Connect with us
alterntif text

Opini

Opini: Australia-Makassar dan Para Pelaut Galesong dalam Sejarah Niaga Maritim

Published

on

Perahu Pinisi (foto: Okezone News)

Penulis: Zulkifli Mappasomba

(Tulisan ini adalah hasil simposium Makassar-Northen Australia and Enduring Relationship. Dilaksanakan atas sponsor University of Melbourne dan Rumata Artspace)

Marege sebutan suku aborigin untuk pelaut Makassar dan kata A’rengge’ adalah istilah untuk para nelayan Makassar mencari teripang.

Rupanya aktivitas ini telah berlangsung ratusan tahun, jauh sebelum Indonesia merdeka dan Australia berdaulat ditangan bangsa Eropa. Suku Bugis, Makassar dan Mandar telah terlebih dahulu menjalin hubungan antar dua negara yang berbeda suku dan ras, serta jarak yang berjauhan. Dan itu terjalin sangat baik.

Pembahasannya terkait hubungan relasi antara Aborigin dalam hal ini suku Yonglu dan Makassar, Bugis, Mandar secara umum, namun penulis sedikit menekankan ke Wilayah Galesong salah. Satu daerah bersuku Makassar yang kebanyakan masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan. Dan ditempat itu pula saya dibesarkan dan mengorek banyak cerita tentang aktivitas nelayan Galesong hingga ke Australia Utara.

Galesong adalah salah satu saksi sejarah maritim dunia. Tidak hanya dikenal karena kisah heroik Karaeng Galesong dan pasukan Tobaraninya, tetapi juga gemarnya mereka mengarungi laut lepas lintas benua. Terletak dibagian selatan dan berjarak sekitar 40 km dari arah Kota Makassar. Wilayah Galesong adalah wilyah pesisir pantai membentang dari arah utara ke selatan. Dominasi masyarakatnya adalah Nelayan. Sepanjang pantai berjajar jenis perahu layar, kapal tangkap, lambo dan perahu-perahu kecil (lepa-lepa).

Kurung waktu 1600-an hingga Australia berdaulat berbentuk negara yang telah terbatasi zonasi laut, pelaut Galesong sabang tahun menyandarkan kapal phinisi, lambo, dan beragam jenis perahu tangkap diperairan Australia utara.

Umumnya mereka mencari teripang, dan suku aborigin dalam hal ini suku Yonglu menerimanya dengan baik penuh persahabatan. Meskipun dalam catatan sejarah kadang terjadi perselisihan/konflik yang berakibat perkelahian, namun nuansa persahabatanya lebih hangat dan terjalin baik.

Pelaut Makassar datang membawa barang dagangan seperti kretek tembakau, sarung tenun, beras, pisau. Juga mewariskan budaya dan bahasa. Para pelaut Makassar mengajarkan tehnik membuat perahu berbagai ukuran. Tehnik menagkap ikan dan cara membaca arah mata angin dan mengetahui arah berlayar yang berpedoman pada bintang serta musim-musim tangkap.

Unsur budaya Makassar lainnya yang masih tertinggal di wilayah pantai Australia Utara adalah bentuk perahu kecil lepa-lepa dan juga beberapa peralatan untuk mencari biji besi dan cangklong madat dimana orang Aborigin mengisinya dengan tembakau.

Orang Makassar juga cukup meninggalkan kesan di bidang-bidang lain. Hal ini dapat dibuktikan bahwa orang Aborigin menuangkannya dalam bentuk lukisan-lukisan dinding di gua-gua dan kulit pohon asam. Lukisan rumah, perahu, badik, dan orang Makassar terdapat di sekitar Tanah Arnhem. Persahabatan dan kominikasi yang begitu dekat, sehingga serapan bahasa Makassar banyak digunakan oleh suku aborogin.

Penggunaan bahasa Makassar sebagai alat komunikasi antara kedua belah pihak yang juga menimbulkan bahasa yang sama di dalam tata bahasa orang Aborigin. Sebagai contoh adalah dariba, taripang, djama (dari jama, bekerja), wukiri (dari ukiri,menulis), botoru (dari botoro’, berjudi), dan billina (dari bilang, menghitung). Fathul Khair dalam The voyage to marege’. C.C Machnight.

Sejak Autralia terbentuk negara pada 1701. Pada saat itulah pelaut Makassar tidak lagi menyandarkan kapal nelayan mereka diperairan australia.

Aturan kenegaraan menjadikan kedua suku ini telah terpisah, terhenti aktivitas niaga dan hunungan kebudayaan. Entah berapa banyak pelaut Galesong yang telah berlabuh di pantai Utara Australia, menetap berbulan-bulan dalam proses pencarian dan pengolahan teripang.

Cerita-cerita berantai tentang pelaut (paregge’) masih tersisa dalam memori masyarakat Galesong hingga kini. Namun batasan teritorial kedua negara Indonesia-Austalia telah memutuskan sejarah perjalanan maritim.

Using Daeng Rangka adalah orang Makassar terakhir dalam catatan Australia yang mengoperasikan armada penangkap teripangnya di wilayah laut Arnhem pada 1907. Setelah itu, tidak pernah ada lagi pelaut Makassar yang kembali ke Australia.

BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
alterntif text
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler