Connect with us
alterntif text

Opini

Opini; Betulkah Dosen menjadi Ancaman Runtuhnya Idealisme Mahasiswa Hari ini?

Published

on

Penulis : Ardiansyah ( Ketua Umum Himaprodi PGSD Parepare FIP UNM 2018-2019)

OPINI — Sebagai Mahasiswa yang sejatinya adalah masyarakat intelektual, kita sering merasa bimbang ketika ditanya “Kuliah cari ilmu atau nilai?”. Mungkin sewaktu kita berada pada jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA yang kita prioritaskan selama ini adalah hasil yang baik sesuai tuntutan orangtua. Tetapi ketika kita berada pada lingkup mahasiswa yang merupakan masyarakat intelektual calon generasi muda bangsa Indonesia, kita memilih spesifikasi tujuan kehidupan yang kita harapkan menjadi sumber kebahagiaan kita ke masa depan.

Terkait pertanyaan “Kuliah cari ilmu atau nilai?” Ada cerita mahasiswa seperti ini, disimak dengan baik.

Suatu hari di ruang kelas kuliah yang baru saja akan dimulai, pertemuan kuliah perdana yang suasananya masih kaku akan keakraban dosen dan mahasiswa begitupun antar mahasiswa. Tanpa banyak pengantar dosen langsung mengajukan pertanyaan kepada seluruh mahasiswa dalam kelas itu, Kalian semua kuliah untuk dapat ilmu atau nilai yang tinggi? Mendengar pertanyaan ini semua mahasiswa terkejut dan terheran-heran sembari bimbang dan bingung menentukan pilihan, ada yang menjawab ilmu, lalu dosen pun meyakinkan pilihannya tersebut. “Betul yang mencari ilmu, jadi tidak perlu nilai dari saya?” menanggapi pertanyaan itu gemuruh kelas menjawab “nilai tinggi pak”. Dosen langsung menjawab “Semuanya saya kasih nilai A silahkan semuanya keluar, tidak perlu khawatir saya akan beri nilai A di di akhir semester,”ucapnya.

Menyimak kutipan diatas, Mahasiswa hari ini harus sadar substansinya sebagai masyarakat intelektual. Kalau sudah dapat nilai tinggi tanpa ilmu, Apakah kita harus bangga? Sama sekali tidak bahkan kita mestinya malu akan predikat nilai A yang seperti itu. Kejadian seperti ini juga akan mengundang penyimpangan dalam dunia pendidikan, misalnya menyogok dosen. Tidak perlu kita menyangkal akan fakta mahasiswa yang pernah mengemis nilai dengan memberi tentengan kerumah dosen bahkan menyelipkan amplop yang berisi uang dari orangtuanya.

Penyimpangan-penyimpangan seperti ini harus kita basmi dalam dunia pendidikan, mahasiswa yang dulunya adalah pelaku dari penyimpangan itu harus instrospeksi dirinya apakah masih layak dikatakan mahasiswa.

Salah satu dosen saya di PGSD kampus V UNM pernah berkata, “sewaktu kuliah saya dapat 3 nilai C tapi nyatanya saya bisa jadi dosen juga”. Dengan wejangannya itu saya termotivasi untuk fokus menuntut ilmu bukan mencari nilai tinggi, karena nilai tinggi bisa saja direkayasa bisa saja diberi oleh oknum yang belum mumpuni dari segi intelektual, emosional,dan spiritual. Saya mengajak teman mahasiswa agar tetap fokus dalam menuntut ilmu dan tidak mengemis nilai dari dosen.

Beberapa dinamika penyimpangan pendidikan yang terjadi di kampus, mulai dari dosen yang baperan dengan mahasiswanya, dosen yang jarang masuk lantas memberi nilai rendah ke mahasiswa, sampai dosen yang selalu memikirkan keuntungan dari Mahasiswa. Untuk menghilangkan kejadian seperti  ini Saya sadar bahwa yang perlu diperkuat mahasiswa hari ini yaitu jiwa kritis dan menjunjung tinggi idealismenya.

Mahasiswa terkenal dengan idealismenya, rentetan keberhasilan pemuda dan mahasiswa membongkar kejahatan di negara kita itu dengan idealismenya, kita ingat peristiwa 1998 para mahasiswa berhasil merubah sistem pemerintahan orde baru menjadi reformasi itu semua diraih karena kuatnya idealismenya.

Tan Malaka pernah berkata “Keistimewaan terakhir yang dimiliki pemuda adalah Idealismenya”, kita sebagai kaum pemuda intelektual apakah masih punya keistimewaan? Coba tanya ke rumput yang bergoyang. Hehehe.(*)

BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
alterntif text
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler