Connect with us
alterntif text

Opini

Opini; Cekcok Politik Minus Etika 

Published

on

Penulis: Aswar Hasan

OPINI, — Al Kisah, seorang anak TK Al Qur’an sehabis mengaji Magrib Isya pulang sendirian karena lupa dijemput orang tuanya. Di tengah jalan, di bawah pohon beringin, dia dikagekan oleh sesosok makhluk bertubuh besar hitam, rambut awut-awutan dan brewok serta mata merah. Anak itu langsung bergumam ihhh inilah Genderuwo –sebagaimana yang ia dengar selama ini-.
Sebenarnya, anak itu sudah ketakutan dan ingin berlari berteriak minta tolong, namun urung ia lakukan. Tiba-tiba, ia mengingat sepotong doa yang dihafalnya. Maka, mulutnya pun komat kamit membacanya; “ Allahumma bariklana, fiima razaqtanaa waqina adzabannar.
Rupanya, bacaan doa si anak TK itu sangat mujarrab dan mempan. Si Genderuwo, kaget dan takut bukan kepalang, lalu lari kabur tunggang langgang, lintang pukang, sambil berteriak mengumpat; “Sontoloyo…” sudah sekian ribu tahun saya menggoda menakuti manusia, barusan kali ini ada anak kecil yang tidak takut, malah mau memakan saya (rupanya si Genderuwo itu, tahu bahwa doa yang dibaca oleh anak kecil itu adalah doa makan). Heheheh kena Deh. Guyon bernada olokan politik tersebut, beredar di media sosial dan nyangkut di group whatsApp penulis. Tentu, telah saya formulasi ulang tanpa mengabaikan hikmah pesannya.
Diksi politik yang sarat konotasi yang menyudutkan, begitu merona di panggung politik Pilpers 2019. Ada kata Cebong, Kampret, Sontoloyo, Tampang Boyolali, hingga Genderuwo. Pilihan kata tersebut memberi kesan ingin melucu, dengan pilihan kata yang gampang diingat, tapi sekaligus menohok secara mamatikan bagi lawan politik. Jauh dari kesan etika yang memiliki muatan ide dan gagasan mencerdaskan sekaligus membangun harmoni dalam perbedaan politik.
Alangkah indahnya sebuah perbedaan jika dibingkai dengan lima prinsip sebagaimana nasehat Abdullah Bin Ibrahim Ath Thariqi, yaitu pertama, ikhlas dan ittiba’ yaitu melakukannya hanya untuk mencapai ridha Allah dimana kekuasaan hanya menjadi sasaran antara. Apalah artinya segenggam kekuasaan, dibanding semesta ridha ilahi. Kedua, ahliyah (kelayakan) dalam bertindak, sesuai kapasitas, kompetensi, norma dan akhlak, Ketiga, tajarrud, yaitu apakah itu dilakukan dengan senantiasa menjauhkan diri dari kehendak hawa nafsu. Keempat, I’tidal (tidak berlebih-lebihan) dalam menanggapi lawan. Kelima, mengharapkan lawan tidak sebagai musuh, tetapi akhirnya bisa bergabung sebagai kawan yang mendapat hidayah.
Kelima prinsip perbedaan itu, memang sangat ideal dan terasa mustahil di tengah perilaku politik yang cenderung menghalalkan segala cara. Namun, setidaknya itu bukan hal yang mustahil. Wallahu a’lam bishawwabe.(*)

alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
Loading...
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler