Shah Reza. Para demonstran bukan hanya melawan rezim Shah, tapi juga menyasar Kedubes AS. Mereka menganggap kedubes itu telah dijadikan sarang mata-mata Barat dan alat mengontrol Iran. Setelah Revolusi Islam Iran menang, dendam kesumat antara kedua negara terus terpendam hingga kini.

Kedua, upaya Trump terus memiting Iran sebagai bentuk membela kepentingan para sekutu utama AS di Timur Tengah. Terutama Arab Saudi dan Israel. Bagi Saudi, kemenangan Revolusi Islam Iran dianggap telah membangkitkan semangat Islam politik di Timur Tengah.

Antara lain kemenangan FIS (Front Islamique du Salut/al-Jabhah al-Islamiyah li al-Inqadh/Front Penyelamatan Islam) di Aljazair pada 1991, yang kemudian dibatalkan militer. Lalu munculnya Hamas di Palestina, gerakan Islam Hasan al-Turabi di Sudan, kemenangan AKP (Adalet ve Kalkınma Partisi/Partai Keadilan dan Pembangunan) di Turki pimpinan Presiden Erdogan.

Juga kemenangan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang kemudian mengantarkan almarhum Muhammad Mursi menjadi presiden, sebelum digulingkan oleh militer.

Kebangkitan Islam politik ini dipandang sangat membahayakan negara-negara monarki di kawasan Teluk, terutama Arab Saudi. Itu sebabnya Saudi menganggap Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai organisasi terlarang, menyusul keputusan rezim penguasa di Mesir yang mengecap IM sebagai teroris.

Kekhawatiran Saudi terhadap Iran juga lantaran negara ini telah menjelma sebagai kekuatan baru di Timur Tengah. Kekuatan yang dianggap bisa membahayakan kekuasaan negara-negara monarki. Apalagi Iran juga telah menebarkan pengaruhnya di Yaman (Khouthi), Lebanon (Hizbullah), Palestina (Hamas), Suriah, Irak, dan beberapa negara Arab lain. Karena itu, Saudi sangat memerlukan dukungan sekutu kuat seperti AS.

Bagi AS, dukungan itu tentu tidak gratis. Ada imbal-baliknya. Terutama ekonomi, antara lain dalam bentuk pembelian berbagai pesawat tempur, peralatan militer, dan lainnya, oleh Saudi dan negara Arab lain, yang nilainya miliaran dolar. Karena itu pula bisa dipahami bila Trump pun ‘melindungi’ Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman dari tuduhan pembunuhan terhadap Jamal Khashoggi.

Di pihak lain, Israel juga menganggap Iran sebagai musuh utama sekarang ini. Bukan negara-negara Arab. Bahkan, kalau Palestina dianggap musuh, itu bukan Faksi Fatah, tapi Faksi Hamas, yang mereka pandang mewakili Islam politik yang didukung Iran.

Celakanya, Presiden Trump merupakan pendukung utama Israel, melebihi presiden-presiden AS sebelumnya. Kedubes AS pun ia pindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem, Golan milik Suriah ia akui sebagai bagian dari Israel, dan pembangunan pemukiman iligal Yahudi ia anggap sebagai legal.

Dengan latar belakang seperti itu, mustahil pitingan Presiden Trump terhadap Iran akan dilonggarkan, apalagi dilepas. Namun, Iran bukan negara cemen. Mereka akan bereaksi bila dicolek.(*)

 

Sumber : panrita.id dengan izin dari administrator

alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
alterntif text
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler