alterntif text
Opini

Esai: Belajar dari Sejarah Melawan Tatanan Zalim

Ilustrasi kondisi ekonomi (gambar: tribun jabar - tribunnews.com)

Penulis: Rendy Saputra (Narator Bangsa)

Ketika kita bicara tentang bagaimana menumbuhkan ekonomi negeri, hampir semua sahabat sepakat bahwa hanya dengan industri pengolahanlah negeri ini bisa menghasilkan uang lebih banyak. Hari ini kita hanya menjadi negeri yang menyuplai bahan baku, kita hanya jual komoditas yang harganya sudah dipatok dunia, kita gak mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai tambah. Disini problem utamanya.

Saya berkunjung ke teman-teman pengusaha produsen kosmetik. Dari 100 bahan baku kosmetik, 98 nya impor. Yang lokal dari kita paling minyak kelapa. Tetapi begitu masuk ke bahan minyak fraksional turunan sawit, kita gak bisa produksi. Sawitnya dari kita, diimpor keluar negeri, diolah jadi minyak turunan fraksional, dan kembali masuk ke negeri kita sebagai bahan baku dasar kosmetik. Lumayan lah, pabrik kosmetiknya di negeri ini.

Saya nanya ke dia, apa kita gak bisa buat? Ternyata bisa kok, teknologinya kita punya, professornya bejibun yang bisa mecah turunan produk sawit, tapi gak ada pengusaha swasta yang punya visi mengolah, andai kata adapun, mentok di modal, mentok di regulasi, mentok di ekosistem, harga jualnya pasti kalah murah dibanding produk Malaysia atau China. Tragis.

Kita baru bicara yang sederhana : Sawit. Ditanamnya disini, di lahan kita, ratusan ribu hektar lahan hutan penopang oksigen dibabat habis jadi lahan sawit, petaninya kita, kita cuma sampai nyuplai sawit mentah saja. Paling jauh minyak sawit proses pertama. Begitu masuk ke step teknologi pengolahan lebih rumit, kita serahkan ke asing, kita ekspor murah, dan kita impor mahal. Difikir-fikir ya kita dableg juga, kok gak bisa ngolah.

Kenapa ya kita susah banget shifting ke negara industri…

Kenapa ya.. rasanya pejabat kita sejak orde baru sudah bisa kunjungan studi ke negara maju… apa gak ngerti tentang nilai tambah.. pasti ngerti…

Kenapa ya kok pengusaha kita berhenti sampai jadi pengusaha ekstraktif. Ngejar konsesi lahan tambang, atau lahan produktif, produksi hasil bumi, lalu jual mentah-mentah. Kok gak mau maju selangkah ke industri, kenapa ya?

Ini pertanyaan yang muter-muter di kepala Saya. Salahnya kira-kira dimana? Kenapa kekuatan politik kita juga gak berdaya, sudah ganti presiden berkali-kali… shiftingnya gak kerasa.. kenapa?

Pertanyaan ini akhirnya membawa Saya kepada paparan-paparan sejarah kelam negeri ini, dan akhirnya Saya menyadari… dan benar-benar harus memberanikan diri menuliskan ini semua… bahwa semua yang terjadi pada negeri ini adalah TATANAN DUNIA yang memang di desain sejak lama.

Alamaaaakkk…. perih…

***

Sejarah adalah pembentuk masa kini. Karakter seseorang di hari ini juga dibentuk dari apa yang dialaminya di masa kecil. Jadi sejarah itu membentuk sesuatu. Itu yang Saya yakini.

Kita mundur di tahun 1500an masehi. Eropa kala itu perang pengaruh. Belanda, Portugis, Spanyol, Venesia, Inggris, dan beberapa negara eropa lainnya, sedang bertengkar besar. Perang besar. Rebutan lahan. Rebutan sumber daya.

Lahan jadi sesuatu yang sangat berharga, karena raja-raja zalim mereka menerapkan pajak tanah atas lahan, dibayar pake hasil panen. Mirip Film Robin Hood lah, itu benar-benar reka ulang kegelapan Eropa.

Nah… perang rebutan lahan jadi sesuatu yang penting, siapa yang lahannya besar, maka upetinya besar. Tapi yang terjadi adalah lingkaran setan, guna memenangkan perang, mereka butuh sumber daya uang, sumber daya logistik, dan itu dari pajak tanah.

Karena perang makin tidak pasti, pajak tanah makin susah diambil. Petani gak bisa berladang secara stabil, karena lahan berpindah silih berganti ke pemenang perang. Rakyat merasa tidak ada kepastian : “kami bayar pajak, supaya ksatria bisa perang, tapi kok kalah, ogah ah… ”

Akhirnya kerajaan-kerajaan di Eropa ini mengalihkan sumber pemasukannya ke PERDAGANGAN. Dan cara paling ampuh adalah menguasai jalur perdagangan dan “malakin” yang lewat. Bayar uang lewat. Sederhana. Laut mediterania jadi primadona, karena benar-benar ditengah. Utaranya eropa, selatannya afrika, timurnya asia,… crossing kapal-kapal dagang.

Ada dua kerjaan yang gontok-gontokan, sampai-sampai Paus pada saat itu membagi dunia jadi 2 wilayah. Inilah konsep teranilus yang diyakini, bahwa diluar negara eropa, lahan tanpa kepemimpinan kerajaan eropa adalah tanah kosong yang bisa diakusisi. Mirip teori liberasum nazi.

Singkat cerita, Belanda dan Portugis akhirnya gontok-gontokan disekitar nusantara. Portugis berhasil membangun kekuatan armada lautnya, menguasai malaka, dan akhirnya menahan arus perdagangan nusantara via laut. Demak pun yang basisnya maritim akhirnya turun performa. Kita masuk fase agraris. Mataram selanjutnya.

Nah, Belanda yang tertahan penguasaan laut malaka oleh Portugis akhirnya menemukan jalan baru. Cornelis De Houtman dibisiki jalur rahasia, gak perlu ketemu Portugis di malaka untuk masuk ke daerah tropis yang penuh sumber rempah. Jalur nya out of the box, langsung ambil titik dari afrika paling selatan lalu crossing Samudera Hindia yang akhirnya bisa mendarat di ujung Banten.

Samudera yang ombaknya normal 3 meter dan kalo bergejolak bisa 10 meter lebih ini menjadi jalur uji nyali Cornelis and the gank, untuk mencari lahan dengan sumber daya.

Alhasil, singkat story, dari 4 kapal yang dikirim, kembali 2 kapal, dan setengah awak kapal tewas karena konflik dengan penduduk lokal, ada juga yang wafat di jalan akibat mengerikannya jalur samudera yang ditempuh.

Inilah yang menginspirasi mereka. 2 kapal yang kembali ke Belanda mendapatkan untung 400%. Belanda heboh, Staten General sebagai dewan pemerintahan Belanda mendorong lahirnya kongsi dagang, agar ekspedisi ke “Indianya Belanda” ini bisa full power. Ditenagai modal besar dengan segala infrastrukturnya. Dan gak perlu saling bersaing. Ukhuwahnya duit. TOP. Bersatu mereka.

Akhirnya dibangunlah persekutuan dagang dari 17 pemilik modal besar. Atau de heeren XVII. Lahirlah VOC di tahun 1602. Verenidge Oost Indische Compagnie. Persekutuan dagang India Timur.

VOC ini unik, entah gimana mereka mendesain diri mereka, pemerintah Belanda memberikan hak untuk membangun tentara sendiri, mencetak uang sendiri, melakukan kependudukan, melakukan perjanjian dengan kerajaan-kerjaaan lokal. Perusahaan rasa negara.

Loading...

Semua infrastruktur itu tujuannya sederhana : mencari area pendukung sumber daya untuk Belanda. Mencari sumber bahan baku. Mencari sumber barang yang bisa diperdagangkan mahal di Eropa, sebagai pondasi kekuatan ekonomi Belanda. Dan harus monopolistik, jangan sampe direbut Portugis.

Begitu VOC datang, penetrasinya manis, secara perlahan dibangunlah strategi cantik agar kekayaan alam Indonesia di ekstraksi.

– melobi penguasa lokal agar perdagangan hasil bumi bisa lancar. Sengaja dibangun komunitas elite yang melayani kepentingan VOC. Menjadi tangan menekan pribumi agar mau nurut nanam ini itu untuk VOC. Mirip lah ya. Today. Beda skema aja.

– secara perlahan memonopoli perdagangan. Petani hanya boleh jual ke VOC. Tidak boleh ke yang lain. Harga diatur yang beli. Mirip banget sama hari ini.

– membangun struktur budaya agraris yang pro VOC. Petani yang awalnya bisa menanam apapun, beternak ayam, sapi, memenuhi kebutuhan hidupnya, akhirnya hanya boleh menanam apa yang VOC butuhkan : kopi, tebu, rempah… sisa-sisanya masih ada sampai sekarang. Semua stasiun kereta api di Jawa dekat dengan gudang tebu.

– membangun infrastruktur, jalan yang menghubungkan ujung barat jawa ke timur jawa. Daendels membangun itu untuk memuluskan proses ekstraksi pada negeri. Jadi… bangun infrastruktur itu ternyata niatnya menjajah pada dahulu kala. Jangan dibawa-bawa ke isu sekarang ya.. saya bahasnya Daendels.

– melestarikan strata sosial di peraturan Revling pasal 163 : golongan 1 kulit putih eropa, atau kulit putih yang negara asalnya berhukum ke eropa. Golongan kedua asia timur jauh, dan golongan 3 pribumi yang menjadi pelayan kepentingan VOC. Hmmm.. strata sosialnya terasa sampai sekarang. VOC gak berani taruh Pribumi di golongan kedua karena jumlahnya banyak, kalo sejahtera bahaya, jadi diletakkan di kelas 3. Supaya Gak Berdaya di Negeri Sendiri. Uhuk.

– menjadikan nusantara menjadi basis negara penyuplai bahan baku saja. Gak boleh ngolah. Gak boleh kaya. Dibangunlah budaya di pengusaha nusantara untuk jangan sulit-sulit mikir pengolahan. Cukup dekat dengan penguasa, ekstraksi hasil alam, lalu kirim ke VOC. Done.

Ealahhhhh…..

***

Hmmm, dari 1602, VOC bercokol perlahan, wajar jika Sultan Agung Raja Mataram melakukan penyerangan ke Batavia di 1629. Gak sampai 30 tahun, kerajaan-kerajaan di Nusantara sudah sadar, kalo ada yang tidak beres. Kita sedang dijajah.

Walau VOC bangkrut di 1800, tetapi Belanda bercokol 140an tahun berikutnya, hingga Jepang datang. Semangat si Jepang datang juga mirip-mirip. Walau selesai dalam 3,5 tahun.

Penjajahan dengan topeng perdagangan “memaksa” ini mendarah daging sejak ratusan tahun di negeri ini. Saya rasa keturunan owner VOC yang sekarang mungkin sudah generasi ke tujuh, punya SOP atas apa yang dilakukan moyangnya. Dan para elite pribumi yang jadi kaki tangan VOC nampaknya juga melakukan kaderisasi yang baik hingga hari ini. Karena kok polanya sama : kita cuma bisa jual bahan baku hingga hari ini.

Yang kita bisa pelajari dari tulisan singkat Saya diatas adalah :

1. Jika kita gak berencana untuk negeri kita, maka negeri lain yang berencana untuk diri kita. Kita masuk dalam rencana dan desain orang lain.

Indonesia 1945 merdeka. Bung Karno dan Bung Hatta ngerti banget makna kolonialosme dan impreliasme. Tapi masuk orde baru kita ketemu sejarab lahirnya Penanaman Modal Asing (PMA). Ya mirip-mirip VOC. Atas narasi bahwa kita gak bisa ngolah sumber daya alam sendiri, akhirnya kita bawa kumpeni datang secara elegan, kita jadi karyawan, digaji, entah fair atau nggak, dan mereka ambil hasil alam kita. Silakan berdialektika.

Maka kita harus punya RENCANA sebagai komunal anak negeri. Mikirnya jangan cuma sampai 2019, tapi sampai 2045… sampai 2145 … seperti apa strategi kita sebagai negara.

2. Taqdir sebagai negeri pinggiran penopang bahan baku industri dunia harus kita lawan.

Desain ratusan tahun ini harus kita lawan. Batu bara harus jadi energi untuk pabrik-pabrik pengolahan kita. Bahan mentah harus kkta olah, investasi ke dunia pengolahan harus maksimal. Kita harus berani bikin pabrik pengolahan, harus berani lawan barang impor, dengan melakukan penyediaan dalam negeri. Ilmuwan-ilmuwan pintar yang putus asa sama negeri ini harus dibawa kembali pulang. Untuk membangun Indonesia.

3. Entrepreneurship adalah kunci perlawanan perang tahap tiga.

Perlawanan perang tahap satu adalah kerajaan-kerajaan di Nusantara ini melawan secara sporadik ke VOC yang skalanya negara, solid, dan penuh logistik.

Perlawanan tahap dua adalah perlawanan tokoh muda pergerakan yang melahirkan Indonesia sebagai negeri yang berdaulat secara hukum dan kewilayahan. Tapi untuk ekonomi rasanya belum berdaulat.

Maka di perlawanan tahap 3 ini, kita memutuskan perlawanan pada sektor ekonomi. Pantas saja dana asing tidak ramah pada gerakan filantropi entrepreneurship, karena menghadirkan kelas pengusaha pribumi yang kokoh dan massive adalah musuh kolonialisme. Intinya : jangan sampai yang pinter itu sejahtera. Jangan sampai anak bangsa yang punya hati untuk negeri, jadi kaya, sejahtera, nanti merepotkan kolonialisme dan imprealisme gaya baru.

Menurut Saya ini yang perlu kita sadari. Sejarah kelam bangsa ini seperti arus sungai besar yang harus berani kita belokkan. Harus kita bendung, dan kita belokkan taqdirnya. Atas izin Allah.

Struktur elitenya rasanya masih bercokol.
Desain bahwa negeri ini hanya dijadikan penopang bahan baku juga terasa banget… akhirnya pendapatan perkapita kita mentok tumbuh lamban di 4.000 dollar per tahun, sementara Malaysia tetangga sudah di 14.000 dollar. Sedih.

Kita harus berani membangun kekuatan sosial : mengubah arus keberterusan sejarah sebagai bangsa jajahan.

Kita gak bisa muter-muter di edukasi bisnis dan penguatan kompetensi pengusaha saja. Phelps gak akan bisa berenang di kolam OLI. Atlet sehebat apapun gak akan bisa main bola di lapangan penuh radiasi nuklir. Gak cukup bikin pengusaha hebat, kita butuh membangun EKOSISTEM hebat untuk anak negeri.

Nulis begini beresiko besar pada hidup Saya. Tapi jika ini yang bisa Saya lakukan untuk menyadarkan jutaan anak negeri, mungkin harus ada yang mulai berani tekan tombol “penyadaran”.

1602 VOC datang, 1628 untuk pertama kalinya Sultan Agung berani menyerang VOC. Perlu puluhan tahun untuk membangun kesadaran perlawanan. Walau berujung kekalahan.. walau berujung kematian.. bagi Saya SULTAN AGUNG MENANG. Karena dia berani menekan tombol PENYADARAN. (*)

alterntif text
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

Loading...
To Top