Connect with us
alterntif text

Opini

Opini; Pendidikan Tidak Jujur

Published

on

Penulis : Fitria Imran (Kader HMI PGSD Parepare)

OPINI — Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur sulit diperbaiki. Kata Moh. Hatta selaku pelaku sejarah yang mendampingi Soekarno dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Pria yang akrab disapa Bung Hatta ini pun mengenyam pendidikan pertama kali di Sekolah Dasar Melayu Fort de Kock. Namun, kemudian pindah ke Europeesche Lagere School (ELS), Padang (Kini SMA Negeri 1 Padang) dan melanjutkan ke Meer Uirgebreid Lagere School (MULO), Padang hingga tahun 1919. Sedangkan, sekolah tingginya sendiri ia lanjutkan ke Sekoah Tinggi Dagang Prins Hendrik School, Batavia.

Perspektif Bung Hatta dalam kutipannya bisa menjadi rujukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang ada di Indonesia sebagai wujud partisipasi kita sebagai kaum intelektual dalam hal ini sebagai mahasiswa yang berada pada bidang pendidikan.

Bung Hatta dalam kutipannya menitikberatkan pada aspek pendidikan dan kejujuran, pendidikan dalam aspek kogintif sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Namun yang kita ketahui dalam pendidikan itu tidak hanya ditinjau dari segi kognitif melainkan ada aspek yang lain yang harus dituntaskan dalam mencapai pendidikan yang komprehensif.

Benjamin S Bloom mengklasifikasikan pendidikan menjadi tiga ranahbyang juga disebut Tripusat Pendidikan yaitu Ranah Kognitif (pengetahuan), Ranah Afektif (Sikap), Ranah Psikomotorik (keterampilan). Teori ini sangat relevan dengan kutipan yang dikatakan oleh Bung Hatta yang menitikberatkan pendidikan dan kejujuran.

 

Pada aspek kognitif atau wawasan pengetahuan sudah sangat banyak referensi atau instrumen yang bisa dilakukan dalam mencapainya, tetapi yang menjadi permasalahan pendidikan di Indonesia itu ada pada aspek Afektif atau sikap para kaum intelektual mulai tahap dasar sampai menjadi output Sumber daya manusia yang diberdayagunakan negara pada saat sekarang ini.

Tripusat pendidikan yang menjadi nyanyian para pendidik di seluruh negeri itu sampai saat ini belum tercapai. Selaku penulis saya membahasakan Tripusat Pendidikan Indah dalam bentuk kata tapi sangat buruk dalam fakta.

Mengapa demikian?

Realita yang terjadi di Negeri kita tercapainya tujuan pendidikan itu masih jauh dari kata kompleks, yang menjadi permasalahan besar yaitu banyaknya output dan insan intelektual yang kurang mengimplementasikan aspek afektif yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber Daya Manusia yang ada di negerei kita ini sangat kompeten dalam segi kognitif tapi aspek afektif atau sikap moral yang dilakukan sehari-hari itu tidaklah mencerminkan sebagai insan inteektual yang menyongsong kemajuan negara melainkan insan intelektual yang menjadi pribadi yang egois.Peserta didik di Indonesia masih banyak yang mengejar angka atau nilai dibandingkan mengejar ilmu pengetahuan.

Terkait dengan hal itu, pendidik dan dan sistem pendidikan dianggap gagal, karena sistem pendidikan di Indonesia sangat mengacu pada penilaian yang berpotensi subjektif atau penilaian yang tidak sesuai.

Dengan berkembangnya kronologi pendidikan pendidikan seperti itu akan relevan dengan perkembangan peserta didik atau insan intelektual yang kurang berintegritas, kita bahasakan dengan istilah PENDIDIKAN TIDAK JUJUR.

Kronologi pendidikan seperti itu yang menjadikan seumber daya manusia di Indonesia tidak berintegritas sehingga melahirkan penjahat cerdas yang berpotensi merusak negara.

Nah, saya selaku penulis menawarkan gagasan tentang Pendidikan Karakter. Aspek Afektif atau moral yang berkaitan dengan kejujuran harus menjadi acuan pertama dalam melaksanakan sistem pendidikan kita, Sehingga para insan intelektual kita akan menjadi Sumber Daya Manusia yang berintegritas dan komprehensif.(*)

alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
alterntif text
alterntif text
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler