Connect with us

Opini

Opini; Hoax Adalah Kita

Published

on

Ilustrasi hoax (gambar: limawaktu)

Penulis : Muhammad Suryadi (Koordinator Gusdurian Barru)

Jalan-jalan menapaki sosial media belakangan ini kita seperti disuguhkan dagelan-dagelan yang sungguh membosankan. Gerlap gerlip sosial media tiba-tiba berubah jadi panggung sandiwara dengan akting Mahamega dengan sutrada yang berkemampuan bak Dewa Amor yang bersenjatakan panah. Tontonan-tontonan kita di sosial media akhir-akhir ini tidak lepas dari Pilpres 2019 dan bencana Gempa dan Tsunami yang menimpa Palu, Donggala dan wilayah kesatuan NKRI lainnya.

Namun, saya tidak akan menukil bencana yang menimpa saudara-saudara kita karena permasalahannya adalah permasalahan manusiawi dan sifatnya sunnatullah. Mau atau tidak, kita harus siap dan sigap kapanpun ia datang. Yang ingin saya ulas sedikit sederhana adalah Pilpres 2019 dan segala hal-hal yang membuat kita bosan dan secuil keunikannya. Membosankannya pada saat netizen sedang asyik-asyiknya berselancar mendayung lintas samudera di lautan media sosial tujuan menemukan hal baru dan menambah wawasan tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali umpatan-umpatan kubu Kampret (baca : oposisi) ke kubu Cebong (Koalisi). Si Cebong membalasnya dengan tindakan hukum disertai klaim-klaim Intoleran, Hate Speech, Makar dan lain-lain semacamnya.

Jagat sosial media kita ditahun 2018 layaknya permainan pertikaian antara Pak De Jokowi bersama aparatur-aparaturnya melawan Om Wowo beserta antek-anteknya. Permainan yang dilakoninya sungguh menarik tapi mengusik nurani dan menggugah rasa kemanusiaan kita. Saling gontok-gontokan di media sosial antara masing-masing kubu tentu membuat netizen geram dan bernafsu mengakhirinya dengan satu tarikan nafas panjang dengan memblok atau menskip pemberitaan-pemberitaan yang berbau satire itu. Tapi Itu bagi mereka (netizen) yang apatis dan pragmatis. Beda halnya dengan mereka yang kritis dengan pemikiran idealis selangit. Karna saya tau diantara 1000 netizen apatis plus pragmatis, 10 diantaranya adalah netizen kritis dan idealis.

Terlepas dari pertikaian-pertikaian sengit dan baku klaim data dan prestasi Petahana dan Penantang, ada yang unik kalau tidak ingin dikatakan geli yakni HOAX diantara keduanya. Seperti yang umum diketahui publik, Hoax adalah suatu atau kumpulan berita dan informasi bohong. Dalam konteks subjek, pelakunya adalah penipu dan objeknya adalah tertipu. Nah, ini dia persoalannya. “Penipu ditipu”. Itu adagium orang-orang lawakan yang seringkali dibunyikan oleh kita atau bahkan mereka yang suka lawakan dan joke. Tapi pertanyaannya, mengapa kita sering ditipu dan mengapa banyak orang suka jadi penipu. Pertanyaan ini barangkali terlihat lucu namun sulit terjawab.

Dalam kaitannya dengan tema jawaban yang akan menguat adalah penipu dan ditipu merupakan unsur fanatisme. Fanatisme terkadang menjadi batu sandungan bagi siapa saja yang ingin menemukan kebenaran. Ia (fanatisme) juga dapat jadi api yang menyulut pertikaian. Akibat lubang kebenaran yang ditutup rapat oleh rasa ketertutupan itu sendiri. Sehingga, fanatisme, apapun yang ia terima akan dianggap sebagai hal yang datang begitu saja tanpa harus dianggap atau ditanggapi. Jawaban yang dikemukakan belum memenuhi standar rasional atau tidak terlepas dari subjektifitas si pengarang tulisan. Minimnya tingkat literasi masyarakat kita adalah jawaban yang paling tepat untuk menelaah pertanyaan terkait penipu dan ditipu itu. Tapi jawaban itu sengaja tidak digunakan penulis agar sedikit banyaknya isi tulisan ini dapat menawarkan perspektif baru dalam kaitannya dengan Hoax.

Syahdan. Hoax seyogyanya tidak cukup substansial untuk dibahas kerana pelbagai hal tentangnya dapat dilerai bagaimana membedakannya dengan berita orisinil. Hanya efek yang ditimbulkan dari eksistensinya telah banyak merusak sendi-sendi kehidupan sosio-politik-kultural. Dalam konteks politik, Hoax tidak akan membawa maslahat bagi sistem demokrasi yang tlah lama didirikan para Founding Father kita.

Malah sebaliknya. Mudharat sana sini. Bahkan segera akan menimbulkan api amarah ditengah iklim masyarakat kita yang semakin panas akibat terpeta-petakan dalam kelompok Cebong dan Kampret yang saling melempar umpatan. Hal ini tentu yang harus dihindari. Baru-baru ini, kita disuguhkan oleh penampilan apik Ratna Sarumpaet dalam memainkan perannya sebagai “pencipta Hoax terbaik” seperti itu ia mengakuinya sendiri. Tidak lama berselang, muncullah Farhat Abbas dengan lagak heroiknya tampil sebagai pembela kebenaran dengan menyeret kasus tersebut ke meja hijau.

Bagi pejuang dari barisan Kampret, tentu 1001 macam strategi akan ditempuh sebagai upaya mengikis image buruk kubu mereka yang diakibatkan Ratna Sarumpaet yang selama ini keliatannya berpamor Islami dan mashum dari dosa-dosa sosial dan dosa-dosan politik. Munculnya Sang Capres Om Wowo usungan Ijtima Ulama Jilid II tampil ke publik dengan permohonan maaf yang besarnya segunung sebagai upaya merehabilitasi elektabilitasnya dihadap publik pendukungnya. Lalu bagaimana sikap gerombolan Cebong ? Bisa ditebak. Ketawa ketiwilah si Cebong tertawa terbahak-bahak sambil mengeluarkan air liur. Sakingnya bahagianya. Blunder yang dilakukan kubu Kampret adalah angin segar bagi mereka (Cebong) untuk semakin melanggengkan klaim sepihak mereka sebagai pemenang 2019 kelak.

Terlebih, Capres junjungan mereka Pak De lagi asyik menghibur para korban bencana di Sulawesi Tengah sana. Mereka mainkanlah kembali peran mereka sebagai pemilik kekuasaan dengan segala kebenaran yang menurutnya mereka miliki dengan mempolisikan para pelaku penyebar Hoax itu. Si Kampret menyerang si Cebong membalasnya dengan tuduhan intoleran. Si kampret menyergap si Cebong menangkap dan memasukkannya ke sel tahanan. Membosankan dan ribetkan perilaku politikus negeri ini!!!

Terlepas dari kesemua itu. Hoax sudah menampilkan kedigdayaannya. Bagaimana ia mampu melululantakkan bangunan-bangunan dan pohon-pohon persatuan kita. Jika dibiarkan kerusakannya tidak hanya bangunan dan pohon-pohonnya saja tapi menenggelamkan rumah kita Indonesia seluruhnya. Hoax bagaimanapun bentuknya tentu harus dilawan. Eskalasi Hoax yang berlebihan akan menyebabkan gaduh berkepanjangan. Apalagi penggunaannya dalam konteks politik Pilpres 2019 pastilah sangat fatal. Menilik sejenak tentang Hoax, sebetulnya Hoax adalah sistem yang dirancang oleh tangan-tangan kekuasaan untuk tujuan kepentingan sesaat. Eskalasinya dapat menciptakan opini publik yang dapat menarik simpati pemilih sebanyaknya-banyaknya. Titik kulminasinya jelas akan mempengaruhi suara pemilih. Terbukti, Pilpres di Amrik mendudukkan Trump pada tampuk kekuasaan berkat perusahaan Big Data yang digembosinya.

Tumbangnya Ahok dalam Pilkada DKI juga berkat Hoax yang disinyalir mendapat dukungan dari Sarachen dan Muslim Cyber Army (MCA). Hoax jika dikaitkan dengan istilah filsafat postmodernisme, ia memiliki kesamaan makna dekonstruksi kepunyaan Derrida. Bahwa menurut Derrida teks adalah sesuatu yang belum tentu bermakna. Karena teks belum bisa dipercayai sebagai cerminan kestabilan makna dalam bahasa sehingga ia (teks) harus di dekonstruksi. Barangkali, Hoax ini menseleksi gagasan dekonstruksi Derrida tapi hanya mengadopsi keambiguan makna kebahasaannya. Hoax jika dianalisis dengan sedikit berpikir keras saja tentu akan ketemu kesimpulannya dimana. Seringnya ia (Hoax) berseliweran dengan berbagai tagar yang disematkan, berita-berita yang disebarkan, bisa dibaca bahwa eksistensinya tidak independen ada mesin-mesin yang menciptakannya. Singkatnya, Hoax adalah usaha tersistematis dan terstruktur. Bahwa keberadaannya sengaja di ciptakan untuk tujuan tertentu. Hoax maujud karena ada wujud. Persis filsafat Causa Prima Aristoteles.

Lalu bagaimana dengan kita, para netizen ? Secara jujur dari pribadi, saya haqqul yakin kita hanya perlu cerdas dalam berselancar di dunia serba sosial media. Kita harus bisa berpikir kritis sambil tersenyum sipu sembari membaca postingan teman lintas daerah. Arus pemberitaan harus sedapat mungkin difilterisasi guna mendapat akurasi berita. Cerdas dalam merujuk media juga perlu diperhatikan guna menangkal jampi-jampi Si empunya perusahaan. Kalau perlu pakai tehnik perbandingan. Jika tidak, kita akan tergeletak lemah tak berdaya karena terpapar Hoax. Mulai dari detik ini hingga detik berikutnya mari berinternet secara baik dan benar. Bijak dan bajik dalam bersosial media akan membawa dampak positif bagi diri sendiri.

Hoax telah sama-sama saya, anda dan kita ketahui dampak bahayanya sehingga seyogyanya harus dilawan. Apapun sosial medianya Hoax harus dilawan jangan tanggung-tanggung. Bagaimanapun isi beritanya Hoax harus dikekang. Kapanpun, Hoax jangan diberi ruang. Dimanapun ia jangan dibiarkan lari tunggang-langgang. Siapapun Capresnya, Hoax harus di tendang. Jika tidak, maka jawabannya bisa dipastikan kita hanya akan jadi bagian dari Hoax selamanya. Mau ? Pilihannya ada pada pemirsa netizen yang ingin bangsa ini progresif dan efektif. Apapun yang kita lakukan sekalipun bersosmed jangan jauh-jauh dari kemanusiaan termasuk melawan Hoax. Karena yang lebih penting dari Hoax adalah kemanusiaan (*)

alterntif text
BAGIKAN:
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler