Connect with us
alterntif text

Opini

Opini: Relawan Adalah Rakyat, Rakyat Belum Tentu Relawan

Published

on

Presiden RI Joko Widodo (foto: Teddy Gusniady)

Oleh : Adi Kurniawan

Mencermati perkembangan demokrasi kita. Indonesia kini semakin memiliki perubahan dalam hal berbicara soal demokrasi. Mulai dari partai politik hingga munculnya kerelawanan.

Partai politik di Indonesia sangat berpengaruh terhadap setiap pemilihan umum. Dimana hampir seluruh rakyat Indonesia sangat mempercayakan penuh nasibnya kepada sebuah partai politik. Dan hal ini, situasi tersebut pernah terjadi sebelumnya saat di era pemerintahan Soekarno (orde lama) hingga pemerintahan Soeharto (orde baru).

Sebelum kita ulas lebih jauh,, agar lebih enak kita membacanya. Sebaiknya kita buka dulu sejarah singkat tentang bagaimana partai politik dan rakyat di tengah pesta demokrasi di masa pemerintahan orde lama dan orde baru.

Jaman Pemerintahan Soekarno (orde lama)

Partai politik di jaman orde lama terbilang cukup banyak. Ada sebanyak 172 partai yang ikut dalam pemilu di jaman itu Diantaranya adalah Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Murba, Partai Masyumi, Nahdatul ulama, Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Katolik dll.

Namun demikian, dari sekian banyak partai yang tersebut. Hanya empat partai seperti PKI, Masyumi, Nahdatul Ulama dan PNI yang paling mendominasi suara rakyat sehingga hanya partai-partai tersebut yang berhasil merebut kursi di parlemen. Berbeda dengan di Jaman orde baru.

Jaman Pemerintahan Soeharto (orde baru)

Nah, di Jaman orde baru ini menemukan babak baru. Meski di tahun 70an peserta pemilu masih di isi oleh banyak parpol. Namun seiring berjalannya waktu Soeharto berhasil memperkecil peran parpol dalam mengisi setiap pesta demokrasi. Dihitung mulai dari sepuluh parpol menjadi tiga parpol diantaranya, Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Meski hanya tiga parpol. Saat itu antusias dari rakyat sangat terbilang besar. Di jaman itu, rakyat sangat aktif sekali dalam menyumbangkan partisipasinya bahkan sampai rela mengorbankan baik waktu, tenaga, nyawa maupun materi demi parpol yang mereka dukung.

Jaman Reformasi

Masuk era reformasi setelah orde baru tumbang. Di jaman ini, jumlah parpol kembali bertambah. Dari ketiga parpol yang bertarung di era orde baru ini pecah. PDI pecah menjadi PDI dan PDI Perjuangan, PPP pecah menjadi PPP dan PKB sedangkan Golkar juga pecah menjadi beberapa parpol diantaranya Demokrat, Nasdem, Gerindra, Hanura dan baru-baru ini ada Partai Berkarya besutan anak dari Soeharto, yaitu Tommy Soeharto. Namun demikian, antusias rakyat terhadap parpol sudah tidak sehebat dulu. Dan sebaliknya, justru hari ini tingkat kepercayaan rakyat terhadap parpol semakin berkurang karena tidak konsistennya parpol dalam memperjuangkan nasib rakyat dan yang lebih fatalnya, parpol-parpol yang muncul di Indonesia ini tidak pernah bisa menciptakan pemimpin baru yang bisa membawa Indonesia ke arah lebih baik justru hanya menciptakan koruptor-koruptor setiap tahunnya.

Gambaran di atas adalah sebuah sejarah singkat soal bagaimana perjalanan demokrasi kita saat ini.

Melihat dari situasi kekinian, ada hal yang sangat menarik untuk kita lihat dan perhatikan. Sejak munculnya Jokowi dalam sebuah kontestasi pertarungan politik. Aura dan semangat rakyat kembali muncul. Dimana rakyat hari ini kembali bergairah dalam menyikapi setiap pemilihan. Namun bedanya, gairah rakyat hari ini bukan ditujukan kepada parpol melainkan kepada seorang tokoh melalui semangat Kerelawanan.

Meski tidak secara menyeluruh rakyat Indonesia ikut berpartisipasi dalam momentum politik. Namun banyak diantaranya rakyat Indonesia ikut dalam sebuah partisipasi tersebut.

Gairah rakyat menguat kembali

Menguatnya gairah rakyat dalam sebuah momentum politik ditunjukan lewat berbagai organisasi kerelawanan dalam mendukung suatu calon pemimpin baik daerah sampai negara. Hal tersebut bisa terlihat dari bagaimana antusiasnya partisipasi rakyat yang mengubah dirinya menjadi relawan. Dan ini muncul saat Jokowi-Ahok maju dalam sebuah kontestasi Pilkada DKI Jakarta. Semangat Kerelawanan itu dibangun karena parpol dianggap sudah tidak bisa lagi mengakar dan menyentuh suara rakyat di tingkat akar rumput.

Dan terbukti dengan semangat Kerelawanan ini bisa membawa Jokowi-Ahok duduk dan menjadi orang Nomor 1 di DKI Jakarta.

Tidak sampai di situ, rupanya Jokowi-Ahok mampu membuat rakyat jatuh cinta dengannya. Di mulai dari kemenangan pilkada itulah akhirnya seluruh relawan Jokowi bersatu padu dan meminta Jokowi maju sebagai calon presiden pada pemilu 2014. Ini sangat menarik lantaran pencalonan tersebut bukan lahir dari partai melainkan atas dasar inisiatif relawan itu sendiri meskipun Jokowi juga masuk sebagai kader dari PDI Perjuangan. Dan beberapa parpol pun akhirnya setuju dan bersepakat mencalonkan Jokowi sebagai calon presiden dengan di dampingi oleh calon wakilnya, yaitu Jusuf Kalla.

Dengan membawa program prioritasnya, TRISAKTI, NAWACITA dan REVOLUSI MENTAL-nya. Akhirnya Jokowi-JK memenangkang pemilu 2014 melawan Prabowo-Hatta.

Melihat hal itu semua, tidak sadar ternyata Jokowi-JK telah memimpin Indonesia ini kurang lebih sudah 3,5 tahun lamanya. Bahkan dua bulan lagi kita semua akan kembali memasuki pilpres 2019. Lalu apa sebenarnya Peran dan Fungsi Relawan?

Hal ini mungkin yang semestinya kita harus sadari dan perlu kita diskusikan bersama. Karena pada prinsipnya, bahwa sebenarnya itu bukan bagaimana soal bagaimana mendukung tetapi juga harus bisa mengawal juga mengkontrol. Tidak semua rakyat Indonesia ini memposisikan dirinya sebagai relawan. Meski relawan itu hadir dari rakyat namun rakyat belum tentu relawan.

Trisakti harus terwujud..
Nawacita harus terwujud..
Dan Revolusi Mental harus tuntas..

Relawan Bersatu…
Galang Kekuatan Rakyat..
Kawal Jokowi Membangun Bangsa dan Negara..

BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
alterntif text
Kolom Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler