Connect with us
alterntif text

Opini

Opini; Tentang Kata ‘Kafir’

Published

on

Ilustrasi toleransi (gambar: Lintas Jari)

Penulis : Ahmed Zein Oul Mottaqin

OPINI — Kafir bukan sinonim dari non-muslim. Dalam Qur’an, muslim pun disebut kafir “Kafarna bikum” (Kami mengkafiri/ingkar pada kalian). Karena kafir pada dasarnya adalah “menutup” atau ingkar. Kafir dan kufur berasal dari kata dasar “Kafaro”. Seorang muslim pun bisa kafir karena tak mensyukuri nikmat Allah “Wasykuruli wa latakfurun” >> Dan bersyukurlah padaKu dan janganlah kamu mengkufuri (nikmat)Ku.

Muslim buih di lautan yang kata Nabi diibaratkan “Bal antum yaumidzin katsir wa la kinnakum ghutsaun kaghutais sail” ini memang selalu berbangga dengan mindset post-truth mereka “kafir adalah sinonim non-muslim” sambil melupakan apa itu kafir dalam Qur’an sendiri yang ternyata maknanya beragam berdasar konteks.

Dalam Qur’an, kafir itu ada “kufrun duna kufrin” (muslim yang kufur nikmat & tak taat), “kafir munafiq” (di luar mengaku muslim, di dalam menyembunyikan kekafiran), “kafir bi jahalah” (kafir karena tidak mendapat dakwah islam atau info sepatutnya tentang Islam), “kafir mu’anid” (non-muslim yang menolak dakwah Islam Haq yang sampai pada mereka tanpa memerangi), dan terakhir “kafir harbi” (non-muslim yang menentang dan memerangi Islam).

Dan hanya kafir jenis terakhir yang boleh diperangi. Kafir yang disebut dalam surah Al kafirun adalah jenis kafir mu’anid dimana setelah kaum Quraisy Mekkah tak mampu menolak kebenaran Islam mereka berusaha kompromi dengan Nabi, “Ok kami akan sembah Tuhanmu asal kamu mau gantian menyembah Tuhan kami,”.

Setahu saya NU dalam munas-nya tak menghimbau penghapusan istilah “Kafir” karena itu mustahil. Yang dihimbau adalah penggunaan penyebutan itu pada konteks yang seharusnya, sebagaimana Allah tak mengajarkan pada Nabi Ibrahim untuk menyebut ayahnya yang penyembah berhala (dalam riwayat lain pamannya) dengan panggilan “Hai kafir” tapi dengan sebutan penuh sopan santun “Ya abati” (wahai abahku).

Ini artinya, Islam mengajarkan menyebut “kafir” kepada orang yang walau betul kafir sekalipun ada etikanya, apalagi ini hanya pada non-muslim yang anda tak pernah tahu masuk kategori ahlul kitab atau bukan (Qur’an tak menyebut semua ahlulkitab kafir), atau apakah dia belum terinfokan tentang Islam yang sepatutnya karena orang-orang Islam yang mereka kenal justru hanya sibuk mengkafirkan mereka.

Islam mengajarkan kewajiban sebelum hak. Jika anda belum mengajarkan pada non-muslim tentang Islam yang Haq dan menggambarkan image Islam yang sepatutnya pada mereka, anda tak berhak menyebut mereka “kafir”. Karena bisa jadi andalah penyebab mereka memilih kafir (ingkar), bukan Islamnya. Bisa dibilang mereka kafir dari cara salah kalian dalam berislam, bukan dari Islamnya.

Dalam rekomendasi munas-nya, NU tidak menyinggung hakikat aqidah mereka, mau anda meyakini mereka resmi kafir sekalipun silakan, itu ranah keyakinan. Yang diatur adalah penyebutan gelar sensitif dalam konteks bermuamalah, berbangsa & bernegara, sebagaimana tidak semua Kristen disini berhak memanggil para non-Kristen Indonesia dengan panggilan “Hai domba tersesat” walau mungkin di hati mereka benar meyakini non-Kristen sebagai gembala yang masih tersesat. Inilah yang diatur.

Saya setuju dengan perkataan KH. Imam Aziz, dalam negara demokrasi tidak ada orang kafir, bukan berarti kekafiran itu tidak ada dalam agama, tapi ia tiada dalam negara kita yang menyetarakan semua penganut agama. Dalam kehidupan berbangsa & bernegara, status non-muslim di Indonesia adalah muwathin atau WN yang mempunyai kewajiban dan hak setara sebagaimana WN lainnya.

Tapi ya namanya Takfiri, disuruh berhenti mengkafirkan orang akan jadi masalah besar bagi mereka. Bukan Takfiri namanya jika baik-baik saja jika diminta berhenti mengkafirkan orang. Jangankan pada non-muslim, berhenti mengkafirkan sesama muslim tak sepaham saja akan membuat mereka sakau seperti pecandu kehilangan putau.(*)

BAGIKAN:
Advertisement
Loading...
alterntif text
alterntif text
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler