Connect with us

Opini

Opini; Untukmu, Anak HMI

Published

on

Penulis: Harjuna Kader HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)

TEGAS.ID — Anak HMI, belajarlah dengan baik. Rajin membaca dan perbanyaklah diskusi. Sesekali tuangkan pikiranmu dalam sebuah konsep yang utuh, buatlah artikel dan masukan ke media massa. Agar pikiran liarmu tersalurkan dalam wadah yang tepat. Bukan hanya di medsos yg kebenaranya hanya 10% menurut para Ahli.

Anak HMI, janganlah suka marah-marah, apalagi marah yg tidak Ilmiah. Sebab senang marah adalah perilaku ketidakmatangan dalam berpengetahuan, ciri-ciri orang lemah akal. Miskin sudut pandang. Janganlah marahmu hanya kau tampakan di dunia maya, tapi takut di ruang nyata. Kemarahanmu harus di uji publik.

Anak HMI, jika engkau berbeda bacaan dan pandangan dengan orang lain, sampaikanlah itu secara jagoan. Kritik dia, dan tujukan langsung pada orangnya. Ajaklah dia berdiskusi dalam kolomnya. Jangan sembunyi, seakan-akan lagi marah. Padahal marahnya seakan-akan. Namun, jika engkau takut berargumentasi, simpanlah kembali marah-marahmu itu, perbanyak lagi membaca. Sebab Ilmu dan Pengetahuan tak sesempit apa yang kamu fikirkan. Marahmu akan semakin ilmiah, jika otakmu berbobot.

Anak HMI, belajarlah utk terbuka, jangan tertutup dan merasa paling benar. Jika engkau sudah menyumbat pikiranmu dengan frasa dia salah dan saya paling benar, maka sama saja engkau tidak pernah meresapi doktrin KeHMIan “Bebas, Merdeka dan Terbuka” atau mungkin, teks NDP tak pernah engkau baca sama sekali. Sehingga dikau seperti hewan yg kehilangan habitatnya. Terasing dari kerumunan. Tertutup dan cepat puas diri.

Anak HMI, jika engkau baru belajar berdialektika, maka perbanyaklah bertanya dan mencari, bukan mencukupi dirimu dengan bacaan yg bisa saja engkau sendiri tidak memahaminya. Engkau menisbatkan diri sebagai paling benar, tapi tak pandai menunjukan bangunan teoritik yang baik. Terlihat, engkau masih miskin bacaan, namun merasa sudah sangat pandai.

Anak HMI, jika dirimu masih panas-panasnya belajar di kampus, jangan dulu mencari “musuh”, apalagi musuh intelektual yang tak pernah engkau kenal. Lihatlah dirimu yg masih sangat rapuh. Emosimu juga belum bisa engkau atur. Jangan melompat terlalu jauh, sebab sangat sakit jika jatuh tanpa pegangan.

Anak HMI, belajarlah menjadi bijak, sebab orang yang pandai tak akan gampang berkata kasar. Orang yang mapan ilmunya tak mudah mengeluarkan makian. Sementara engkau, menurutku sangat tidak pandai. Kepandaianmu hanya mengutip dan mengutuk orang-orang yang berbeda. Engkau mudah termakan provokasi arus global. Tanpa paham susunan strategi politik global. Engkau suka berbicara tentang “The War of Blood”, jihad, darah dan surga. Namun lupa, bahwa perang era ini telah menjadi “The War Without Blood”, perang teknologi, pemikiran dan asimetris. Sekali lagi, kemarahan tanpa nalar intelektualmu itu memperlihatkan engkau jarang membaca. Pengetahuanmu sangat lemah.

Anak HMI, perbedaan itu rahmat Tuhan dan Sunnahnya Nabi. Jangan takut dengan perbedaan. Sebab Tuhan tidak “ndeso” untuk melemparkan orang ke neraka hanya karena berbeda pikiran. Namun juga, Tuhan tak mungkin gampang memasukanmu ke Surga, jika kegemaranmu adalah mengkafirkan kelompok lain.

Anak HMI, proses berHMImu masih panjang. Engkau masih sangat “unyu-unyu” pada level pengkaderan. Jangan dulu mati seperti Santoso, sebab tidak mungkin Tuhan akan berpihak kepada golongan yang banyak menyusahkan manusia, menyebar teror dan ketakutan. Surga tidak mungkin akan terbuka untuk para peminum darah manusia. Tapi jika engkau ingin mati seperti Santoso, silahkan. Jadilah Teroris, “berjihadlah” di Suriah atau di Palestina, agar libido “Syahidmu” cepat klimaks. Agar engkau cepat bertemu “tuhanmu”.

Anak HMI, hanya Allah yg tahu, mana yg haq dan bathil. Bukan manusia yang baru belajar membaca. Terlampau lucu jadinya. Bukalah pikiranmu, agar kebenaran tidak tunggal dalam otakmu. Atau jika engkau ingin terbuka, bacalah buku Cak Nur; Islam, doktrin dan peradaban atau Catatan Ahmad Wahib; Pergolakan Pemikiran Islam, agar nalarmu yg eksklusif itu bisa diinklusifkan. Sehingga dirimu tau apa arti pluralitas berAgama serta esensi ajaran Islam yg Rahmatann lil Alamiin. Disitulah posisi kita, Anak HMI. Wallahualam.(*)

 

alterntif text
BAGIKAN:
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler