Connect with us

Opini

Opini; Fenomena Bahar FPI: Ilmu Tanpa Akhlak, Nasab Tanpa Adab

Published

on

PENULIS : Mohamad Guntur Romli

OPINI — Tak diragukan Bahar FPI memiliki nasab yang baik. Dia berceramah di majelis yang mulia. Ia belajar dari lembaga pendidikan Islam yang bagus. Tapi mengapa ceramahnya penuh dengan caci maki, pelecehan, penghinaan dan kekerasan?

Inilah fenomena yang disebut: ilmu tanpa akhlak dan nasab tanpa adab. Ilmu tanpa akhlak ibarat seorang pencuri. Siapa yang meragukan pencuri punya ilmu? Bahkan ahli. Tapi ilmu dan keahliannya dipergunakan untuk mencuri. Semakin tinggi ilmu dan keahlian pencuri itu, maka ia makin berbahaya.

Nasab tanpa adab ibarat makanan yang secara lahirnya indah tapi rasanya busuk dan rusak. Siapa yang mau memakannya?

Bahar FPI harus berurusan dengan polisi karena ceramahnya. “Kalau ketemu Jokowi kamu buka celananya itu. Jangan-jangan haid Jokowi itu, kayaknya banci itu.” Kata Bahar FPI pada sebuah majelis maulid di Palembang Sumatera Selatan.

Layakkah ucapan ini jadi bahan ceramah di sebuah majelis maulid yang mulia? Bukankah maulid adalah peringatan lahir Nabi Muhammad Saw yang dikenal sebagai “manusia mulia penuh welas asih” bahkan Allah Swt tidak mengurus beliau kecuali (tidak ada yang lain), menjadi rahmat, berkah, kasih sayang pada alam semesta?

Pastilah Bahar FPI hafal betul ayat “wa maa arsalnaka illa rahmatan lil alamin” (Tidaklah Kami mengurus engkau [wahai Muhammad] kecuali menjadi rahmat untuk alam semesta). Lantas mengapa lidah Bahar FPI justeru mengumpat, mencela dan menjadi laknat pada perayaan manusia paling mulia yang menjadi rahmat?

Saya tak meragukan Bahar FPI berilmu, tapi yang kita sayangkan minus akhlak di situ. Lagi-lagi kita diingatkan pada hadits Nabi Muhammad Saw yang mengaku bahwa beliau diutus hanya untuk: menyempurnakan akhlak. “Innamaa bu’itstu li utammima makarimal akhlaq” (aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia). Saking pentingnya akhlak, ulama terdahulu memprioritaskan menimba akhlak lebih dulu setiap ilmu. Bahkan waktu untuk mempelajari akhlak lebih banyak daripada mencari ilmu.

Imam Malik Ra pernah berkata:

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Seorang ahli hadits Ibnu Al-Mubarak Ra pernah memberikan pengakuan tentang generasi ulama salaf:

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين عاما.

“Kami mempelajari adab selama 30 tahun, dan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Meskipun beliau ahli hadits yang artinya menguasai hadits-hadits Nabi namun menurut beliau, akhlak paling utama yang dicari!

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من الحديث”

“Kami lebih membutuhkan banyak adab daripada banyaknya hadis”

Tak diragukan pula Bahar FPI memiliki nasab yang mulia. Tapi apa arti nasab yang mulia tanpa adab? Guru saya pernah bilang, memiliki nasab yang mulia lebih dipahami sebagai tanggung jawab untuk menjaga kehormatan nasab daripada membanggakannya. Bukankah kemuliaan itu berdasarkan adab bukan karena nasab?

الشرف بالأدب لا بالنسب

Kemuliaan karena adab bukan karena nasab

Orang bisa dimuliakan karena adabnya, tapi orang yang hanya mengandalkan nasab tapi tidak punya adab tidak akan pernah dimuliakan.

Ini pepatah yang sangat populer di kalangan bangsa Arab.

Ucapan Bahar FPI “Kalau ketemu Jokowi kamu buka celananya itu. Jangan-jangan haid Jokowi itu, kayaknya banci itu” tanpa perlu ilmu yang tinggi dan akhlak yang luas ucapan Bahar FPI ini mencerminkan pelecehan dan penghinaan. Tak usah ke Jokowi yang merupakan pemimpin kita, Presiden Republik Indonesia, kepala negara dan kepala pemerintahan, ucapan Bahar itu tetap menghina kalau pun diarahkan pada orang yang biasa, apalagi pada presiden?

Bagaimana reaksi anda, saat ada yang bilang ke anda “buka celananya!” Kemudian dikaitkan dengan haid. Ini pelecehan seksual terhadap perempuan, haid dipakai untuk merendahkan dan menghina. Apa yang salah dengan haid? Kenapa dipakai untuk menghina? Bukankah kita dan juga Bahar FPI juga lahir dari perempuan yang haid? Menghina haid berarti menghina ibu kita.

Kemudian disebutkan kata “banci”, yang istilah ini negatif di kalangan kita untuk menyebut seseorang pengecut. Tapi banci, yang istilah netalnya waria, bukanlah orang pengecut, banyak dari mereka yang kerja halal dan menampakkan dirinya meski tidak jarang ditolak. Tapi intinya mereka bukan pengecut karena berani menunjukan identitasnya.

Justeru orang pengecut banyak dari kalangan yang menggunakan agama sebagai kedok kejahatan dan makian. Agama dijadikan topeng untuk kelakuan busuk. Merekalah pengecut.

Tapi adakah banci yang haid? Banci berjenis kelamin laki-laki pastinya tidak akan bisa haid. Ucapan Bahar FPI memang ngawur, tapi sepertinya meski ngawur yang penting bagi dia cuma mau memaki dan melecehkan Jokowi.

Kini, Bahar FPI harus berurusan dengan hukum. Kalau polisi nantinya memproses dia merupakan penegakan hukum bukan kriminalisasi. Apalagi disebut kriminalisasi ulama, karena tidak ada ulama yang berkata kasar, menghina dan melecehkan orang lain. Jangankan pada seorang presiden, pada orang biasa pun ulama tidak akan pernah melakukan.(*)

alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Loading...
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler